Habit Menulis

Jangan Menjadi “Lazy Writers”

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Procrastination is my sin. It brings me naught but sorrow. I know that I should stop it. In fact, I will… tomorrow.” ~ Gloria Pitzer

.

Apakah Anda layak disebut sebagai guru, jika Anda hadir mengajar di sekolahan hanya setahun dua kali? Apakah seseorang layak disebut sebagai petani apabila ia tidak pernah ke sawah atau ke ladang untuk menggarap lahan? Apakah seseorang bisa disebut nelayan jika hanya sekali seumur hidup pergi melaut untuk mencari ikan?

Demikian pula penulis. Ia disebut penulis karena menulis setiap hari. Bukan setahun sekali atau dua kali, apalagi sekali seumur hidup. “Lazy Writer”, ujar June Whittle. Mungkin ini istilah yang tidak ramah. Lebih bagus kita sebut “penulis tidak tetap luar biasa”, untuk memberikan penghormatan atas usahanya menulis walau setahun sekali.

Di sebuah kampus besar di Yogyakarta, saya menjadi “dosen tidak tetap luar biasa”, karena hanya mengajar setahun dua kali. Bukan karena saya malas mengajar, namun karena mata kuliah yang saya ajar memang hanya ada di semester genap sebanyak dua kali pertemuan.

Agar tidak menjadi “lazy writer” kita harus mengenali tanda-tanda kemalasan tersebut. Jangan sampai kita terjebak dalam kemalasan yang akhirnya membuat kita tidak pernah menulis.

Tanda Pertama, Menunda untuk Menghentikan Penundaan

June Whittle mengistilahkan, “You procrastinate about stopping procrastination. Ini adalah tanda-tanda datangnya kemalasan pada penulis. Saat tiba waktu menulis, ada saja alasan untuk tidak menulis, sembari mengatakan kepada diri sendiri, “Aku bisa menulis besok”.

Dan begitulah besok, ia melakukan hal serupa dan mengatakan kalimat serupa. Gloria Pitzer, penulis puluhan buku resep masakan, menyatakan “Penundaan adalah dosa saya. Hal itu tidak memberiku apa-apa selain kesedihan. Aku tahu bahwa aku harus menghentikannya. Namun faktanya, aku akan… besok”.

Kita semua tahu menunda-nunda itu tidak baik. Namun banyak di antara kita yang menunda untuk menghentikan penundaan. Ini adalah tanda datangnya kemalasan menulis, yang harus kita lawan.

Paul Rudnick, penulis buku “I’ll Take It”, mengomentari fenomena lazy writers dengan menyatakan, “Sebagai seorang penulis, saya membutuhkan banyak waktu untuk menyendiri. Menulis adalah 90 persen penundaan: membaca majalah, makan sereal di luar kotak, menonton televisi. Ini adalah bab melakukan segala aktivitas untuk menghindari menulis, sampai sekitar jam empat pagi —saat Anda berada pada titik di mana harus menulis.”

Artinya, tidak jadi menulis, karena sibuk mengerjakan hal-hal lain —agar tidak menulis. Inilah lazy writers. Dan itu bukan Anda.

Tanda Kedua, Menghabiskan Waktu Terlalu Banyak untuk Berpikir

Ketika seseorang berpikir berjam-jam tentang apa yang akan ditulis, namun tidak menulis, ini adalah tanda hadirnya kemalasan. Anda merenung di depan laptop atau komputer, sambil berpikir keras, tentang apa yang akan ditulis?

“Mau menulis apa ya? Fiksi atau nonfiksi? Kalau fiksi, aku memilih jenis apa ya? Menulis puisi, cerpen, cerbung atau novel? Kalau nonfiksi, aku menulis apa ya? Esai, atau feature, atau artikel? Hmmm… temanya apa ya? Nulis tentang ekonomi, atau budaya, atau tentang olahraga, atau… apa ya?”

Berjam-jam memikirkan akan menulis apa, hingga habis waktu menulis. Jika kejadian seperti ini berulang-ulang, sesungguhnya menandakan kemalasan. Penulis itu pandai mengeksekusi. Tidak bingung dengan berbagai alternatif pilihan tema atau jenis tulisan. Pilih salah satu, apapun itu, dan menulislah.

Tanda Ketiga, Takut Penilaian Orang

You fear that you’re not a good enough writer”, ujar June Whittle. Banyak orang merasa khawatir atas penilaian orang lain, sampai akhirnya tidak menulis. Mungkin karena dirinya bertipe perfeksionis, sehingga tidak bisa menerima penilaian negatif atas karya tulisnya. Inginnya menulis yang sempurna tanpa kekurangan atau kesalahan.

Padahal semua hal itu proses, bukan instan. Menjadi berkualitas juga proses, bukan instan. Maka hendaknya Anda memasang keberanian untuk menampilkan jati diri dalam menulis. Jangan risau dengan penilaian orang lain atas proses yang tengah berlangsung dalam diri Anda.

Rachel Ballon, penulis buku Unlock the Blocks, menyatakan “Menulis itu kerja keras. Mengisi halaman kosong dengan pikiran, rasa sakit, kegembiraan, dan ide kreatif Anda, membutuhkan keberanian yang luar biasa.”

Tanda Keempat, Anda Tidak Mengoreksi Tulisan Sebelum Mengirimnya

You don’t proofread properly before submitting your work, ujar June Whittle. Tanda penulis malas adalah tidak mau melakukan proofreading sebelum mengirim tulisan. Saya sering mendapat kiriman tulisan mentah untuk mendapat kata pengantar. Masih sangat banyak kesalahan dalam tulisannya.

Saya sampaikan kepada si penulis, “Anda saja saya editor di penerbit mayor, saya akan langsung tolak naskah Anda tanpa harus membaca keseluruhan isinya”. Karena saya membaca tiga paragraf pertama, sudah menemukan sangat banyak salah tulis, yang menandakan tidak dilakukan proofreading sebelumnya.

Meskipun di penerbit mayor disediakan tenaga proofreader dan editor, akan tetapi memasukkan naskah untuk diterbitkan tanpa melalui proses proofreading adalah kemalasan. Lakukan proofreading, juga editing substansi, semaksimal bisa Anda lakukan.

Pihak penerbit bisa menilai karakter penulis, dari kiriman naskah mereka. Apakah si penulis termasuk kategori malas, ataukah penulis yang rajin serta disiplin. Tentu ini memengaruhi penilaian redaksi.

Bahan Bacaan

June Whittle , Do You Recognize the Early Warning Signs of a Lazy Writer? www.writersincharge.com

Ilustrasi

https://wallpaperseveryday.com/category/animals/cats/76601

 38 kali dilihat

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *