Positive Writing

Memasukkan Makna ke Dalam Tulisan Ekspresif

.

Writing for Wellness – 55

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Selama ini menulis ekspresif diketahui memiliki sangat banyak manfaat fisiologis dan psikologis. Efektivitas menulis ekspresif dalam terapi stres pasca trauma telah dipelajari secara ekstensif selama bertahun-tahun, misalnya oleh Pennebaker & Beall (1986); Booth et al. (1997); Petrie et al. (1995), Pennebaker (1997); Stockton, Joseph & Hunt (2014); Alparone, Pagliaro & Rizzo (2015); Barak & Leichtentritt (2017); Pascual-Leone et al. (2016), Pennebaker, Kiecolt-Glaser & Glaser (1988); Sheerin et al. (2018); Smyth, Hockemeyer & Tulloch (2008), Lepore et al. (2002), dan masih banyak lainnya.

Misalnya, ditemukan bahwa penulisan ekspresif dapat mengakibatkan lebih sedikit kunjungan ke rumah sakit dan peningkatan fungsi kekebalan. Menulis ekspresif juga menjadi metode yang efektif untuk melepaskan kortisol yang terkadang disimpan dalam tubuh setelah trauma. Dampaknya, dapat menurunkan risiko diabetes tipe II, obesitas, dan bahkan kematian akibat kanker.

Kadar kortisol yang berkurang juga bisa memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer. Menulis ekspresif juga terbukti memberikan efek psikologis yang bagus. Seperti yang telah disampaikan Pennebaker (1986), Pascual-Leone (2016), dan Keene (2017), bahwa tulisan ekspresif dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kemampuan untuk mengatur emosi.

Leah Kennedy Rose (2019) menyatakan, penurunan tingkat kecemasan bisa terjadi karena menulis ekspresif memungkinkan klien melalui proses habituasi, yang merupakan teknik yang biasa digunakan oleh terapis perilaku kognitif.

Leah Kennedy Rose (2019) menyatakan, penurunan tingkat kecemasan bisa terjadi karena menulis ekspresif memungkinkan klien melalui proses habituasi, yang merupakan teknik yang biasa digunakan oleh terapis perilaku kognitif. Penurunan kecemasan ini terjadi setelah klian tidak melebih-lebihkan ancaman yang terkait dengan stimulus tertentu, atau tidak lagi meremehkan kemampuan mereka untuk menangani masalah dengan benar.

Menulis Kesedihan dengan Memberikan Makna

Rose menyatakan, menuliskan kisah kehidupan melalui teknik menulis ekspresif, sering digunakan untuk intervensi para penyintas PTSD (posttraumatic stress disorder / stres pasca tauma). Tujuannya untuk memulihkan mereka dari peristiwa traumatis yang pernah mereka alami.

Salah satu perawatan tersebut dikenal sebagai terapi eksposur naratif (narrative exposure therapy / NET). NET adalah pendekatan pengobatan dimana penderita trauma menuliskan seluruh kehidupan mereka, dari lahir hingga sekarang.

Terapi menulis naratif yang didasarkan pada teknik perilaku kognitif, dikenal sebagai testimony therapy (terapi testimoni). Terapi testimoni pertama kali dikembangkan, setelah sekelompok mantan tahanan politik di Chili memberikan kesaksian tentang pengalaman traumatis mereka.

Rose menjelaskan, setelah klien mendapatkan intervensi terapi testimoni, mampu menurunkan gejala pasca trauma mereka. Selama ini terapi testimoni dan NET paling sering digunakan untuk korban trauma perang dan kekerasan terorganisir lainnya, seperti para pengungsi.

Pada metode, NET para partisipan tidak hanya diminta untuk menceritakan tentang peristiwa traumatis, tetapi diinstruksikan untuk menuliskan seluruh hidup mereka. Penekanan utama tetap pada kisah yang mereka rasakan sebagai traumatis. Secara teknis, pelaksanaan NET dipandu oleh terapis melalui proses naratif.

Pengaruh Pemberian Makna (Meaning Making)

Menulis ekspresif akan bisa memberikan makna yang lebih mendalam apabila menyertakan makna (meaning making) yang terkandung dalam peristiwa traumatis tersebut. Bukan sekedar menulis detail kejadian yang menyedihkan atau membuat trauma, namun mencoba memberikan makna positif atas apa yang telah terjadi.

Menulis ekspresif akan bisa memberikan makna yang lebih mendalam apabila menyertakan makna (meaning making) yang terkandung dalam peristiwa traumatis tersebut.

Adriel Boals (2012) telah menguji proses ‘pembuatan makna’ selama intervensi penulisan ekspresif. Apakah dengan memberikan makna, akan bisa memberikan hasil yang lebih baik. Pembuatan makna dioperasionalkan dalam dua cara –penilaian tentang pembuatan makna, dan penggunaan kata-kata kognitif.

Studi Boals ini adalah analisis ulang dari serangkaian studi penulisan ekspresif yang diterbitkan sebelumnya. Sebanyak 84 patisipan menuliskan peristiwa negatif dan melakukannya dalam tiga sesi penulisan ekspresif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa hubungan antara pembuatan makna dan perubahan dalam pemikiran intrusif bergantung pada tingkat kesedihan yang dialami partisipan.

Untuk partisipan yang menulis peristiwa yang sangat menyedihkan, kemampuan memberikan makna atas peristiwa tersebut memberikan penurunan yang lebih besar terhadap pikiran yang mengganggu. Sebaliknya, bagi peserta yang menulis tentang peristiwa yang tidak terlalu menyedihkan, kemampuan membuat makna tidak banyak memberikan pengaruh terhadap pikiran yang mengganggu.

Hasil studi Boals ini menunjukkan bahwa membuat makna selama intervensi menulis ekspresif dapat bermanfaat, jika peserta menulis tentang peristiwa yang sangat menyedihkan. Sebagai contoh, ketika seseorang sangat bersedih karena mendapatkan perlakuan jahat dari pasangan, ia mencoba menggali makna positif atas peristiwa yang menimpa dirinya tersebut.

Ketika ia berhasil memberikan makna yang positif, ia akan mendapatkan suasana jiwa yang lebih tenang dengan menulis ekspresif. Semakin menyedihkan peristiwa yang terjadi, harus semakin pandai memberikan makna yang positif dalam proses penulisan ekspresif. Dengan demikian, manfaat pelepasan trauma akan semakin dirasakan.

Selamat menulis, selamat berbahagia.

Ilustrasi : https://intervention.ng/

Bahan Bacaan

Adriel Boals, The Use of Meaning Making in Expressive Writing: When Meaning is Beneficial, DOI: 10.1521/jscp.2012.31.4.393, April 2012, https://www.researchgate.net/

Leah Kennedy Rose, The Role of Meaning Making in Expressive Writing and Adults with Post Traumatic Stress Disorder: A Literature Review, Lesley University, https://digitalcommons.lesley.edu, 18 Mei 2019

 22 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *