Teknik Menulis

Jangan Hanya Menuangkan Kata, Tuangkanlah Rasa

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“In deep emotional states, words flow out of you and are naturally tainted with emotion from your heart” — Tim Denning, 2018

.

Mari saya ajak Anda berlatih menulis dengan kehadiran hati, dengan ketajaman emosi, dengan rasa. Tidak sekedar menuangkan kata-kata, tidak sekedar menyampaikan ide dan opini. Bolehkah menulis semata-mata menuangkan kata-kata? Tentu saja boleh, untuk latihan lancar menulis.

Namun untuk menulis yang lebih berkualitas dan menyentuh hati pembaca, Anda juga harus menulis dengan melibatkan hati Anda. Menulis dengan sepenuh dedikasi, perasaan cinta, dan hasrat yang menyala. Tulislah dengan sepenuh rasa, bukan semata sepenuh kata. Tulisan Anda akan memberikan kekuatan pesan dan kedalaman makna bagi pembaca.

Bagaimana Menulis dengan Rasa?

Beberapa cara untuk menulis dengan hati, atau menghadirkan hati melalui tulisan, sudah saya sampaikan sebelumnya di blog Ruang Menulis ini. Simak kembali tips tersebut di sini. Saya akan menambahkan beberapa tips lagi untuk menghadirkan hati dalam tulisan Anda.

Tim Denning (2018) menceritakan pengalaman pribadinya. Menurut Denning, cara paling mudah untuk menulis dari hati adalah, “Lakukan saat Anda tengah dibanjiri emosi”. Ini bisa terjadi karena kondisi yang sangat menyedihkan, berduka, kecewa, atau bisa juga karena sangat gembira dan bahagia.

“In deep emotional states, words flow out of you and are naturally tainted with emotion from your heart”. Dalam suasana emosional yang dalam, kata-kata mengalir dari dalam diri Anda dan secara alami menyambung dengan kondisi emosi dan hati Anda, ujar Denning.

Maka di saat Anda tengah mengalami suasana kejiwaan yang emosional, di saat itu tulisan Anda akan menyertakan kehadiran hati. Perasaan jiwa Anda larut, masuk ke dalam setiap kata yang Anda pilih. Tanpa sadar, Anda telah mengajak pembaca masuk ke dalam suasana jiwa yang emosional.

Jangan lewatkan situasi ‘mahal’ ini. Suasana jiwa yang tengah dibanjiri suatu jenis emosi tertentu, adalah saat yang tepat untuk menulis. Saat Anda menangis, saat Anda merasa terpuruk, saat Anda merasa lelah, saat Anda merasa tak diterima, adalah situasi yang membuat Anda akan berada dalam keadaan terbaik untuk menulis dengan ketajaman emosi. Demikian pula saat jiwa dibanjiri bahagia dan suka cita, akan membuncahkan rasa melalui tulisan Anda.

Lisa Tener melihat, menulis kondisi diri adalah hal yang sangat kuat pesannya. Ia menyatakan, “The best writing comes from writing yourself into discovering a deeper truth or new perspective”. Tulisan terbaik berasal dari menulis diri sendiri untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam atau menemukan perspektif baru tentang diri sendiri, ujar Tener.

Selanjunya, Tim Denning  menyatakan, menulis dari hati mengharuskan Anda menulis tentang sesuatu yang Anda sukai. “Hati Anda, gairah Anda, dan emosi Anda sangat terkait erat satu sama lain”, ujar Denning.

Jangan menulis sesuatu yang Anda tidak memiliki minat tentangnya. Sangat sulit bagi Anda untuk memasukkan ketajaman emosi, apabila menulis tema yang Anda tidak memiliki minat tentangnya. Jika Anda tidak suka tema politik, sulit bagi Anda untuk menulis dengan sepenuh hati. Jika Anda tidak suka olahraga, sulit bagi Anda untuk menulis dengan sepenuh rasa.

Lisa Tener biasa melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya, untuk memacu kondisi emosi yang baik dan menyenangkan. Ia suka bergerak. “Saya biasa berjalan di Cliff Walk di Newport untuk mendapatkan inspirasi atau memanjat batu di Narragansett”, ujar Tener. Dengan demikian, ia akan berada pada suasana emosi jiwa yang nyaman dan menghasilkan kehadiran perasaan saat menulis.

Jangan Mengejar Like dan Share

Tim Denning menyarankan agar tidak mengejar jumlah like dan share dari tulisan yang Anda posting. “Godaan kita adalah menulis sesuatu, mempostingnya secara online, kemudian berharap sangat banyak orang yang membagikan posting Anda. Cara ini akan menimbulkan berbagai macam masalah, dan dijamin bahwa Anda tidak menulis dari hati”.

Saat orientasi menulis hanyalah banyaknya pujian, banyaknya like, banyaknya share, ini justru membuat tulisan tidak murni. Tidak orisinil dari dalam hati. Ada pamrih yang mengotori motivasi. Dampaknya, saat menulis justru menjadi penuh beban yang memberatkan perasaan.

Cemas kalau tidak ada likers, khawatir tidak ada jempol, takut tidak ada yang melakukan share serta posting ulang. Jika demikian kondisi menulis, benar kata Denning, “dijamin bahwa Anda tidak menulis dari hati”. Tulislah dengan ketulusan, maka akan lahir pula ketulusan. Jika menulis dengan beban, akan lahir sejumlah beban.

Di saat yang sama, Tener mengajak untuk mengabaikan kritik. “Leave your critic at the door and feel free to experiment and loosen up with playful writing activities”. Tinggalkan kritik Anda di depan pintu dan jangan ragu untuk bereksperimen dan bersantai dengan aktivitas menulis yang menyenangkan, ujarnya.

Bersenang-senanglah dalam menulis. Bersenang-senanglah dengan cara menulis. Niscaya akan mucul tulisan penuh rasa. Bukan sekedar penuh kata.

Bahan Bacaan

Lisa Tener, Writing from Your Heart, www.lisatener.com, 27 November 2018

Tim Denning, How To Write From The Heart: You’ve Got The Words To Change A Nation, www.medium.com, 25 Februari 2018

 32 kali dilihat

5 Komentar

      • Falasifah Ani Yuniarti

        Bismillaah,
        Alhamdulillaahirabbil’aalamiin, terima kasih, Pak Cah.

        Yang saya alami, menjelang haid,
        merupakan salah satu saat yang tepat. Karena bbrp hari menjelang haid, biasanya emosi lagi campur aduk.
        Di saat itu, menulis bisa menjadi terapi untuk menenangkan diri. Tulisaan yang ditulis pun biasanya membuat saya mengharu biru sendiri saat dibaca ulang.

  • Yudha Kusumawati

    MashaAllah…iya ust… kalo lihat coretan kecil dibuku yg sudah lama, terkadang jadi heran “kok bisa ya nulis seperti ini”

  • Nurwahyu Kusumaningtyas

    Alhamdulillah saya bisa melepas beban perasaan, beban kerja dan amanah dengan menulis. Mencoba tersenyum dan percaya fainnamaal yusri yusroo. Inna maal yusrii yusroo. Dibalik kesulitan ada kemudahan. Seiring dengan kesulitan ada kemudahan. Tsiqoh Fain tanshurulloha yanshurkum wayutsabit aqdamaqum. Amanah itu harus dijalankan bukan karena suka atau tidak suka. Allah tidak membebani seorang hamba diluar kesanggupannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *