Positive Writing

Bagaimana Menghasilkan Tulisan Positif?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sangat banyak ragam tulisan, salah satunya adalah jenis tulisan positif. Pilihan fiksi ataupun nonfiksi, adalah selera. Namun tulisan positif, ada hal prinsip. Maka apapun selera tulisan Anda, hendaknya selalu menjadikannya sebagai karya tulis yang positif. Tulisan positif, akan menginspirasi kebaikan kepada para pembaca —seperti apapun jalan cerita atau kisahnya. Tulisan positif, akan menggerakkan pembaca untuk melakukan hal-hal positif. Tulisan positif, akan menebarkan kedamaian dan kesejahteraan spiritual.

Bagaimana menghasilkan tulisan positif? Agar karya tulis anda masuk kategori positive writing, beberapa bagian berikut ini perlu Anda hadirkan.

  1. Positifkan Niat

Menulis adalah ibadah kepada Allah. Menulis untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, maka harus diniatkan ikhlas karena Allah. Menulis karena Allah, menulis untuk Allah, menulis dengan nama Allah. Sesungguhnya semua aktivitas hidup kita —termasuk dalam menulis— adalah lillahi Rabbil ‘alamin, sebagaimana firman Allah,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah,  sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku  dan­ matiku hanyalah untuk Allah, Rabb sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya,  dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan aku  adalah  orang  yang pertama kali  menyerahkan  diri  (kepada Allah).” (QS. Al-An’am : 162 -163)

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk : 2)

وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُۥ عَلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Hud : 7).

Dalam konteks amal menulis, kita bisa memaknai dengan “agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik tulisannya” atau “agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih positif tulisannya”.

  • Positifkan Tujuan

Tujuan menulis bisa sangat beragam, namun kita harus bisa memositifkan tujuan. Kita juga tidak perlu mengkonfrontasikan beberapa tujuan, namun bisa memadukan dalam bingkai yang positif. Dalam menulis, ada tujuan yang bercorak ideologis karena hendak menyebarkan keyakinan yang dimiliki, atau menulis dengan tujuan untuk menyampaikan dakwah dan melakukan perbaikan. Namun ada pula tujuan yang tampak praktis, seperti ingin populer dan ingin mendapatkan kekayaan. Tujuan praktis seperti ini tidak salah, sepanjang mampu dipositifkan.

Misalnya, tujuan popularitas —harus dipositifkan, untuk apa popularitas itu jika didapatkan? Tujuan kekayaan —harus dipositifkan, untuk apa kekayaan itu jika didapatkan? Karena populer itu tidak salah, kaya juga tidak salah —-sepanjang popularitas dan kekayaan itu digunakan untuk hal-hal yang positif. Maka tulisan akan positif apabila kita mampu selalu memositifkan tujuan menulis.

Kurang lebihnya, setelah membaca tulisan Anda, apa yang Anda harapkan terjadi pada pembaca? Apakah perubahan positif, atau justru mengajak mereka menyetujui dan melakukan hal-hal negatif. Di sinilah terbaca dimensi tujuan —positif atau negatif.

  • Positifkan Isi Tulisan

Jika niatnya positif, tujuannya positif, maka isinya harus positif. Sebab isi tulisan mencerminkan niat dan tujuannya. Mustahil niat yang positif, tujuan yang positif, melahirkan isi tulisan yang negatif. Isi atau konten tulisan disebut positif apabila minimal memenuhi tiga kriteria dasar, yaitu kriteria kebenaran, kepatutan / etik dan kebermanfaatan.

Yang dimaksud dengan kriteria kebenaran, secara isi, tulisan Anda tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran agama. Sebagai seorang muslim, tidak patut Anda menulis sesuatu yang isinya bertentangan dengan ajaran Islam, apalagi mengajak kepada sesuatu yang menyalahi ajaran Islam. Sebagai seorang Kristiani, tidak patut bagi Anda untuk menuliskan hal-hal yang bertentangan atau menodai ajaran Kristen yang Anda yakini, dan begitu seterusnya.

Yang dimaksud dengan kriteria kepatutan atau etik, isi tulisan Anda tidak boleh melanggar UU, Peraturan ataupun norma dan etika yang berlaku di tengah masyarakat. Hendaknya selalu menjaga etika dalam menulis dan menyebarkan tulisan. Sudah banyak masyarakat yang berurusan dengan hukum karena dituduh melanggar Pasal 27 Ayat 3 UU ITE tentang pencemaran nama baik. Maka etislah dalam menulis.

Jangan mengumbar kebencian yang menyulut kemarahan dan kebencian orang lain. Jangan menyebar berita atau konten hoax yang meresahkan warga masyarakat, atau melanggar kepatutan. Sudah banyak penyebar berita hoax harus diamankan Polisi[i]. Gunakan data jika ingin mengkritik dan memberi masukan kepada pihak-pihak dimaksud, dengan gaya bahasa yang tidak menyerang pribadi.

Yang dimaksud dengan kriteria kebermanfaatan, hendaknya Anda hanya menulis hal-hal yang bermanfaat. Walaupun hanya menulis status di facebook, atau mengganti status di akun whatsapp, harus menimbang aspek kebermanfaatan. Apa manfaat dari tulisan yang Anda posting tersebut? Jika Anda menulis “Gue lagi laper nih”, atau “Gue bete”, atau “Sialan loe”, atau “Dasar bego”; sekiranya, apa manfaat tulisan tersebut? Gunakan tulisan sebagai sarana menebar manfaat kebaikan bagi banyak kalangan. Jika tidak memberi manfaat, lalu untuk apa tulisan kita sebarkan?

  • Positifkan Emosi / Perasaan Saat Menulis

Ada dua jenis emosi, yaitu emosi negatif —seperti tertekan, sedih, depresi, cemas, gelisah dan lain-lain, dan emosi positif —seperti bersemangat, senang, rileks, damai, dan lain sebagainya. Emosi memengaruhi sistem dalam tubuh yang akan mempengaruhi sistem imunitas. Emosi negatif membuat menurunnya imunitas, sedangkan emosi positif menguatkan imunitas. Seseorang  yang memiliki sistem imunitas yang baik akan menjadi lebih produktif dari pada yang memiliki sistem imun tidak baik.

Jangan biarkan diri Anda dibanjiri emosi negatif saat menulis. Jika tengah dibanjiri emosi negatif, Anda boleh tetap menulis untuk penyaluran, namun jangan dipublikasikan. Cukup Anda simpan sendiri sebagai dokumen dan rekaman sejarah kehidupan Anda pada suatu masa. Pastikan saat menulis, Anda dipenuhi dengan emosi positif[ii]. Dengan demikian, akan semakin menguatkan muatan positif dalam karya tulis Anda —sependek atau sepanjang apapun tulisan Anda.

  • Positifkan Pikiran Saat Menulis

Pikiran sangat menentukan kata-kata, kalimat, tindakan, sikap dan kepribadian manusia. Saat menulis, pastikan Anda memiliki pikiran yang positif. Bruce Lipton menyatakan, manusia terdiri dari 50 triliun sel. “Sel adalah entitas yang hidup. Jadi Anda adalah komunitas, bukan satu orang. Tetapi pikiran Anda adalah penggerak dari 50 triliun sel tesebut,” ungkap Lipton, menggambarkan dahsyatnya pikiran manusia.

Terry Sejnowski, peneliti dari Salk Intitute menyatakan, otak manusia ternyata memiliki kapasitas memori setidaknya 1 petabyte atau setara dengan 10 juta gigabyte. Ini sepuluh kali lebih besar dibanding perkiraan sebelumnya. Sayang sekali jika otak yang luar biasa besar kapasitasnya ini, hanya diisi dengan pikiran negatif. Maka positifkan pikiran Anda, sehingga muncul karya tulis positif yang membangun mentalitas positif pada diri Anda selaku penulis maupun pada para pembaca.

  • Positifkan Kondisi Fisik Saat Menulis

Karena menulis adalah ibadah, maka memerlukan kepatutan secara fisik saat melakukannya. Sangat bagus jika selalu bisa menjaga wudhu, sehingga menulis dalam keadaan suci dan bersih. Kenakan pakaian yang patut dan sopan saat menulis. Lakukan proses menulis di tempat yang patut, terutama saat Anda menulis di rumah. Karena bisa jadi Anda menulis dalam suatu perjalanan dengan kereta api, pesawat atau kapal, dimana tidak bisa memilih tempat kecuali di bangku yang telah ditentukan.

Meskipun Anda sendirian saat menulis, tidak ada yang melihat, namun posisikan diri Anda sebagai seseorang yang tengah berkarya. Maka hargailah karya Anda sendiri dengan menampilkan diri dalam keadaan terbaik. Anda bisa melihat para barista yang bekerja di caffe, misalnya, mereka mengenakan pakaian rapi. Ini menandakan mereka menghargai pekerjaan dan mencintai profesi  yang mereka geluti. Para chef di restoran bekerja dengan pakaian rapi dan standar.

Maka sebagai penulis, hargai dan cintai profesi Anda dengan menampilkan diri secara patut dan rapi saat menghasilkan karya tulis. Meskipun saat menulis, tak ada orang lain yang melihat Anda, namun Anda meyakini bahwa Allah selalu melihat Anda.

  • Positifkan Identitas Penulis

Ketika Anda mempublikasikan tulisan, boleh menggunakan nama asli ataupun nama samaran atau nama pena. Jika Anda menggunakan nama samaran atau nama pena, pastikan nama yang Anda gunakan bermakna positif dan bertendensi positif. Ada orang yang menggunakan nama samaran secara sembarangan, karena memiliki tendensi untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Membuat tulisan negatif yang meyerang pihak lain secara brutal dan tidak bertanggung jawab —dengan alasan “fikih perang”— menghalalkan segalanya.

Misalnya seseorang menulis di sebuah media online menggunakan nama samaran, dengan isi tulisan melakukan pembunuhan karakter orang lain. Ini adalah tindakan negatif —tidak bertanggung jawab. Bahasa lain untuk lempar batu sembunyi tangan. Maka tampilkan identitas diri Anda sebagai penulis, untuk menunjukkan tanggung jawab atas apa yang Anda tulis. Jika Anda memposting karya orang lain yang Anda anggap bermanfaat, pastikan Anda cantumkan nama sang penulis agar Anda tidak dituduh plagiat.

  • Positifkan Rujukan

Jika dalam menghasilkan karya tulis Anda merujuk, hendaknya rujukan itu Anda cantumkan, sehingga tidak menjadikan Anda tertuduh sebagai plagiat yang mengambil karya tulis orang lain. Pastikan Anda hanya mengambil rujukan yang positif, dari sumber-sumber yang kredibel yang bisa dipercaya. Jika Anda mengambil rujukan dari sumber yang abal-abal atau ecek-ecek, maka kualitas data dalam tulisan Anda menjadi dipertanyakan.

Apalagi di zaman sekarang banyak pihak sengaja memproduksi kontek hoax untuk menyesatkan opini publik. Jika Anda tidak berhati-hati, akan terkena delik menyebarkan berita bohong atau sampah. Kredibilitas Anda sebagai penulis bisa runtuh jika mengambil rujukan secara sembarangan. Maka positifkan rujukan Anda.

Terlebih jika mengutip ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw, jangan pernah sembarangan mengambil rujukan. Sangat banyak hadits palsu beredar di media sosial dengan kepalsuan dari segi isi maupun dari segi perawi hadits. Ini menyangkut hal yang sangat sakral dalam agama, yang tidak boleh sembarangan dalam menyebarkannya sebelum meyakini validitas sumber rujukan.

Bahan Bacaan

Salk Institute, Memory Capacity of Brain is 10 Times More Than Previously Thought, https://www.salk.edu, 20 Januari 2016

Bruce Lipton, Rewrite Your Mind, https://www.youtube.com/watch?v=eB-vh6VWdcM, 18 April 2019

Barbara Fredrickson, Positive Emotions Broaden and Build, San Diego, Academic Press, 2013

Barbara Fredrickson, Positivity, New York, Crown, 2009

Kari Henley, What Are The Top 10 Positive Emotions? https://www.huffpost.com, 17 Juni 2009

Tafsir Web, https://tafsirweb.com

DetikNews, https://news.detik.com


[i] Bareskrim Polri menangkap penyebar hoax, isu SARA, dan penghina tokoh negara melalui media sosial berinisial KB (30). KB diamankan di Cakung, Jakarta Timur. (DetikNews, 8 Maret 2018). Seorang pelajar inisial MPA (18) ditangkap aparat kepolisian Resor Sukabumi Kota, Jawa Barat. MPA membagikan informasi palsu dan ujaran kebencian (DetikNews, 3 Maret 2018). Polda Bali menangkap seorang pria berinisial IGN HRT yang menyebarkan hoax di media sosial. Pelaku mengunggah status yang menyebutkan Wapres RI  terpapar Corona (DetikNews, 6 Mei 2020).

[ii] Barbara Fredrickson dalam buku Positivity (2009) mengungkapkan 10 emosi positif yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai syarat untuk tumbuh dan berkembang (flourish). Berikut 10 emosi positif menurut Barbara Fredrickson:

  1. Joy atau gembira. Orang yang memiliki joy akan selalu bersemangat, dan memiliki pengalaman-pengalaman yang menyenangkan bersama orang lain.
  2. Gratitude atau bersyukur. Orang yang bersyukur menyadari bahwa apa pun yang mereka terima adalah keberuntungan yang bernilai bagi diri mereka.
  3. Serenity atau ketenangan, ketenteraman, kedamaian. Orang yang memiliki serenity tidak pernah merasa gundah dan memberontak terhadap keadaan yang mereka hadapi.
  4. Interest atau hasrat dan ketertarikan. Orang yang memiliki interest selalu menemukan hal baru dalam hidupnya. Mereka selalu ingin tahu keadaan orang lain yang ada di sekitar mereka.
  5. Hope atau harapan. Orang yang memiliki hope yakin bahwa segala sesuatu akan berakhir dengan baik.
  6. Pride atau kebanggaan. Orang yang memiliki pride merasa dirinya bermartabat, dimana perasaan ini lahir dari sebuah pencapaian, bukan pemberian dari orang lain.
  7. Amusement atau terhibur. Orang yang mampu tertawa bersama orang lain di sekitarnya karena merasa terhibur dalam interaksi sosial di antara mereka.
  8. Inspiration atau inspirasi. Orang yang mendapatkan inspirasi yang mencerahkan, dan bisa memberikan insight kepada orang lain yang ada di sekitar mereka.
  9. Awe atau terpesona, takjub. Orang yang memiliki awe mudah merasa takjub dengan apa yang mereka alami. Ada perasaan betapa kecilnya diri mereka di hadapan keagungan Sang Maha Kuasa.
  10. Love atau cinta. Love adalah kompilasi dari 9 emosi positif sebelumnya. Orang yang memiliki kasih sayang dan ketertarikan emosional yang kuat sehingga selalu merasa terhubung satu sama lain.

 4 kali dilihat

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *