Positive Writing

Menggapai Kebahagiaan Autentik dengan Menulis

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Martin Seligman dalam buku Authentic Happiness menyatakan bahwa kebahagiaan autentik berasal dari hasil penilaian diri atau hasil mengidentifikasi dan menumbuhkan kekuatan fundamental dalam diri. Artinya, kebahagiaan adalah hal yang bisa dipelajari, diajarkan, juga ditumbuhkan.

Selanjutnya, Seligman menemukan bahwa kebahagiaan terkait dengan enam nilai (virtue). Virtue menjelaskan tentang nilai-nilai kebaikan utama yang unik dan merupakan tujuan dari segala sesuatu.

Misalnya, virtue dari gula adalah memberi rasa manis. Jika tidak dapat memberi rasa manis, maka gula tidak memiliki makna. Virtue dari garam adalah memberi rasa asin. Jika tidak bisa memberi rasa asin, maka garam telah kehilangan makna.

Dalam tulisan kali ini, saya membawa enam nilai (virtue) ini khusus dalam konteks menulis. Bahwa kita bisa menggapai kebahagiaan autentik melalui tulisan, apabila menjaga enam virtue dalam diri kita. Enam nilai itu adalah sebagai berikut:

Pertama, Nilai Kebijaksanaan dan Pengetahuan (Virtue of Wisdom and Knowledge)

Penulis harus terus mengasah kebijaksanaan dan pengetahuan. Jangan lelah untuk terus menerus belajar, menambah ilmu pengetahuan dan wawasan. Jangan lelah untuk menggapai syukur yang dihasilkan dari proses pembelajaran seumur hidup terhadap kehidupan itu sendiri.

Jika penulis memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan, akan terekspresikan dalam hasil karya tulisnya. Tidak sekedar menulis hal-hal bombastis, tidak sekedar bermain kata-kata untuk memesona. Namun benar-benar muncul tulisan yang berisi kebijaksanaan dan pengetahuan, yang mampu memberikan kekuatan pengaruh kepada pembaca.

Kebahagiaan autentik akan hadir, apabila nilai-nilai kebijaksanaan dan pengetahuan bisa menjadi kepribadian penulis. Makin banyak menulis, makin bijak dan makin mendalam pula pengetahuannya.

Kedua, Semangat dan Gairah (Virtue of Courage)

Penulis harus mampu menjaga semangat dan gairah dalam kehidupan. Ada sangat banyak kesulitan dalam menulis, namun jika selalu bersemangat dan bergairah untuk memecahkan kesulitan itu, pasti akan ada kemudahan menyertai. Semangat dan gairah ini mampu mengalahkan segala bentuk kesulitan.

Semangat dan gairah dalam menulis, akan tersampaikan kepada pembaca. Tulisan seakan memiliki nyawa, dan mampu menggerakkan serta memotivasi pembaca. Di saat yang sama, semangat dan gairah menulis akan melahirkan kebahagiaan yang semakin berkembang dalam jiwa penulis.

Di luar sana, banyak penulis senior yang gagal menjaga semangat dan gairah, maka mereka tertinggal oleh para yunior yang terus belajar dan berkembang. Kebahagiaan akan melejit seiring dengan terjaganya semangat dan gairah dalam menulis.

Ketiga, Kemanusiaan dan Cinta (Virtue of Humanity and Love)

Menulis bukan hanya sekedar mengejar kekayaan dan popularitas. Namun ada nilai-nilai kemanusiaan dan cinta yang menyebabkan kita mampu menulis berjam-jam tanpa bayaran. Kita menulis karena dorongan nilai kemanusiaan yang terdalam, karena dorongan cinta yang sangat menghujam.

Menulis itu berbagi. Inilah salah satu nilai kemanusiaan dan cinta, bahwa hidup harus bersedia berbagi. Atas nama kemanusiaan dan cinta, kita bisa melakukan sangat banyak hal. Berjuang, mengatasi kesulitan, demi menjaga kehidupan yang dipenuhi keindahan, kemanusiaan dan cinta.

Melalui tulisan, kita bisa menyapa semesta. Kita bisa berbagi kebahagiaan, berbagi pengetahuan, berbagi ketrampilan, juga berbagi semangat. Melalui tulisan kita bisa menyapa mereka yang terluka, bisa menghibur mereka yang berduka, bisa mencerahkan mereka yang hidupnya gelap gulita. Inilah nilai kemanusiaan dan cinta melalui tulisan kita.

Keempat, Nilai Keadilan (Virtue of Justice)

Penulis dituntut memegangi prinsip keadilan, artinya tidak curang dan tidak pula dicurangi. Ini menyangkuat kualifikasi moral dalam penulisan. Adil itu tidak zalim, tidak melakukan pemalsuan dan penipuan data, tidak mencuri informasi milim orang lain dengan mengklaim sebagai miliknya.

Bahkan dalam tradisi periwayatan hadits, sifat adil adalah salah satu kualitas yang memengaruhi derajat hadits yang diriwayatkan. Hadits bisa jatuh ke dalam status dhaif atau lemah, jika di antara perawinya ada yang dinilai tidak adil. Adil adalah moralitas keilmuan yang sangat dijunjung tinggi.

Kezaliman akan merusak kebahagiaan. Kecurangan akan mencelakakan. Maka dengan memegangi prinsip keadilan dalam membuat tulisan, kebahagiaan justru akan nyata didapatkan.

Kelima, Temperamen (Virtue of Temperance)

Penulis harus mampu mengekspresikan perasaan, pemikiran dan keinginan dengan baik. Kebahagiaan sangat erat kaitannya dengan kemampuan kendali diri (self-control) atau regulasi emosi. Apapun yang terjadi dalam kehidupan, jangan menuliskan sesuatu yang nantinya akan kita sesali. 

Menulis dan memosting tulisan hendaknya dilakukan dilakukan dengan sepenuh pengendalian diri, kontemplasi, dan regulasi emosi.  Meskipun sedang marah, jengkel, bahkan frustrasi, jangan menulis hal-hal yang melanggar kebenaran, atau bisa menyinggung pihak lain. Milikilah kemampuan mengendalikan temperamen diri.

Jika menulis di tengah emosi, endapkan terlebih dahulu. Biarkan emosi mengendap, kemudian editlah tulisan tersebut dengan hati-hati, sebelum mempublikasikan tulisan. Ledakan-ledakan emosi saat menulis, bisa melahirkan kata-kata dan kelimat yang merendahkan diri dan orang lain. Ini harus dihindari.

Keenam, Nilai Transendensi (Virtue of Trancendence)

Bagi masyarakat Indonesia yang religius, menulis tidak pernah bisa dilepaskan dari nilai-nilai transenden. Proses transendensi dalam tulisan, merupakan kemampuan untuk menghubungkan diri sendiri dengan sesuatu yang besar atau permanen; misalnya masa depan, ketuhanan atau alam semesta.

Kita menyadari sepenuhnya, tulisan kita akan dipertanggungjawabkan, dunia akhirat. Kita sadar sepenuhnya, tulisan kebaikan —sekecil apapun, akan membuahkan hasil kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya, tulisan keburukan —sekecil apapun, akan membuahkan keburukan pula di dunia dan akhirat. Inilah nilai transenden yang membuat kita lebih bertanggung jawab dalam menulis.

Demikianlah enam nilai fundamental yang perlu dijaga oleh penulis, agar mampu menumbuhkan kebahagiaan dalam dirinya. Jika penulis berbahagia, akan lahir pula karya tulis yang membahagiakan. Meskipun diolah dengan kesedihan, namun hasil akhir bagi pembaca adalah kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Martin Seligman, Beyond Authentic Happiness, Menciptakan Kebahagiaan Sempurna dengan Psikologi Positif, Kaifa, Jakarta, 2019

 44 kali dilihat

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *