Habit Menulis

Belajar “Engagement” Menulis dari Haruki Murakami

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Writing a long novel is like survival training” – Haruki Murakami

.

Mas Pepih Nugraha, penggagas dan mantan manajer Kompasiana menyatakan, tidak ada sekolah menulis. Yang ada adalah sharing atau berbagi pengalaman menulis. Maka kita justru leluasa bisa belajar dari pengalaman siapa saja, para penulis hebat dunia.

Saya tidak akan merekomendasikan Anda untuk meniru cara Haruki Murakami (lahir 1949). Namun kita bisa mengambil inspirasi dari Murakami dalam membangun habit menulis. Jangan bandingkan kebiasaan Murakami dengan kebiasaan kita. Saya hanya akan mengajak Anda mengambil satu poin saja darinya.

Kita tahu, penulis Kafka on The Shore (2002) ini, telah menulis puluhan novel yang diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa di dunia. Puluhan penghargaan kelas dunia telah ia dapatkan di sepanjang kehidupannya. Patut jika kita mengambil inspirasi darinya.

Engagement dalam Proses Menulis

Salah satu elemen penting dalam menumbuhkan kebahagiaan, menurut Martin Seligman, adalah engagement. Saya menerjemahkan engagement ini sebagai ‘larut’. Kita akan bisa bahagia dalam kehidupan apabila memiliki keterlarutan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Dalam dunia kerja, seorang pegawai dikatakan memiliki engagement dalam pekerjaan apabila ia mampu melibatkan sisi emosi, kognisi dan fisik secara bersamaan. Mereka akan optimal bekerja dan menghasilkan kualitas serta produktvitas yang optimal apabila memiliki engagement.

Saat sedang bekerja, mereka melakukan dengan totalitas, larut dalam ritme pekerjaan tersebut. Tidak terganggu dengan hal-hal lain yang membuat tidak konsentrasi bekerja. Terbayang betapa tidak optimal dalam dunia kerja, ketika fisik berada di tempat kerja, tapi pikiran dan perasaan melayang di tempat lain. Ini yang disebut disangegement.

Demikian pula dalam menulis. Seorang penulis akan memiliki kualitas dan produktivitas yang optimal apabila memiliki engagement. Dia menulis dengan perpaduan totalitas antara emosi, kognisi dan fisik. Inilah yang bisa kita pelajari dari seorang Haruki Murakami. Ia benar-benar totalitas dalam menulis.

Jadwal Kerja Menulis untuk Sebuah Novel

“Ketika saya tengah berada dalam mode menulis untuk sebuah novel”, ujar Murakami, “saya bangun jam empat pagi, kemudian menulis selama lima hingga enam jam”. Ini tentu rutinitas dan daya tahan yang luar biasa. Ia lakukan ini rutin hingga selesai novel ditulis. Ia tidak mengubah kebiasaan selama novel belum selesai ditulis.

“Pada sore hari”, lanjut Murakami, “saya berlari sejauh sepuluh kilometer atau berenang sejauh seribu lima ratus meter, atau melakukan keduanya”. Ini adalah sisi penjagaan fisik agar tetap prima. Sebab kerja keras menulis selama beberapa bulan tanpa diimbangi aktivitas fisik berupa olah raga, akan cepat membuat jenuh dan lelah.

“Setelah olah raga itu, saya membaca dan mendengarkan musik. Saya tidur jam sembilan malam”, lanjutnya. Ini adalah sisi refreshing intelektual dan emosional bagi dirinya. Selain fisik yang dijaga kebugarannya, ia juga menjaga kesegaran emosinya dengan mendengarkan musik, dan menjaga kesegaran intelektualnya dengan membaca.

“Saya menjaga rutinitas ini setiap hari tanpa variasi. Pengulangan itu sendiri menjadi hal yang penting”, ujar Murakami. “Saya melatih diri sendiri untuk mencapai kondisi pikiran yang lebih dalam”.

Pengulangan (repetition) adalah hal yang penting, menurut  Murakami. Coba perhatikan ritual ibadah kita. Bukankah itu semua berbentuk pengulangan? Kita shalat rutin sehari lima kali, dengan gerakan yang sama, dengan jumlah raka’at yang sama, dengan waktu yang sama, dengan arah kiblat yang sama. Setiap tahun kita berpuasa Ramadhan, di bulan yang sama.

Al-Qur’an juga mengulang-ulang keterangan di banyak surat dan ayat, agar umat manusia mendapatkan pelajaran dan peringatan lebih kuat. Pesan yang diulang-ulang, akan menguatkan penerimaan dan pemahaman.

“Tetapi untuk melakukan rutinitas pengulangan seperti itu untuk waktu yang lama, enam bulan hingga satu tahun,  jelas membutuhkan kekuatan mental dan fisik yang prima”, ujar Murakami. “Menulis novel panjang itu seperti pelatihan bertahan hidup (survival)”, lanjutnya.

Physical strength is as necessary as artistic sensitivity. Kekuatan fisik sama pentingnya dengan sensitivitas artistik”, ujar Murakami.

Yang dilakukan oleh Murakami dalam proses menulis sebuah novel adalah pekerjaan yang totalitas. Murakami larut secara emosi, kognisi dan fisik. Ia melatih diri secara emosional, intelektual, juga fisik. Menulis dengan engagement –larut. Wajar jika hasilnya sangat berkualitas.

Inilah yang bisa menjadi inspirasi. Anda tidak perlu meniru cara Haruki Murakami, namun bisa mendapat inspirasi dari keterlarutannya. Tigapuluh menit atau satu jam waktu Anda setiap hari untuk menulis, lakukan dengan penuh keterlarutan secara emosi, kognisi dan fisik.

Selamat menulis.

Bahan Bacaan

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com  

Ilustrasi : https://mixmag.asia/

 70 kali dilihat

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *