Positive Writing

Mekanisme Kerja Menulis Ekspresif untuk Perbaikan Mental dan Fisik

.

Writing for Wellness – 89

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

James W Pennebaker (2017) menyatakan bahwa menulis ekspresif merupakan suatu bentuk pengungkapan diri, dengan cara bebas berekspresi melalui tulisan, sesuai dengan kondisi setiap individu. Melalui teknik menulis ekspresif, seseorang dapat mengeluarkan emosi negatif seperti perasaan sedih, kecewa, marah dan berduka ke dalam tulisan dan akan memberikan pengaruh positif bagi pelaku.

Perubahan positif terjadi pada sikap, peningkatan kreativitas, aktivasi memori, perbaikan kinerja dan kepuasaan hidup, meningkatkan kekebalan tubuh, mengatasi psikosomatik, dan lain sebagainya. Klein dan Boals (2001) menyatakan bahwa melalui menulis ekspresif dapat mengatasi kecemasan dan mengurangi kecenderungan seseorang memikirkan hal yang dikhawatirkan.

Mengapa Menulis Ekspresif Bisa Bermanfaat untuk Kesehatan?

Mengapa menulis ekspresif bisa menurunkan kecemasan dan menghilangkan trauma? James Pennebaker menjelaskan dua alasan berikut.

Pertama, perilaku individu menekan ingatan dan perasaan terkait trauma, berpotensi menimbulkan penyakit. Ada berbagai penyakit terkait stres, yang dalam jangka panjang akan meningkatkan sistem otonomi tubuh seperti tekanan darah dan denyut jantung. Melalui menulis ekspresif, perasaan dan pikiran yang tertekan akan tersalurkan, dengan mekanisme katarsis.

Kedua, menghadapi peristiwa traumatik melalui kegiatan menulis ekspresif, membuat individu mampu mengasimilasi, melihat kembali, dan menemukan makna dari kejadian tersebut. Dengan demikian, terdapat peristiwa kognitif dalam proses menulis, yang mendorong terjadinya ‘rasionalisasi’ dari peristiwa traumatik yang pernah dialami.

Bagaimana Mekanisme Kerja Menulis Ekspresif?

Sudah sangat banyak studi membuktikan efektivitas menulis ekspresif untuk memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Bagaimana mekanisme kerja dari menulis ekspresif sehingga dapat memberikan manfaat kesehatan kepada individu? Berikut beberapa penjelasan ahli.

  1. Mekanisme katarsis emosi

Gebler dan Maercker (2007) menjelaskan bahwa menulis ekspresif dapat digunakan sebagai sarana ekspresi emosi yang baik. Menurut mereka, melalui menulis ekspresif, seseorang dihadapkan kembali kepada peristiwa traumatik yang pernah dialami, namun dengan pkiran dan perasaan baru yang lebih jernih dalam melihat peristiwa tersebut.

Katarsis bermakna pelepasan emosi yang menekan. Ketika seseorang berada dalam situasi emosi yang menekan, tentu merasakan ketidaknyamanan. Emosi ini memerlukan sarana pelepasan, agar dirinya bebas dari ketidaknyamanan tersebut.

Seorang istri yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari suami —apalagi berulang dan rutin, membuat suasana jiwanya tidak nyaman. Marah, kecewa, sedih, jengkel, bercampur aduk. Sangat tidak mengenakkan.

Salah satu sarana untuk melepaskannya adalah dengan menuliskan emosi itu. Lepaskan beban emosi yang membelenggu Anda. Tulis apapun yang ingin Anda tulis, marah, memaki, sumpah serapah. Tulis semuanya. Tak ada aturan yang harus Anda patuhi dalam menulis untuk katarsis.

Jika Anda menulis di kertas, baca ulang tulisan Anda. Baca lagi dan lagi, sampai Anda merasa puas membacanya. Setelah itu, bakarlah kertas itu, untuk simbol pelepasan emosi yang sudah usai. Lega, karena Anda sudah menuliskannya.

  • Mekanisme inhibisi emosi dan konfrontasi

Pennebaker mengemukakan, menekan ingatan dan perasaan terkait peristiwa traumatik menghasilkan stresor pada tubuh. Dampaknya, seseorang mengalami tekanan yang lebih tinggi sehingga sulit tidur, terkurung pemikiran obsesif, ruminasi tentang peristiwa tersebut, dan penyakit mental serta fisik dalam waktu lama.

Kacewickz, dkk (2006) mengemukakan bahwa orang-orang yang menghadapi trauma namun tidak mengungkapkan hal tersebut akan memiliki kesehatan yang lebih buruk. Saat individu berusaha menghalangi atau menekan pikiran dan emosi, akan berpengaruh pada sistem kerja tubuh.

Menghadapi trauma melalui menulis mengenai peristiwa traumatis dan menyadari emosi yang dirasakan, adalah satu cara menurunkan stres. Dalam kegiatan menulis ekspresif, dibutuhkan integrasi kognisi dan pemahaman untuk menuliskan kejadian traumatik dan perasaan yang menyertainya. Ini berarti, menulis tentang peristiwa traumatik dapat menurunkan stres yang dialami tubuh.

  • Mekanisme konstruksi narasi koheren

Penelitian yang dilakukan oleh Pennebaker menggunakan program Linguistic Inquiry and World Count (LIWC), mendapatkan temuan menarik. Di akhir sesi menulis ekpresif, partisipan yang mengalami peningkatan kesehatan yang lebih besar, menggunakan lebih banyak kata-kata dengan muatan emosi positif.

Mereka juga lebih sedikit dalam menggunakan kata-kata dengan emosi negatif. Diketahui pula, mereka menggunakan kata-kata yang menunjukkan tentang adanya mekanisme pemrosesan kognisi seseorang terhadap peristiwa traumatik tersebut –seperti memahami, menyadari, dan sebagainya.

Melalui menulis ekspresif, seseorang dapat menulis tentang pengalaman traumatiknya dengan lebih terorganisir. Tindakan ini merupakan mekanisme yang lebih sehat untuk mengkomunikasikan perasaan dan pikiran yang sedang tertekan (Kacewicz, dkk 2006).

  • Mekanisme pemrosesan kognitif

Menurut Pennebaker, saat melakukan aktivitas menulis ekspresif, terjadi pemrosesan kognitif sebagai sebuah mekanisme potensial yang dapat membantu individu mengorganisasikan dan merangkai ingatan mengenai peristiwa traumatik. Hal ini berimplikasi terhadap penggambaran yang lebih integratif dan positif mengenai dirinya, orang lain, dan dunia luar.

Kegiatan menulis ekspresif mengenai peristiwa traumatik mampu meningkatkan kapasitas memori kerja (working memory) yang meningkatkan kemampuan seseorang dalam pemrosesan kognitif. Cara pandang dan cara merasakan menjadi lebih utuh, tidak didominasi oleh tekanan emosi negatif.

Demikianlah penjelasan para ahli terkait mekanisme kerja menulis ekspresif untuk kesehatan mental dan fisik. Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.

Bahan Bacaan

Dwi Nikmah Puspitasari dkk, The Development of Expressive Writing Module to Improve Post-Traumatic Growth in Disaster Victims, Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang, (2019), https://doi.org/10.1515/9783110679977-022, diakses dari https://content.sciendo.com

Ewa Kacewicz, Richard Slatcher, James W. Pennebaker, Expressive Writing: An Alternative to Traditional Methods, DOI: 10.1007/0-387-36899-X_13, Desember 2006, https://www.researchgate.net

Florian A. Gebler, Andreas Maercker, Expressive Writing and Existential Writing as Coping with Traumatic Experiences: A Randomized Controlled Pilot Study, 5 Desember 2007, http://citeseerx.ist.psu.edu

James W. Pennebaker, Expressive Writing in Psychological Science, https://doi.org/10.1177/1745691617707315, 9 Oktober 2017, diakses dari https://journals.sagepub.com

Karen A. Baikie, Kay A. Wilhelm, Emotional and Physical Benefits of Expressive Writing, DOI: 10.1192/apt.11.5.338, September 2005, https://www.researchgate.net/

Kitty Klein, Adriel Boals, Expressive Writing can Increase Working Memory Capacity, DOI: 10.1037/0096-3445.130.3.520, Oktober 2001, https://www.researchgate.net

.

Ilustrasi : https://stories.butler.edu/

 2 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *