Teknik Menulis

Bagaimana Mencari Referensi Tulisan?

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

You fail only if you stop writing” –Ray Bradbury

.

Salah seorang alumni Kelas Menulis Online (KMO) Basic bertanya kepada saya, bagaimana cara menemukan referensi yang sesuai dengan tulisan kita? Ia membaca postingan saya setiap pagi di blog Ruang Menulis, dan ia menemukan saya sangat sering menuliskan kutipan dan daftar bacaan.

“Apakah Pak Cah menulis dulu, baru mencari rujukan, atau mencari rujukan dulu baru menulis?” tanya dia.

“Saya kesulitan untuk menemukan rujukan untuk memperkuat argumen yang sudah saya tulis”, lanjutnya.

“Di zaman kita hidup sekarang, berbagai kesulitan telah terpecahkan dengan internet. Kita bisa menulis dulu, bisa juga mencari referensi dulu. Yang paling penting adalah tetaplah menulis”, jawab saya.

“Jangan menghabiskan waktu untuk mencari referensi, yang akhirnya malah tidak menulis apa-apa”, tambah saya.

Berikut saya buka rahasia, bagaimana cara saya menemukan referensi, dan menggunakannya dalam tulisan sederhana saya.

Pertama, Gunakan Sudut Pandang Penulis

Dalam postingan saya sebelumnya, sudah saya sampaikan pentingnya point of view (POV) sebagai penulis. Simak kembali ulasannya di sini. Yang dimaksud POV sebagai penulis adalah, letakkan diri sebagai penulis dalam berbagai aktivitas kehidupan.

Maka ketika saya membaca suatu artikel, saya membaca dengan sudut pandang seorang penulis. Maka saya tidak harus membaca keseluruhan tulisan, melainkan saya pilih sesuai dengan yang saya perlukan.

Sebagai contoh, ketika menulis tentang teknik menyunting tulisan, alhamdulillah di rumah sudah ada bukunya Pak Pamusuk Eneste yang sangat legendaris, “Buku Pintar Penyuntingan Naskah”. Saya tidak harus membaca keseluruhan buku tersebut baru menulis.

Saya baca daftar isi, lalu saya membaca bagian yang sesuai kebutuhan saya. Hanya beberapa halaman saja. Saya kutip beberapa bagian ke dalam tulisan, dan saya sebutkan sumbernya dalam daftar pustaka. Sederhana kan?

Kedua, Tuliskan Bahan

Kita bisa mulai dari proses menulis terlebih dahulu. Setiap kali saya menulis, saya sudah memiliki tujuan penulisan. Untuk apa saya menulis? Untuk siapa saya menulis? Ini yang sering disebut sebagai “who” dan “do” dalam tulisan. Simak kembali ulasan saya tentang ini, di sini.

Oleh karena saya memiliki tujuan, menulis untuk apa dan untuk siapa, maka menjadi mudah bagi saya untuk melakukannya. Misalnya, tulisan-tulisan yang saya posting di blog Ruang Menulis, saya maksudkan untuk suplemen bagi siapapun yang sedang belajar menulis (“who”), agar mereka semakin mahir dan bersemangat menulis (“do”).

Maka saya tuliskan bagian demi bagian dari pelajaran menulis, setiap hari semenjak masa pandemi. Setelah selesai menulis satu artikel –yang selalu saya tulis dalam sekali duduk, baru saya mencari referensi yang mendukung. Tentu saya harus memilih referensi yang sesuai dengan konteks pesan dalam tulisan saya.

Kenapa harus memilih? Karena pada dasarnya, sangat banyak cara pandang tentang menulis. Semua ada referensinya. Satu teknik dengan teknik lainnya, terkadang bertolak belakang. Maka saya harus memilih, mana yang menjadi keyakinan dan pendapat saya. Di saat yang sama, saya tahu ada referensi lain yang berbeda.

Jika tidak memiliki bukunya, saya segera searching di berbagai jurnal atau blog terpercaya, untuk mendapatkan rujukan. Kadang menemukan sangat banyak tulisan yang mendukung, maka saya komparasikan, dan saya ambil kesimpulan. Kadang saya hanya memilih salah satu saja yang paling sesuai dengan isi tulisan saya.

Saya ambil bagian yang saya perlukan untuk menjadi rujukan, kemudian saya tulis sumbernya di daftar pustaka. Saya menggunakan model “simple in-text citation” sebagaimana ditulis oleh Stephanie Chandler (2016). Terkadang saya menggunakan model “endnotes”. Sesuai selera dan sesuai kebutuhan saja.

Ketiga, Bertemu Refensi Duluan

Saya suka belajar dan ingin terus belajar. Suatu ketika saya membaca artikel tentang kepenulisan. Tulisan itu membuka wawasan saya, dan menjadi referensi bagi saya. Setelah menemukan tulisan yang mencerahkan, saya kemudian menuliskan kembali dengan kerangka dan bahasa saya sendiri.

Saya menulis artikel “Kenali 5 Barrier untuk Pembaca”, setelah membaca artikel Hannah Frankman berjudul “Six Rules for Writing a Good Article”, yang diposting di blog pribadinya www.hannahfrankman.com. Saya mengambil satu poin saja, dari enam poin yang ditulis Hannah.

Saya menulis artikel “Angka dan Data Selalu Menarik Perhatian Pembaca” setelah membaca artikel Nathan Safran berjudul “Five Data Insights into the Headlines Readers Click”, yang dimuat dalam jurnal https://moz.com. Saya mengambil dua data di antara sangat banyak data yang ditampilkan Safran.

Nah, ini berkebalikan dengan poin kedua di atas. Kalau pada poin sebelumnya, saya menulis dulu, baru mencari referensi yang mendukung. Pada poin ketiga ini, saya menemukan referensi terlebih dahulu, baru membuat tulisan menggunakan referensi tersebut. Artinya, kedua-duanya bisa kita lakukan, untuk jenis artikel pendek.

Jadi, jangan mempersulit diri. Ambil yang mudah. Menulis dulu, boleh. Mencari referensi dulu, boleh. Yang paling penting –menulislah!

Ini poin terpentingnya. Jangan hanya sibuk mencari referensi tanpa pernah menulis. Apalagi jika tidak pernah menulis, dan tidak pernah mencari referensi.

Hadewww.

Bahan Bacaan

Stephanie Chandler, How to Cite Sources in Your Manuscripst, www.nonfictionauthorsassociation.com, 3 November 2016

 12 kali dilihat

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *