Positive Writing

Mengapa Artikel Harus Mencantumkan Identitas Penulis?

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Kehadiran internet dan media sosial telah mengubah sangat banyak hal dalam kehidupan kita. Termasuk dalam dunia literasi. Sangat banyak manfaat dan kemudahan yang kita dapatkan melalui internet, namun di sisi lain bisa pula mengikis sikap kritis dan kehati-hatian.

Mari kita lihat contoh kejadian yang sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Di berbagai grup Whatsapp, sering kita jumpai sebuah tulisan yang dikirim oleh seorang anggota grup. Saya ambil secara acak ya, untuk contoh saja. Berikut sebuah tulisan yang diposting teman saya di sebuah grup, hari ini, Ahad 30 Agustus 2020.

********

Pandemic ini cepat atau lambat akan menular secara global, dan tidak dpt dihindari. Most important is: tingkatkan daya tahan tubuh, dan dia juga memberikan 5 cara utk meningkatkan ANTI BODY.

Tidak bisa hanya mengandalkan MASKER dan CUCI TANGAN. Teman2 dan Saudara2 sekalian, sebaiknya cepat2 meningkatkan ANTI BODY masing2. Bagaimana caranya membuat ANTI BODY dlm waktu singkat?

1. Setiap hari Harus Cukup Masa Tidur Minimum 7 JAM. Bagi orang2 yg masa tidur kurang dari 7 jam, akan mengalami penurunan ANTI BODY nya.

2. Diwajibkan makan secara ‘BAGUS’. Bukan maksud makan makanan yg mewah, tetapi maksudnya makan makanan yg ber PROTEIN tinggi.

Dan INGAT jangan makan GULA. Begitu makan gula, reaksinya adalah menghentikan pembentukan Cell DARAH PUTIH selama 5 jam. Begitulah pentingnya memperbaiki pola makan kita.

3. Covid19 telah membentuk system pola hidupnya. Begitu memasuki musim dingin akan berkembang lebih cepat. Maka diperlukan banyak berjemur MATAHARI untuk membantu process terbentuknya vitamin D dlm darah.

Para Ahli Medis juga menemukan bahwa bagi orang yg rutin mengkonsumsi Vitamin D secara teratur, resiko kena infeksi tenggorokan menurun sekitar 60%. Jika tidak sempat berjemur matahari, boleh makan Vitamin D tablet sesuai dosis yg dianjurkan.

4. Begitu pulang dari kantor, segera berkumur boleh dgn apa saja: Air panas, Air Garam hangat, Listerin, Teh hijau, semuanya berkhasiat sama.

5. Mandi AIR PANAS sekali dlm sehari, hasilnya meningkatkan suhu badan yg dpt mengurangi resiko tertular Covid19.

Para Ahli Medis ini juga memberitahu, kita cukup melakukan 4x mandi AIR PANAS dlm seminggu, resiko tertular Covid19 akan menurun sekitar 40%. Cukup Mandi Air Panas dgn suhu 40 derajat Celsius dan selama 5 menit sudah CUKUP.

Tidak perlu panik, selalu cuci tangan dan berkumur-kumur, pakai masker, hindari kerumunan.

Semoga Sehat Selalu

******

Demikian isi tulisan di sebuah grup Whatsapp, sekedar sebagai contoh bagaimana sebuah tulisan beredar di berbagai grup. Isi tulisan tersebut tentu sangat bermanfaat untuk menjaga diri dari Covid-19 dengan meningkatkan antibody.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, bisakah isi tulisan itu dipercaya? Bagi para ahli kesehatan, akan bisa menilai apakah tulisan tersebut bisa diterima atau tidak. Namun bagi kalangan awam, tentu akan sangat sulit untuk memberi penilaian.

Menyebar Tanpa Identitas

Masalah pertama dan paling utama adalah, tulisan tersebut tidak ada nama penulisnya. Ini menyebabkan, kita tidak tahu latar belakang penulis. Apakah ia seorang ahli kesehatan, apakah ia kredibel, apakah ia bisa dipercaya, dan lain sebagainya. Jika ada identitas penulis dengan jelas, maka akan bisa digunakan untuk melacak, siapakah jati diri si penulis.

Ketika saya tanya kepada teman yang mengirim tulisan ke grup, apakah itu tulisannya sendiri? Ia menjawab, bukan. Saat saya tanya lebih lanjut, itu tulisan siapa? Dengan enak ia menjawab, tidak tahu.

“Saya hanya share ulang, dari grup lain”, jawab teman tersebut.

“Semoga bermanfaat”, lanjutnya.

Saya minta ia bertanya kepada orang yang mengirim di grup sebelumnya, siapa penulis artikel tersebut? Jawabannya semakin meragukan. “Sudah saya tanyakan ke teman yang posting di grup sebelah. Kata teman itu, ia juga hanya mengirim dari grup yang lain”. Weleh weleh….

Apakah mungkin ada tulisan tiba-tiba muncul sendiri tanpa ada penulisnya? Tentu tidak mungkin. Sebuah tulisan, panjang ataupun pendek, selalu ada penulisnya. Tapi sayang, sang penulis tidak mencantumkan identitas dirinya.

Mungkin saja, sang penulis hanya bermaksud mengirim pesan kepada teman-teman satu grup, misalnya. Sehingga ia merasa tidak perlu mencantumkan identitas, toh teman-teman satu grup semua sudah tahu siapa dirinya. Namun, hukum dalam dunia media sosial adalah, apapun yang kita posting di sebuah grup, bisa menyebar tanpa bisa dikendalikan, ke berbagai grup lainnya.

Mungkin pula, si penulis sudah mencantumkan identitas dirinya, baik lengkap maupun dengan singkatan. Namun identitas tersebut hilang atau sengaja dihilangkan oleh pihak yang mengirim dan menyebar ke berbagai grup. Tentu ada beragam alasan, mengapa seseorang menghapus identitas penulis —saya tidak tahu.

Berargumen dengan Manfaat

Jika seseorang mengirim tulisan tersebut ke grup-grup yang ia ikuti, dengan maksud “semoga bermanfaat” bagi teman-teman lain, tentu tidak semudah itu. Persoalan manfaat, jelas tidak mudah dalam contoh di atas. Jika tulisan itu dibuat oleh seorang dokter, atau master dan doktor bidang kesehatan, sepertinya kita akan langsung percaya. Karena ditulis oleh pihak yang kompeten dengan bidangnya.

Atau ditulis oleh seseorang yang bukan ahli kesehatan, namun ia mencantumkan rujukan atau referensi, sumber pengambilan data dan analisa tersebut. Nah, ini tentu akan sangat tergantung kepada daftar pustaka atau referensi yang digunakan. Jika referensinya kredibel, tentu akan bisa diterima dan dipercaya, meskipun si penulis bukan ahli kesehatan.

Sebab, ada kalimat “4 x mandi AIR PANAS dlm seminggu, resiko tertular Covid19 akan menurun sekitar 40%”, ini jelas bukan bahasa puisi atau fiksi. Ini adalah data ilmiah, atau ulasan akademik. Tidak mungkin seseorang mengarang data dan analisa seperti itu, jika bukan ahlinya.

Dalam tulisan tersebut terdapat angka prosentase penurunan, yang tidak mungkin didapat secara mengarang alias imajinasi. Ada frekuensi 4 kali sepekan, ini mirip dengan saran dokter, minum sirup obat sehari tiga kali. Jelas ini saran yang akurat apabila memang berasal dari dokter atau ahli kesehatan.

Manfaat, itu kan kalau informasinya valid atau sahih. Jika memang itu benar secara medis, maka menyebarkannya bukan saja bermanfaat, namun berpahala. Namun jika menyebar informasi salah alias hoax, bukan saja tidak bermanfaat, namun bahkan bisa berdosa karena menyesatkan banyak orang.

Lalu siapa yang mampu menilai validitas isi tulisan tersebut? Tentu saja para ahli di bidang kesehatan. Masyarakat awam, tidak akan mampu melakukan validasi. Celakanya, masyarakat akan cepat percaya kepada sebuah konten yang berulang-ulang mereka dapatkan.

Gara-gara ikut 40 grup Whatsapp dan tulisan tersebut beredar di 40 grup yang dia ikuti, maka seakan-akan semua orang sudah memiliki pandangan atau keyakinan yang sama. Padahal ternyata, perilakunya sekedar share ulang, tanpa validasi, tanpa peduli siapa penulis artikel tersebut.

Pertanggungjawaban

Menuliskan identitas diri penulis dalam artikel, adalah bentuk pertanggungjawaban akademik, juga pertanggungjawaban moral. Apabila ada pihak yang ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut, ada nama yang bisa ditanya. Apabila ada yang mempersoalkan isinya, ada pihak yang bisa dihubungi.

Inilah pentingnya identitas diri penulis. Koran dan majalah, selalu menuntut nama dan identitas penulis. Bahkan dalam platform online terbuka seperti Kompasiana, untuk verifikasi penulis, diperlukan data yang sangat detail. Seorang teman bertanya kepada saya, mengapa Kompasiana meminta data sedetail itu?

“Karena penulis harus bertanggung jawab”, itu jawaban saya.

Maka tulislah identitas diri Anda dalam setiap tulisan yang Anda posting, meskipun hanya di grup. Kecuali jika hanya sekedar komentar pendek atau candaan dan silaturahim di grup. Tentu berlaku hukum silaturahim, penuh kekeluargaaan, penuh kehangatan dan persahabatan.

.

Foto : tribunnews.com

 44 kali dilihat

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *