Positive Writing

Bagaimana Cara Menulis Ekspresif?

.

Writing for Wellness – 92

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Expressive writing pays more attention to feelings than the events, memories, objects, or people in the contents of a narrative” – John F. Evans, 2012

.

Menulis ekspresif sebagai intervensi terapi telah dikenal luas dan dikembangkan menjadi berbagai model. Semenjak diperkenalkan pertama kali oleh James Pennebaker, metode menulis ekspresif semakin banyak diakses untuk pendampingan terapi kesehatan fisik maupun mental.

John F. Evans (2012) menyatakan, menulis ekspresif lebih mementingkan perasaan daripada kejadian, ingatan, benda, atau orang-orang yang ada di dalam sebuah kisah. Seperti penulisan naratif, tulisan ekspresif bisa memiliki alur cerita: awal, tengah, dan akhir.

“Like narrative writing, expressive writing may have the arc of a story: beginning, middle, and end” – John F. Evans, 2012

Evans menyatakan, terkadang tulisan ekspresif berperilaku seperti sebuah cerita yang membengkak hingga mencapai puncaknya dan diselesaikan dengan sendirinya di atas dasar yang kokoh. Namun seringkali, tulisan ekspresif bergejolak dan tidak dapat diprediksi, dan itu tidak masalah. Menulis ekspresif bukanlah apa yang terjadi, melainkan bagaimana perasaan Anda tentang apa yang telah atau sedang terjadi.

Menulis ekspresif diyakini dapat membantu individu untuk mengarahkan perhatian kepada hal-hal yang positif. Pemikiran yang kacau ketika seseorang mengalami stres, dapat terorganisir secara lebih baik. Dengan menulis ekspresif, seseorang terbantu untuk tidak fokus terhadap kejadian traumatis yang menjadi pemicu stres, sekaligus membuat seseorang mampu meregulasi emosi dengan lebih baik.

“Sometimes expressive writing behaves like a story that swells to crest and resolves itself on firm ground. But often, expressive writing is turbulent and unpredictable, and that is OK” – John F. Evans, 2012

Menulis ekspresif bisa membantu seseorang untuk bersikap tepat terhadap pengalaman serta kejadian traumatis. Bukan sekedar melepas kekecewaan dan perasaan yang menekan, saat menulis ekspresif seseorang juga diarahkan untuk menggunakan penalaran atau fungsi kognitif. Mencoba memberikan makna (meaning) atas berbagai kejadian traumatis dan membawanya menuju kepada kesadaran akan masa depan yang lebih baik.

Melihat masalah dan pemicu masalah dari sudut pandang lain, menjadi salah satu manfaat yang didapatkan dari menulis ekspresif. Ini juga bagian dari fungsi kognitif dalam menulis ekspresif. Ketika seseorang mampu melihat masalah dari sudut pandang lain, ia akan mengelola emosi dengan lebih baik apabila dihadapkan kepada situasi sejenis.

Bagaimana Cara Menulis Ekspresif?

“Expressive writing is not so much what happened as it is how you feel about what happened or is happening” – John F. Evans, 2012

Menulis ekspresif sangat  mudah dilakukan, karena tidak memiliki aturan-aturan kepenulisan yang ketat.. Tidak seperti menulis akademik, seperti skripsi, tesis dan disertasi, menulis ekspresif lebih merupakan luapan dari perasaan dan pikiran yang menekan.

Berikut beberapa cara teknis yang bisa dilakukan dalam menulis ekspresif.

  • Siapkan tempat dan waktu untuk menulis

Anda perlu menemukan waktu dan tempat yang paling tepat jika akan menulis ekspresif. Dalam menulis ekspresif, Anda akan menurahkan emosi terdalam. Maka perlu suasana yang tenang dan damai dalam menuangkannya. Bisa jadi Anda akan terbawa emosi, sehingga menangis atau marah. Pastikan tempat untuk menulis bebas dari gangguan orang yang tidak Anda kehendaki.

  • Menulislah secara teratur

Lakukan menulis ekspresif dengan durasi 15 – 20 menit selama 4 hari berturut-turut. Ini akan membuat semua perasaan dan pikiran yang menekan bisa tersalurkan dengan optimal. Jika hanya sekali menulis, membuat tidak bisa tuntas mengeluarkan pikiran dan perasaan.

“Writing is finally a series of permissions you give yourself to be expressive in certain ways. To leap. To fly. To fail” –Susan Sontag

  • Sesuaikan dengan kemampuan

Jika menulis selama 15 menit Anda rasakan keberatan, mulailah menulis dengan durasi 5 menit terlebih dahulu. Usahakan untuk menambah durasi penulisan dari hari ke hari hingga sampai pada durasi 15 atau 20 menit.

  • Tulis dengan jujur

Tuliskan perasaan dan pemikiran terdalam Anda dengan terjujur. Tuliskan apa yang memicu stres atau masalah. Tuliskan bagaimana perasaan Anda atas masalah tersebut. Anda bisa menghubungkan dengan ingatan, impian, atau topik-topik yang sudah Anda hindari beberapa waktu belakangan.

  • Menulis bebas

Tidak perlu peduli ejaan, tanda baca, pedoman pembuatan kalimat, dan aturan penulisan lainnya. Tulis saja untuk menuangkan pikiran dan perasaan. Tuangkan semua rasa, semua kecewa, semua duka. Bukan soal tata bahasa, tapi soal menuangkan rasa.

  • Jangan paksakan diri

Jika pengalaman traumatis atau kondisi yang memicu stres dirasa terlalu berat untuk diingat kembali untuk dituliskan, berhentilah menulis. Jangan paksakan diri untuk menulis, jika Anda merasa sakit dengan mengingat dan menuliskannya. Mulailah menulis saat suasana jiwa Anda sudah siap untuk menuangkannya.

  • Menulislah untuk diri sendiri

Tulisan ekspresif bersifat rahasia. Bukan untuk dipublikasikan. Maka simpanlah hasil tulisan di file atau folder yang aman. Semua corak tulisan yang bersifat pelepasan ruminasi atau katarsis, adalah bercorak privat. Tidak untuk dipublikasikan. Pastikan Anda telah menyimpan di tempat yang aman, jika perlu menggunakan password.

  • Refleksikan kembali

Sebulan setelah 4 hari selesai menulis ekspresif, Anda bisa membuka dan membaca kembali tulisan tersebut untuk direfleksikan. Bahkan Anda bisa memilah dan memilih, ada bagian yang bisa diedit untuk dipublikasikan. Fungsi kognitif harus mulai ditonjolkan saat melakukan refleksi, agar Anda bisa melihat masalah secara lebih jernah dan positif.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan dan kesehatan.

Bahan Bacaan

John F. Evans, Expressive Writing, Psychology Today, 15 Agustus 2012,  https://www.psychologytoday.com

Fiorence Hadiwana, Menulis Ekspresif Ternyata Bisa Melepas Stres, 28 Desember 2018, https://www.kompasiana.com

PijarPsikologi, Menulis Ekspresif: Cara Mudah Lepas dari Stres, 24 April 2018, https://pijarpsikologi.org

Sandra Handayani Sutanto, Menulis Ekspresif sebagai Coping Stress, Buletin KPIN Vol. 6 No. 18 September 2020, https://buletin.k-pin.org

.

Ilustrasi : https://medium.com/

 2 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *