Positive Writing

Menulis Ekspresif Membuat Cepat Mendapatkan Pekerjaan Pasca PHK

.

Writing for Wellness – 32

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Expressive writing affected the quality, not the quantity, of their job search” – Adam Grant (2013)

.

Ternyata sangat banyak dimensi menulis, maka banyak pula manfaat yang bisa didapatkan darinya. Bukan saja manfaat kesehatan mental dan fisik, namun memberikan manfaat ikutan yang sangat positif dalam kehidupan. Bahkan dalam pencarian kerja pasca PHK.

Sebuah studi menunjukkan, menulis ekspresif memudahkan para pekerja yang terkena PHK untuk mendapatkan pekerjaan kembali. Hal ini terkait dengan sikap positif, suasana gembira serta pikiran yang jernih setelah rutin menulis ekspresif. Dengan suasana jiwa yang positif, lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan kembali.

Kisah Seratus Pekerja

Adam Grant (2013) menceritakan, empat bulan setelah seratus orang engineer senior di-PHK oleh sebuah perusahaan komputer, tidak ada seorang pun yang dipekerjakan kembali. Dalam upaya memperbaiki situasi tersebut, Stefanie Spera dan Eric Buhrfeind melakukan penelitian bersama James Pennebaker, seorang psikolog kesehatan.

Para peneliti membagi para engineer menjadi tiga kelompok. Pada kelompok kontrol pertama, para engineer tidak melakukan tindakan apapun. Pada kelompok kontrol kedua, mereka diminta menulis tentang manajemen waktu. Pada kelompok ketiga, mereka diminta menulis ekspresif tentang pikiran dan perasaan terdalam mereka terkait dengan kehilangan pekerjaan atau PHK.

Kelompok ketiga menulis selama lima hari, dengan durasi 20 menit per hari. Tulisan menggambarkan tantangan emosional dalam mencari pekerjaan baru, problem  hubungan, tekanan finansial, pengalaman terkena PHK, kehilangan rekan kerja dan perasaan ditolak.

“Three months later, in the control groups, less than 5% of the engineers were reemployed. In the expressive writing group, more than 26% of the engineers were reemployed” – Adam Grant, 2013

Tiga bulan kemudian, dalam kelompok kontrol, kurang dari 5% engineer yang berhasil dipekerjakan kembali. Dalam kelompok penulisan ekspresif, lebih dari 26% engineer dipekerjakan kembali.

Tulisan ekspresif terbukti memengaruhi kualitas, bukan kuantitas, dari pencarian kerja mereka. Para engineer yang menuliskan pemikiran dan perasaan mereka tentang kehilangan pekerjaan melaporkan bahwa kemarahan dan permusuhan terhadap mantan pimpinan mereka berkurang. Mereka juga melaporkan mengonsumsi minuman keras lebih sedikit. Ini menunjukkan peningkatan pola hidup dan berkurangnya stres.

“Eight months later, less than 19% of the engineers in the control groups were reemployed full-time, compared with more than 52% of the engineers in the expressive writing group” – Adam Grant, 2013

Delapan bulan kemudian, kurang dari 19% insinyur dalam kelompok kontrol dipekerjakan kembali. Sedangkan dalam kelompok penulis ekspresif lebih dari 52% engineer dipekerjakan kembali.

Bagaimana Menulis Ekspresif Bisa Membuat Mudah Mendapatkan Pekerjaan?

Mengapa menulis tentang pikiran dan perasaan seputar kehilangan pekerjaan mampu meningkatkan peluang untuk dipekerjakan kembali? Pennebaker menjelaskan bahwa menulis ekspresif bisa menekan stres, sehingga mereka bisa lebih tenang.

“Interestingly, expressive writing didn’t land the engineers any more interviews. It just increased the odds that they were hired when they did have an interview” – Adam Grant, 2013

Dalam studi sebelumnya, Pennebaker dan Sandra Beall meneliti orang dewasa untuk menulis 15 menit sehari, dalam kurun empat hari. Dalam kelompok kontrol, orang dewasa menulis tentang topik sehari-hari ― misalnya tentang sepatu, ruang tamu, pohon dan lain sebagainya.

Dalam kelompok perlakuan, orang dewasa menulis tentang pengalaman paling traumatis dalam hidup mereka. Mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan terdalam tentang peristiwa traumatis tersebut.

“When people write, healthy changes occur” –James Pennebaker

Pennebaker menemukan, menulis pengalaman traumatis membuat mereka semakin terpuruk. Mereka tidak bahagia dan lebih tertekan, dan memiliki tekanan darah tinggi. Namun dalam waktu enam bulan kemudian, efeknya berbalik.

Orang dewasa yang menulis tentang peristiwa traumatis menunjukkan penurunan kunjungan ke rumah sakit 50% per bulan. Mengekspresikan peristiwa traumatis tidak langsung membuat mereka menjadi sehat.

Pennebaker dan tim mereplikasi dan memperpanjang studinya. Meskipun menulis tentang trauma membuat rasa tidak nyaman dalam jangka pendek, namun setelah dua pekan, manfaat kesehatan mulai muncul dan cenderung bertahan lama.

Tim Pennebaker telah menunjukkan manfaat kesehatan fisik dan mental dari tulisan ekspresif. Studi telah menemukan penurunan depresi, kecemasan, kemarahan, dan kesusahan. Secara keseluruhan, lebih dari seratus percobaan telah mendokumentasikan manfaat kesehatan dari menulis pikiran dan perasaan tentang peristiwa negatif.

“Saat orang menulis, perubahan sehat telah terjadi,” tulis Pennebaker dalam The Secret Life of Pronouns.

Inilah yang membuat para pekerja mudah mendapatkan pekerjaan kembali setelah terkena PHK. Berbeda dengan para pekerja yang pendendam, baper, putus asa, dan bersikap negatif pasca PHK. Mereka lebih sulit mendapatkan pekerjaan kembali.

Selamat menulis. Selamat menikmati berbagai kemanfaatan positif.

Bahan Bacaan

Adam Grant, The Power of the Pen: How to Boost Happiness, Health, and Productivity, 28 Mei 2013, https://www.linkedin.com

James W. Pennebaker, Sandra K. Beall, Confronting a Traumatic Event: Toward an Understanding of Inhibition and Disease, Journal of Abnormal Psychology 1986. Vol. 95, No. 3,274-281, https://uploads-ssl.webflow.com

Stefanie P. Spera, Eric D. Buhrfeind, James W. Pennebaker, Expressive Writing and Coping with Job Loss, The Academy of Management Journal Vol 37 No 3, Juni 1994, https://doi.org/10.2307/256708

 11 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *