Positive Writing

Komentar Negatif? Abaikan Saja

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Real writers get bad reviews” –Michael Alvear

.

Saya sepakat dengan Michael Alvear, bahwa penulis sejati selalu mendapatkan ulasan negatif. Siapapun mereka, bahkan sekelas penulis dunia Stephen King, tetap mendapatkan ulasan negatif.

Sebenarnya ini berlaku untuk semua konteks. Komentar negatif bukan hanya terjadi dalam dunia tulis menulis. Bahkan orang-orang terbaik di muka bumi ini –para Nabi, juga mendapatkan komentar negatif, celaan, bullying dan permusuhan. Ini sudah sejak zaman dulu kala.

Persoalannya adalah, komentar negatif terkadang melemahkan bahkan mematahkan semangat menulis. Apalagi bagi para pemula yang tengah belajar menulis. Ulasan negatif lebih sering melemahkan ketimbang menumbuhkan.

Susahnya lagi, hal-hal negatif lebih mudah terekam otak, sehingga mampu memberikan pengaruh dalam waktu yang lama. Coba perhatikan. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita akan mengingat orang yang pernah mengejek dan menyakiti hati kita, tanpa bisa melupakannya. Begitu pula dalam menulis.

Ahli saraf Rick Hanson berpendapat, otak manusia cenderung memiliki reaksi yang tidak proporsional terhadap hal buruk. Dalam buku “Hardwiring Happiness” ia menyatakan,  “Otak manusia itu seperti velcro untuk hal negatif, namun seperti teflon untuk hal positif.”

Kita tahu, velcro itu perekat, sedangkan teflon itu “anti lengket”. Menurut Hanson, untuk hal-hal negatif, otak kita cenderung berfungsi sebagai velcro. Ulasan negatif cenderung melekat dan sulit dilupakan. Ulasan positif cenderung tidak melekat di otak kita, seperti saat menggoreng dengan panci teflon.

Tak Bisa Menghindar, Hadapi Saja

“Penulis itu terbagi dua jenis,” ujar Isaac Asimov, “ketika menghadapi ulasan negatif. Pertama, mereka yang emosional dan menampakkan secara jelas kemarahannya. Kedua, mereka yang emosional dan diam-diam saja menyimpan kemarahannya.”

In other words, welcome to the club”, ujar Michael Alvear. “Real writers get bad reviews”, lanjutnya.

Ketidaksukaan para penulis terhadap ulasan buruk, tampak pada pernyataan Kurt Vonnegut berikut. “Any reviewer who expresses rage and loathing for a novel is preposterous. He or she is like a person who has put on full armor and attacked a hot fudge sundae.”

“Setiap orang yang mengungkapkan kemarahan dan kebencian terhadap sebuah novel, adalah tindakan tidak masuk akal. Mereka seperti orang yang memakai baju besi lengkap dan menyerang es krim cokelat,” ungkap Kurt Vonnegut.

Apapun pendapat Anda terhadap para pemberi komentar negatif itu, yang harus Anda lakukan adalah bersikap dengan benar. Anda boleh mengabaikannya, jika hal itu melemahkan semangat menulis Anda. Tidak pwrlu dibaca, tidak perlu ditanggapi. Lebih baik Anda gunakan waktu untuk membuat karya baru, ketimbang menghabiskan waktu untuk memikirkan komentar negatif atas tulisan Anda.

Claire Scobie menyatakan, “Saya mencoba untuk menghindari ulasan negatif atas tulisan saya, terutama ketika saya sedang mengerjakan proyek menulis baru. Ulasan negatif bisa membuat saya tidak fokus”.

Libatkan Pasangan Anda, Serius!

Agar komentar atau ulasan negatif tidak berpengaruh negatif, Anda bisa minta tolong kepada orang lain untuk membacanya. Misalnya minta tolong kepada suami Anda atau istri Anda untuk membacanya. Hal ini supaya tidak memengaruhi mental Anda.

Sebastian Faulks penulis buku Paris Echo punya kebiasaan meminta istrinya untuk membaca ulasan buruk terhadap tulisannya. “Mengapa saya harus membaca sendiri?” ujar Faulks. Ini hal menarik. Penulis sekelas Faulks juga tidak suka membaca ulasan negatif atas bukunya.

Hal sama dilakukan oleh Joanna Penn. Penulis puluhan buku novel ini selalu meminta suaminya untuk membaca ulasan negatif terhadap tulisannya. Dengan cara ini, Penn tidak perlu dibuat sibuk dengan tanggapan miring atas karya-karyanya. Ia bisa lebih fokus membuat karya baru, ketimbang sibuk menanggapi kritikan orang.

Tuh, bagusnya penulis itu sudah punya pasangan hidup. Jadi ada yang bisa membaca komentar negatif orang lain.

Bahan Bacaan

Claire Scobie, 5 Ways to Create a Positive Author Mindset, www.clairescobie.com, 30 Oktober 2017

Michael Alvear, Real Writers Get Bad Book Reviews. Here’s Why That’s OK, www.thewriterlife.com, 3 Februari 2017

 16 kali dilihat

2 Komentar

  • Maryati

    kekuatan nih. Libatkan pasangan tuk baca tulusan kita. Minimal muncul kekuatan mental pertama atas penilaian pasangan. Mau cakep or jel asal kebaikan sampaikanlah. Trimk sarapan paginya

  • Fria nella

    Energi positif dan energi negatif, ayah dan bunda dalam satu keluarga, mengingatkan akan ciptaan Allah SWT yang selalu berpasangan. Kesemuanya itu mengandung makna untuk tercipta satu keseimbangan serta keselarasan dalam harmoni kehidupan.

    Terima kasih pak Cah, semoga bapak sekeluarga sehat semua, Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *