Motivasi Menulis

Bagaimana Saya Menulis? Sebuah Sharing Pengalaman

.

RM 0019-20

Oleh : Cahyadi Takariawan

Saya suka menulis sesungguhnya sejak sekolah di bangku SMA (1982 – 1985), namun waktu itu terbatas untuk dokumen pribadi dan tidak pernah dipublikasikan. Saat itu saya paling suka menulis puisi. Sampai sekarang saya masih suka menulis puisi. Itu sebabnya selepas SMA saya ingin kuliah di Fakultas Sastra Indonesia UGM. Namun ayah saya tidak menyetujui, dan meminta saya kuliah di Fakultas Farmasi UGM. Saya nurut kata ayah. Alhamdulillah, saya menjadi apoteker dan bisa menulis.

Saya mulai mengirim tulisan ke media massa saat semester dua kuliah di UGM. Saat itu tahun 1986, saya membaca sebuah koran lokal di Yogyakarta, ada sebuah artikel opini yang sangat menggelitik bagi saya. Artikel itu mendorong saya untuk menuliskan tanggapan. Segera saya tulis tanggapan, dan alhamdulillah dimuat di koran tersebut. Jadi pertama kali mengirim naskah opini ke koran, langsung dimuat. Ini surprise bagi saya, dan sekaligus memberi keyakinan bahwa saya bisa menulis.

Semasa kuliah di UGM saya menulis di majalah Fakultas Farmasi, juga di majalah Balairung UGM. Saya aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, seperti Senat Mahasiswa Fakultas, HMI, Keluarga Muslim Fakultas, UKKI UGM, dan sebagainya. Dari berbagai aktivitas itulah, saya mulai akrab dengan forum-forum diskusi, pelatihan, seminar dan lain sebagainya. Ternyata, semakin lama semakin banyak forum yang saya hadiri baik sebagai peserta maupun sebagai narasumber.

Bermula Dari Makalah

Ketika akan mengisi suatu forum, panitia sering meminta saya untuk menulis makalah berisi materi yang akan saya sampaikan. Permintaan ini pada awalnya sangat memberatkan saya, karena –maaf— sering kali tidak sebanding dengan fee yang diberikan oleh panitia. Kasarnya —menulis makalah atau tidak, fee yang diberikan tetap sama. Bahkan sangat banyak forum yang nilainya murni sosial, alias gratisan. Tidak ada fee untuk narasumber. Ini tidak masalah bagi saya. Saya menikmati.

Sekedar mengisi forum, saya senang saja, walaupun gratisan. Karena berbicara di forum itu lebih mudah bagi saya, dibanding harus meluangkan waktu untuk menulis makalah sesuai tema yang dikehendaki panitia. Namun untuk permintaan membuat makalah ini – saya sering menganggap : mengada-ada. Walaupun sering merasa enggan, namun saya penuhi juga permintaan membuat makalah itu. Toh menyenangkan orang lain itu berpahala.

Ternyata ada nilai lain dari sebuah makalah. Ia bisa dikembangkan menjadi sebuah buku. Beberapa buku saya, lahir dari sebuah makalah. Nah, jika Anda memiliki banyak makalah, bisa Anda kembangkan untuk menjadi buku. Tapi jangan membuat buku berjudul “Kumpulan Makalah Seminar”, karena tidak menarik. Apalagi kalau buku berjudul “Kumpulan Makalah Gratis”, ini lebih tidak menarik lagi. Untuk menjadi sebuah buku, makalah harus dikembangkan, bukan saja dikumpulkan. Karena buku memerlukan tema tertentu yang spesifik, dan memerlukan sistematika yang khas dalam penyusunannya.

Buku “Pernik-pernik Rumah Tangga Islami” lahir dari sebuah makalah yang saya tulis untuk Daurah Munakahat tahun 1990. Makalah tersebut saya kembangkan menjadi sebuah buku saat masih menjadi pengantin baru. Buku “Agar Cinta Menghiasi Rumah Tangga Kita” lahir dari makalah yang saya siapkan untuk Daurah Keluarga Samara di Balikpapan, ditambah pengayaan saat diskusi dan tanya jawab di forum daurah. Buku “Refleksi Diri Seorang Murabbi” lahir dari makalah yang saya siapkan untuk mengisi suatu acara Daurah Murabbi.

Buku “Media Massa Virus Peradaban” lahir dari makalah yang saya siapkan untuk mengisi Pelatihan Jurnalistik saat masih mengurus Balai Jurnalistik Islami (BJI) bersama pak Mohammad Ilyas Sunnah. Buku “Menjadi Murabiyah Sukses” juga hasil kembangan dari makalah-makalah yang biasa saya sampaikan dalam Daurah Murabbi. Demikian pula buku “Fikih Politik Perempuan”, lahir dari makalah yang saya sampaikan dalam acara Daurah Kemuslimahan di Universitas Islam Bandung. 

Ternyata, makalah adalah miniatur buku. Tinggal mengembangkan, ia menjadi sebuah buku.

Ribuan Jalan Menciptakan Tulisan

Selain menulis buku dari makalah, kadang saya menulis buku dari outline yang dibuatkan orang lain. Misalnya buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”, saya menulis dari tawaran outline yang dibuat oleh Pak Afrizal. Saya merasa outline tersebut sangat membantu saya untuk menuangkan ide ke dalam tulisan yang sudah distrukturkan. Oleh karena itu, buku ini termasuk yang cukup cepat pengerjaannya karena telah terbantu oleh outline. 

Ada pula buku yang lahir karena pertanyaan dan konsultasi. Buku “Bahagiakan Diri dengan Satu Istri” lahir karena amat banyak pertanyaan baik langsung, maupun lewat sms (waktu itu belum ada medsos, whatsapp dan sarana komunikasi internet lainnya), telepon, email, dan media lainnya, tentang persoalan rumah tangga. Saya mengemas berbagai pertanyaan tersebut dalam bentuk sistematika buku, dan akhirnya ditulis menjadi buku.

Buku Serial Wonderful Family, semuanya adalah kristalisasi dari pengalaman di ruang konseling. Menjadi konselor keluarga sejak tahun 2000 di Jogja Family Center (JFC) —sering saya sebut sebagai : menempuh jalan sunyi. Jauh dari publisitas, karena bahkan harus dilakukan di ruang-ruang privat. Namun ada jutaan inspirasi saya dapatkan dari ruang konseling. Saya menjadi “mengerti terlalu banyak” permasalahan dalam rumah tangga. Ini yang membuat saya mudah menuangkan ke dalam tulisan, karena banyak bahan.

Saya kira, Pak Eko Novianto menulis “Sudahkah Kita Tarbiyah?” dengan cara yang mirip seperti saya ceritakan. Pak Eko menulis berdasarkan pengalaman, pengamatan, perasaan, intuisi yang langsung didapat dari lapangan dakwah, khususnya Jogja dan Jawa Tengah. Buku “Kemenangan Cinta” karya ustadz Saiful Bahri, seorang aktivis yang waktu itu tengah kuliah di Al- Azhar Mesir, ditulis dengan cara yang serupa pula.

Saya mendapat cerita menarik dari Kyai Mujab Mahalli –Allah yarham. Buku beliau “Menikahlah Engkau Menjadi Kaya” saya kritik saat bedah buku karena isinya tidak sesuai dengan judulnya. Beliau menjawab sederhana, “Judul itu untuk pemasaran. Adapun isi, tergantung kita mau nulis apa”. Ternyata, beliau menulis setiap kali hendak mengajar di Pesantren Al Mahalli. Semua pelajaran yang hendak diajarkan, ditulis terlebih dahulu. Tak heran, lebih dari 100 buku telah beliau terbitkan. Luar biasa Kyai yang satu ini.

Menulis Karena Terdesak Kebutuhan

Ada pula orang menulis karena kebutuhan tertentu. Ini pengakuan di Blog Sabil Elmarufie. “Jujur saja, aku terpaksa menulis buku karena punya kebutuhan. Kalau tidak sedang butuh uang, popularitas, dan peningkatan intelektual, aku tidak akan pernah menulis buku. Uang, popularitas, dan peningkatan intelektual (UPPI) adalah segerombolan motivator yang memaksaku menulis buku. Itulah hal pertama yang aku rasakan. Setelah, beberapa karya berupa buku lahir maka minimalnya per tiga bulan aku dapat memenuhi kebutuhan perut, jiwa, dan akalku”.

“Bisa membeli buku, bisa nraktir kawan-kawan, bisa ngasih sedekah ke fakir miskin, utamanya nama kita bisa popular. Intelektualitasku juga semakin bertambah. Sebab, ada dorongan untuk menjejali diri dengan pengetahuan.” Testimoni ini saya kutip dari sabil-elmarufie.blogspot.com. Terlepas Anda setuju atau tidak dengan prinsip ini, namun itu terbukti telah menghantarkan dirinya menciptakan banyak karya tulis.

Pernah pula saya mengalami hal serupa. Saya menjual naskah buku “Spiritualitas Dakwah” kepada Penerbit Tarbiatuna, karena mobil Katana saya terpaksa turun mesin yang memerlukan biaya hampir 3 juta rupiah di bengkel Pak Burhan di tahun 2000. Saya menjual naskah buku “Dialog Peradaban” kepada Penerbit Era Intermedia sekitar tahun 2003 karena kontrakan rumah saya habis dan harus segera membayar sebelum diusir oleh pemilik rumah. Akhirnya kebutuhan dana saya waktu itu terpenuhi. Karena kemendasakan kebutuhan, lahirlah tulisan.

Habis Traveling, Terbitlah Tulisan

Buku saya “Memoar Cinta di Medan Dakwah”, lahir dari renik-renik peristiwa yang saya jumpai dalam perjalanan dakwah. Saya menikmati perjalanan dakwah — dari Sabang sampai Merauke, dan menyempatkan menulis selama dalam perjalanan. Pada kurun waktu 2000 – 2005 kadang saya harus melakukan perjalanan dakwah selama sebulan atau bahkan dua bulan untuk keliling wilayah tertentu. Di sepanjang perjalanan itu saya merasakan dan menyaksikan banyak hikmah yang luar biasa, maka saya kumpulkan menjadi tulisan-tulisan pendek. Sepulang dari perjalanan dakwah itu, saya rapikan tulisan, disistematikakan, dan jadilah buku.

Lebih menarik lagi, banyak perjalanan saya keliling Indonesia maupun keliling berbagai negara, adalah karena buku. Saya bisa mengenal berbagai wilayah Indonesia, bisa mengenal banyak bagian wilayah dunia, karena tulisan. Sembari saya traveling ke berbagai pulau dan berbagai negara, saya bisa menuliskan berbagai hal yang unik dan menarik di sepanjang perjalanan. Tulisan ini saya dokumentasikan, sebagian tayang di web, sebagian yang lain menjadi bagian dari buku.

Terbukti, dari traveling, lahirlah tulisan. Dari traveling lahirlah buku. The Naked Traveler (Trinity), The Jilbab Traveler (Asma Nadia), Novel 5 cm (Donny Dhirgantoro), Titik Nol (Agustinus Wibowo) adalah beberapa contoh buku yang lahir dari pengalaman traveling. Saya merasakan, traveling adalah aktivitas yang menyenangkan, karena bisa mengenal beragam budaya dan peradaban. Dalam situasi yang mengagumi keindahan suatu wilayah, muncullah banyak ide untuk ditulis.

Penutup

Buku The Butterfly Effect (2019) lahir dari tulisan tausiyah ringan yang biasa saya share di berbagai grup whatsapp. Setiap bulan Ramadhan, dari 2017 – 2019, saya memiliki tradisi menulis satu artikel ringan untuk tausiyah setiap hari, dan diposting di medsos maupun grup whatsapp. Kumpulan tulisan pendek-pendek ini, saya kumpulkan di bulan Ramadhan tahun 2019 lalu, dan dibukukan. Terbitlah The Butterfly Effect.

Mudah bukan? Menulis semudah bernafas, sudah saya buktikan. Jadi, bagaimanakah cara menghasilkan tulisan? Caranya adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Setelah itu, tulis lagi, tulis lagi dan tulis lagi. Maka jadilah tulisan.

Tetap semangat #WriteFromHome bersama saya. Kita #LawanCorona bersama-sama.

Hari ke 8 Ramadhan 1441 H

 2 kali dilihat

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *