Teknik Menulis

Agar Tulisan Tidak Mengambang – 1

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Salah seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku merasa, bahwa setiap kali menulis, rasanya mengambang. Ia merasa tidak puas dengan hasil tulisannya. “Bagaimana caranya supaya tulisan yang kita buat tidak mengambang?” Demikian pertanyaannya.

Memang tidak mudah mendefinisikan kata mengambang. Namun sebagai penulis, ia merasa bahwa hasil karya tulisnya tidak memuaskan. Tampak ringan dan tidak berbobot. Ia tidak mengerti, mengapa itu terjadi.

Makna “Mengambang”

Pertama kali, saya mencoba memahami terlebih dahulu, apa yang dimaksud dengan tulisan yang “mengambang”. Arti kata mengambang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), antara lain sebagai berikut: ambang, mengambang [meng·am·bang]. Kata Verbia (kata kerja), maksud (1) terapung; terapung-apung; melayang; (2) tidak jelas; tidak mengena (kata kiasan), contoh: ‘kesimpulan yang dibuatnya terlalu mengambang’.

Dari makna kata tersebut, saya menyimpulkan, yang dimaksud dengan tulisan yang mengambang, mengandung empat makna sebagai berikut.

  1. Mengambang karena tulisan tidak berbobot
  2. Mengambang karena tidak jelas tujuannya
  3. Mengambang karena tidak jelas alurnya
  4. Mengambang karena tidak jelas kesimpulannya

Mari saya ajak membahas satu per satu.

Pertama, mengambang karena tulisan tidak berbobot

Ketika sepotong gabus ditaruh di atas permukaan air, maka ia akan mengambang atau terapung. Hal ini karena gabus memiliki berat jenis yang kecil, alias tidak berbobot. Berbeda dengan batu yang jika kita letakkan di atas permukaan air, akan langsung tenggelam, karena berbobot.

Terkadang kita menulis, setelah selesai, lalu kita membaca keseluruhan naskah tersebut, kita merasa tidak mantap. Ada yang kurang pas, atau kurang bobot, atau terasa mengambang.

Hal ini berbeda dengan istilah “tulisan ringan” yang sering digunakan untuk menyebut tulisan pendek untuk renungan atau untuk refleksi. “Tulisan ringan” sebagai refleksi, sering kali tampak berbobot dan berkualitas, meski ditulis secara ringan dan sederhana.

Pertanyaannya, mengapa tulisan bisa mengambang? Karena tidak ada isinya. Tidak memiliki bobot. ‘Berat jenis’nya sangat kecil. Persis seperti kotak kosong tak ada isinya. Mengambang di atas air.

Solusi

Apabila Anda menghadapi kondisi seperti ini, cobalah melakukan proses ‘substantial editing’. Lakukan editing substansi, apakah tulisan Anda ‘ada isinya’. Kadang ada tulisan tampak bagus secara bahasa, namun sesungguhnya tidak ada isinya. Hanya sekedar permainan kata-kata.

Bayangkan suasana begini. Dalam sebuah jamuan makan, ada sebuah bejana bertuliskan sup ayam. Setelah Anda mencoba mengambilnya, ternyata Anda hanya mendapat kuah saja. Tak ada isinya apa-apa. Tak ada daging ayam, tak ada sayuran. Benar-benar hanya kuah. Bisakah dimakan? Bisa. Namun pastinya Anda kecewa.

Jadi, solusi dari poin pertama ini adalah : memberikan isi dalam tulisan Anda. Apa isi dari tulisan? Sangat banyak jenis isi dari sebuah tulisan. Di antara isi tulisan adalah informasi, pesan, motivasi, inspirasi ataupun suasana. Pastikan Anda sudah memberikan isi pada tulisan Anda, sehingga pembaca merasa mendapatkan sesuatu dari tulisan tersebut.

Mungkin tulisan Anda berisi suatu informasi. Dengan cara dan bentuk apapun Anda menulis, itu tidak masalah. Namun pembaca menemukan informasi yang bermanfaat dari tulisan Anda. Nah berarti tulisan Anda sudah berisi, sudah berbobot, karena mengandung informasi yang bermanfaat.

Mungkin tulisan Anda berisi pesan tertentu. Misalnya, Anda menulis pesan-pesan kebaikan untuk dilakukan masyarakat luas. Saya masih selalu terkesan dengan tulisan Ali Ath Thanthawi, yang menulis buku kecil berjudul Untuk Putra Putriku. Buku itu berisi pesan dari orangtua kepada anak-anaknya, yang berisi nasihat kebaikan.

Mungkin tulisan Anda berisi motivasi kehidupan. Jika Anda membaca buku “Bukan untuk Dibaca” karya Deassy M. Destiani, Anda akan mendapatkan sangat banyak motivasi di dalamnya. Buku itu berupa kumpulan tulisan ringan dan pendek, namun memberikan motivasi positif untuk menjalani kehidupan.

Mungkin tulisan Anda berisi inspirasi. Jika Anda membaca novel atau cerpen, ada sangat banyak inspirasi yang bisa didapatkan darinya. Saya teringat kisah seorang remaja yang memutuskan untuk belajar di Pondok Pesantren, karena terinspirasi oleh novel Harry Potter. Mungkin JK. Rowling tidak pernah menyangka, bahwa lantaran novelnya, ada anak remaja di Indonesia yang terinspirasi masuk pesantren.

Mungkin tulisan Anda berisi suasana tertentu, yang bermanfaat bagi pembaca. Misalnya, memberikan suasana hiburan, pengalaman, kegembiraan dan pelepasan beban. Seseorang menjadi terhibur setelah membaca tulisan ringan, atau kisah humor, atau puisi, pantun, prosa dan lain-lain. Seseorang merasa bahagia setelah membaca novel, karena memberikan pengalaman imajinasi dan emosional yang mengasyikkan.

Masih banyak isi lainnya yang bisa Anda tambahkan dalam tulisan. Sebuah tulisan juga bisa berisi campuran dari berbagai isi tersebut, bukan hanya berisi satu elemen. Semacam nasi campur, gado-gado, atau es teler.

Jika Masih Terasa Mengambang

Apabila Anda sudah memberikan isi pada tulisan, namun Anda merasa masih tetap mengambang, bagaimana solusinya? Lakukan editing substansial sekali lagi. Yang paling penting adalah memastikan, bahwa dalam tulisan yang Anda rasakan mengambang tersebut tidak ada yang salah atau menyimpang secara value.

Sepanjang Anda yakin, tulisan itu tidak bermasalah secara isi, maka tetaplah dipublikasikan, meskipun Anda merasa belum puas. Ini adalah bagian dari proses belajar.

Jika Anda punya kebiasaan membuang naskah-naskah yang anda definisikan sebagai tidak berbobot, maka Anda akan kehilangan alat evaluasi. Menulis dan berkarya adalah sebuah proses yang harus kontinyu. Tulisan yang Anda hasilkan dan Anda posting hari ini, akan menjadi bagian sejarah dari proses tersebut. Dua tahun ke depan, Anda bisa membaca ulang postingan Anda hari ini, untuk dibandingkan dengan hasil tulisan Anda pada waktu itu. Adakah kemajuan, adakah perubahan. Inilah alat evaluasi dari proses belajar Anda.

Terus Belajar dan Berlatih

Tidak ada cara lain untuk menambah bobot tulisan, kecuali Anda harus banyak membaca karya orang lain. Jika Anda suka novel dan ingin menulis novel, cara terbaik adalah banyak membaca novel karya para maestro. Jika Anda ingin menulis cerpen yang berbobot, cara terbaik adalah banyak membaca cerpen karya para mastah.

Jika Anda ingin menulis puisi yang bagus, cara terbaik adalah banyak membaca puisi karya para sastrawan handal. Jika Anda suka esai dan ingin menulis esai, cara terbaik adalah banyak membaca para esais, dan begitu seterusnya. Bacalah karya para penulis hebat, dan pelajarilah bagaimana mereka menciptakan karya.

Sembari Anda banyak membaca, lakukan latihan rutin setiap hari. Bukan sepekan sekali, bukan sebulan sekali. Namun setiap hari. Bagaimana Anda cepat mahir menyetir mobil? Adalah dengan berlatih rutin setiap hari. Demikian pula dalam proses menulis.

Proses belajar disertai konsisten menulis, akan membuat tulisan Anda makin lama makin berbobot. Tidak lagi mengambang. Anda memiliki tolok ukur dari tulisan-tulisan terdahulu, untuk diperbaiki dan dihias, sehingga semakin menarik dan semakin berkualitas. Tidak lagi mengambang.

Selamat menulis. Semoga semakin berbobot.

Bersambung.

 24 kali dilihat

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *