Teknik Menulis

7 Perbedaan Artikel Ilmah dan Artikel Populer

.

 Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Saya sering menyebut dua istilah dalam membedakan artikel. Pertama adalah artikel ilmiah murni, kedua adalah artikel ilmiah populer. Yang disebut dengan artikel ilmiah murni adalah karya tulis nonfiksi berbentuk artikel yang ditulis untuk kepentingan akademik atau kepentingan kedinasan. Disebut pula dengan istilah artikel ilmiah. Biar mudah, saya singkat : Aril.

Contoh Aril adalah skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian tindakan sekolah (PTS), naskah untuk jurnal akademik, naskah untuk syarat kenaikan pangkat / jabatan, dan lain sebagainya. Anda bisa membaca contohnya di bagian catatan kaki pertama [i].

Sedangkan artikel ilmiah populer adalah karya tulis nonfiksi berbentuk artikel yang ditulis untuk kepentingan publik atau masyarakat luas. Disebut juga dengan istilah artikel populer. Biar mudah, saya singkat : Arpop.

Contoh Arpop adalah artikel untuk koran, majalah, web, blog, atau buku populer. Anda bisa membaca contohnya di bagian catatan kaki kedua [ii].

Persamaan Aril dan Arpop

Antara Aril dengan Arpop, terdapat beberapa persamaan. Persamaan yang paling fundamental adalah bahwa keduanya sama-sama berasal dari rumpun nonfksi. Artikel ilmiah maupun artikel populer adalah nonfiksi. Maka keduanya terikat oleh logika nonfiksi.

Persamaan kedua, adalah fakta yang obyektif. Karena masuk rumpun nonfiksi, maka artikel harus menyajikan fakta empirik. Bukan hasil imajinasi murni yang tidak nyata, bukan imajinasi yang tidak bisa diterima oleh ilmu pengetahuan.

Perbedaan Aril dan Arpop

Sekarang, mari saya ajak Anda melihat perbedaan dari keduanya.

  • Cara Pembuatan Judul

Cara membuat judul untuk Aril tidak boleh sembarangan. Ada ketentuan atau pedoman untuk membuatnya. Cenderung formal, dan harus menggunakan kalimat baku sesuai PUEBI dan KBBI.

Contoh judul Aril : Dampak Moneter Kebijakan Defisit Anggaran Pemerintah : Peranan Ala Nalar dalam Simulasi Model Makro Ekonomi Indonesia (R. Maryatmo, 2005).

Sedangkan untuk membuat judul Arpop, boleh menggunakan kalimat populer. Tidak ada ketentuan atau standar tertentu. Judul harus dibuat menarik agar membuat penasaran pembaca. Boleh menggunakan kalimat tidak baku.

Contoh judul Arpop : The Power of Kepepet (Jaya Setiabudi, 2008).

  • Sistematika Penulisan

Secara sistematika, penulisan Aril memiliki aturan atau standar baku dan harus sesuai dengan kaidah kebahasaan PUEBI. Tidak boleh menggunakan sistematika yang berbeda dengan ketentuan baku. Jumlah bab, urutan penulisan, metode pembahasan, semua ada ketentuan yang harus dipenuhi.

Pada Arpop, sistematika penulisan tidak ada ketentuan baku. Yang penting logis, sistematis dan mudah dipahami. Arpop tidak harus mengacu pada suatu teknik penulisan tertentu, penulis bebas berekspresi dengan sistematika yang disukainya.

  • Bahasa penulisan

Aril harus menggunakan bahasa baku yang sesuai dengan kaidah PUEBI dan KBBI. Pemilihan kata, pembentukan kalimat, penyusunan paragraf, semua harus sesuai kaidah kebahasaan baku. Tidak boleh menggunakan bahasa tidak baku.

Pada Arpop, boleh menggunakan bahasa populer yang umum ada di tengah masyarakat sesuai segmen pembaca. Penulis bebas menggunakan bahasa sesuai keinginannya, dan tidak terikat dengan kaidah penulisan baku. Ini memudahkan penulis mengekspresikan ide dan pemikirannya.

  • Pemilihan Istilah

Penulisan Aril banyak menggunakan istilah teknis dalam bidang keilmuan masing-masing. Istilah-istilah teknis seperti ini cenderung tidak dimengerti oleh masyarakat umum. Hanya dimengerti oleh mereka yang berada dalam disiplin ilmu yang sama.

Penulisan Arpop, menggunakan istilah populer yang sudah umum dan dipahami masyarakat luas. Jangan menggunakan istilah akademik yang tidak dimengerti khalayak, karena tujuan Arpop adalah untuk kepentingan khalayak luas.

  • Tujuan Penulisan

Aril ditulis untuk memenuhi tugas akhir kuliah di universitas, membuat laporan praktikum / penelitian, memenuhi persyaratan kenaikan pangkat / jabatan pada Aparat Sipil Negara (ASN), menulis untuk jurnal akademik, dan lain sebagainya.

Arpop ditulis untuk memberikan informasi, motivasi, inspirasi, edukasi, atau hiburan kepada masyarakat luas. Penulis sudah menetapkan segmen pembaca yang akan dituju, dan perubahan yang diharapkan terjadi pada pembaca melalui tulisannya.

  • Pembahasan dan Analisis

Aril dibahas dan dianalisa dengan metodologi ilmiah tertentu yang baku. Cara pembahasan, cara menganalisa, cara mengambil kesimpulan, hingga cara penyajian dalam tulisan, semua ada aturan baku yang harus diikuti.

Sedangkan pada Arpop, pembahasan dan analisis dilakukan secara populer. Bisa merujuk kepada kepustakaan dan cara analisa tertentu, namun disampaikan dengan gaya populer yang mudah dipahami masyarakat luas.

  • Isi Tulisan

Aril berisi hasil penelitian yang dibahas, dianalisa dengan metodologi yang jelas, dan disimpulkan. Dengan demikian Aril berisi informasi ilmiah yang akurat.

Sedangkan pada Arpop, isi tulisan bisa berupa apa saja. Bisa pemikiran atau pendapat pribadi, analisa pribadi, pengalaman, perasaan, refleksi, atau berbagai hal yang diangkat dari kehidupan sehari-hari. Tidak harus berbasis penelitian.

Demikianlan beberapa titik perbedaan antara artikel ilmiah dan artikel populer. Tulisan saya ini termasuk artikel populer.

Catatan Kaki


[i] Contoh Artikel Ilmiah

Rehabilitasi Medik Pada Skoliosis

Skoliosis adalah deformitas tulang belakang yang ditandai oleh lengkungan ke lateral dengan atau tanpa rotasi tulang belakang. Skoliosis dapat berupa skoliosis fungsional yang dapat diperbaiki sedangkan skoliosis struktural yang cenderung menetap.

Sekitar 15-20 % dari kasus skoliosis penyebab awalnya tidak diketahui, serta 80% kasus skoliosis struktural mempunyai etiologi idiopatik dan biasanya ditemukan pada anak-anak atau remaja.

Etiologi, onset, prognosis, dan terapi skoliosis dapat bervariasi, namun akibat skoliosis berat yang tidak diterapi akan sama, yaitu nyeri disertai berbagai gangguan dalam keseimbangan, fungsi kardipulmonal, emosional, perilaku, dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Tujuan terapi skoliosis ialah untuk menjaga agar kurvatura yang terjadi tetap terkontrol selama pertumbuhan. Terapi skoliosis dapat berupa observasi; terapi rehabilitasi, yaitu: pemberian modalitas, ortosis/brace, dan latihan; atau terapi invasif seperti operasi.

Peralatan eksternal yang dapat digunakan untuk terapi skoliosis, antara lain gips plaster, brace, atau kombinasi. Tujuan penggunaan alat-alat ini ialah untuk mengoreksi kurvatura skoliosis yang ada atau mempertahankan koreksi yang telah dilakukan oleh terapi operasi.

Penggunaan brace direkomendasikan pada skoliosis dengan kurvatura > 20° pada pasien yang masih dalam masa pertumbuhan dan dengan progresifitas sebesar 5 – 10° dalam periode 6 bulan.

Milwaukee brace atau Cervico Torakal Lumbo Sacral Orthosis (CTLSO) merupakan brace yang memberikan sanggahan pada pelvis dan koreksi dengan deformitas rotatorik secara statik. Indikasi penggunaan Milwaukee Brace meliputi skoliosis tahap awal yang sedang berkembang dan mendekati sudut kurvatura 20°.

Kurvatura yang melebihi 50° bukan merupakan kandidat yang tepat untuk penggunaan Milwaukee Brace. Pemakaian Boston brace paling efektif pada skoliosis dengan puncak kurva di T6 sampai L3.

SpineCor merupakan bentuk ortosis yang fleksibel, dengan tujuan untuk mengurangi hambatan fisik dan meningkatkan tingkat kepatuhan pasien menggunakan ortosis tersebut.

Catatan :

  1. Artikel di atas cuplikan adalah tulisan ilmiah karya Jane Pelealu dkk dari Bagian Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, dengan judul Rehabilitasi Medik Pada Skoliosis, dipublikasikan pada tahun 2014 dalam ejournal.unsrat.ac.id
  2. Diambil sebagian kecil, hanya sekedar untuk contoh pembelajaran.

[ii] Contoh Artikel Populer

Bagaimana Cara Mencegah Skoliosis?

Skoliosis adalah kelainan pada tulang belakang yang bisa mengubah postur tubuh penderitanya. Gejala skoliosis yang paling kentara adalah tulang belakang melengkung sampai membentuk huruf “S” atau “C”.

Skoliosis umumnya mulai terlihat di masa kanak-kanak. Tapi, tak jarang gangguan tulang belakang ini baru muncul saat seseorang sudah dewasa. Penyebab skoliosis bisa karena faktor keturunan, posisi panggul tidak merata, operasi tulang belakang atau sendi, distorsi lutut atau kaki, sampai cedera kepala.

Mengingat penyakit skoliosis bisa menimbulkan rasa tak nyaman, nyeri, sampai masalah pernapasan, pastikan Anda konsultasi ke dokter jika merasa tulang belakang tak normal.

Melansir Medlife, terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari skoliosis, salah satunya deteksi dini. Skrining rutin khusus untuk skoliosis atau masalah kelainan tulang belakang lain bisa dilakukan dengan pemeriksaan tulang perlu sejak bayi lahir sampai anak berusia 15 tahun.

Dengan mengetahui kondisi skoliosis sejak dini, komplikasi kelainan tulang belakang yang bisa merusak jantung sampai paru-paru ini dapat dicegah. Selain itu, pastikan untuk memberikan perawatan komprehensif jika ada penyakit yang menyerang tulang belakang. Infeksi tulang belakang bisa jadi biang skoliosis.

Hal yang tak kalah penting lainnya, hindari kebiasaan mengangkat beban berat dengan satu tangan. Penyakit skoliosis pada anak-anak umumnya bisa dicegah dan risiko komplikasi bisa diminimalkan lewat deteksi dini.

Catatan

  1. Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bagaimana Cara Mencegah Skoliosis?” pada 17 Agustus 2020. Penulis : Mahardini Nur Afifah. Editor : Mahardini Nur Afifah.
  2. Diambil sebagian, hanya untuk kepentingan pembelajaran

 10 kali dilihat

Satu Komentar

  • Fria nella

    Assalaamu’alaikum pak Cah
    Aril dan arpop adalah dua aktivitas yang didalamnya melahirkan tulisan. Ada persamaan dan perbedaan antara keduanya. Persamaan yang paling fundamental adalah sama-sama dalam rumpun non fiksi. Perbedaannya ada 7, diantaranya adalah cara pembuatan judul, bahasa yang dipakai sesuaikan dengan segmen pembaca .
    Terima kasih pak Cah
    Jazakallahu khoir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *