Positive Writing

Menulis Ekspresif Meningkatkan Kinerja Fundraising

.

Writing for Wellness – 33

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Di masa pandemi ini, Anda tentu sering mendengar istilah “compassion fatigue”. Istilah ini menggambarkan suasana kelelahan psikologis yang dialami oleh para pegiat kemanusiaan. Tepatnya ketika mereka merasa gagal, sia-sia, atau merasa jerih payahnya tidak bermakna. Muncul suasana lelah menolong orang lain, letih memberikan kepedulian.

Misalnya para tenaga medis yang berjibaku membantu para pasien Covid-19, dimana mereka beresiko sangat tinggi untuk terinfeksi, namun kecewa dengan sikap masyarakat yang tidak peduli protokol pencegahan Covid. Juga kecewa dengan kebijakan pemerintah yang kurang memberikan perlindungan terhadap keselamatan mereka.

Bahkan dijumpai kasus tenaga kesehatan yang gugur karena Covid, ditolak pemakamannya oleh warga masyarakat. Ini tentu menjadi pukulan sangat menyakitkan bagi para tenaga medis. Dampaknya muncul kelelahan untuk memberikan empati dan peduli.

“Sia-sia saja kami bekerja siang dan malam demi menolong pasien Covid, namun masyarakat tidak peduli protokol kesehatan. Padahal nyawa kami juga terancam”, kurang lebih ungkapan seperti ini yang menggambarkan compassion fatigue.

Pada dasarnya, compassion fatigue lebih mudah terjadi pada orang-orang yang aktivitas kesehariannya membantu, memperjuangkan, merawat atau menyembuhkan orang lain. Misalnya para dokter, bidan, suster, konselor, dan terapis. Juga pada profesi seperti penegak hukum, polisi, dan pendidik. Bisa pula terjadi pada pegiat masyarakat seperti para relawan, para motivator dan pengkhutbah.

Juga mudah terjadi pada para relawan yang melakukan aktivitas penggalangan dana (fundraising) kemanusiaan. Mereka berpotensi mengalami kelelahan psikologis jenis ini, ketika merasa usahanya sia-sia atau tidak bermakna. Mengurus dan memperhatikan orang lain benar-benar menguras tenaga, sementara dirinya tidak mengisi ulang energi yang dimiliki.

Menulis Ekspresif untuk Menghilangkan “Compassion Fatigue”

Berbagai hasil penelitian ahli menunjukkan, menulis ekspresif dapat membantu menyembuhkan berbagai rasa sakit, baik psikologis, mental, emosional dan fisik. Menulis ekspresif juga dikaitkan dengan peningkatan suasana hati, kesejahteraan, dan penurunan tingkat stres bagi mereka yang melakukannya secara teratur.

Lebih menarik lagi, menulis ekspresif ditemukan mampu memberikan peningkatan kinerja pegiat kemanusiaan yang mengalami compassion fatigue. Studi yang dilakukan Adam Grant dan Jane Dutton menemukan hubungan antara menulis ekspresif dengan peningkatan kinerja dalam penggalangan dana (fundraising).

Studi itu menunjukkan bahwa ketika orang yang melakukan pekerjaan penggalangan dana yang melelahkan menuliskan bagaimana pekerjaan mereka membuat perbedaan, mampu meningkatkan kinerja per jam sebesar 29% dalam waktu dua pekan berikutnya. Mereka tidak menulis tentang rasa kecewa atau penderitaan, namun menulis tentang kebermanfaatan aktivitas fundraising.

“Jane Dutton and I found that when people doing stressful fundraising jobs kept a journal for a few days about how their work made a difference, they increased their hourly effort by 29% over the next two weeks” – Adam Grant, 2013

Chiara Cosentino (2017) menyatakan, menulis ekspresif adalah strategi penting untuk mencegah dan mengelola efek compassion fatigue. Dengan menulis ekspresif, pada gilirannya, akan menghasilkan dampak positif yang signifikan pada kualitas layanan, mengurangi risiko kelelahan, menerapkan strategi koping, dan meningkatkan persepsi kepuasan kerja.

“Expressive writing is an important strategy for preventing and managing the effects of compassion fatigue” – Chiara Cosentino, 2017

Para pekerja sosial yang melakukan kegiatan penggalangan dana, bisa mengalami compassion fatigue. Mereka bekerja secara sosial untuk membantu –misalnya pembangunan masjid, madrasah, pesantren, atau tempat-tempat kegiatan kemasyarakatan. Namun kegiatan fundraising ‘tradisional’ misalnya dengan datang dari rumah ke rumah membawa proposal pencarian dana, kerap mendapat sambutan tidak menyenangkan. Mungkin bahkan diusir.

“Expressive writing improves job satisfaction, encourages the use of adaptive coping strategies, and reduces emotions and negative relationships” – Chiara Cosentino, 2017

Ternyata dengan menulis ekspresif, para pekerja sosial itu mengalami peningkatan kinerja 29 % per jam dalam kurun dua pekan. Adam Grant menyatakan, manfaat menulis ekspresif tidak terbatas pada peristiwa negatif. Ada banyak bukti bahwa menuliskan rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan mental.

Menurut Lori White, menulis ekspresif membuat Anda kehilangan lebih sedikit pekerjaan dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Namun menulis tentang bagaimana pekerjaan Anda membuat perbedaan, bisa membuat Anda lebih baik dalam pekerjaan itu,

Chiara Cosentino (2017) menyatakan, menulis ekspresif berdampak positif pada strategi koping adaptif dan kepuasan komunikasi relasional kerja. Selain itu juga dapat memfasilitasi klarifikasi dan pemecahan berbagai masalah, meningkatkan kemampuan kognitif, dan mendorong interaksi sosial.

“Expressive writing has a positive impact on adaptive coping strategies and work relational communication satisfaction. It also can facilitate the clarification and solution of various problems, increase cognitive abilities, and promote social interactions” – Chiara Cosentino, 2017

Menurut Cosentino, menulis ekspresif meningkatkan kepuasan kerja, mendorong penggunaan strategi koping adaptif, dan mengurangi emosi dan hubungan negatif. Sisi ini yang memungkinkan para pekerja sosial mampu meningkat kinerjanya, setelah menulis ekspresif.

Bukan Soal Bagusnya Tulisan

Dalam melakukan akivitas menulis ekspresif, yang diperlukan adalah kejujuran dalam menuliskan kondisi diri. Bukan soal kualitas tulisan atau bagusnya tata bahasa. Maka jangan khawatir dengan kualitas tulisan Anda.

“Menulis itu seperti menari. Kita semua bisa menari dengan cara kita sendiri; dan tidak ada yang memberitahu Anda bahwa Anda menari secara “salah”, karena mereka bukan Anda”, ujar Lori White.

“Don’t worry about the writing being “good.” Writing is like dancing! We can all dance in our own way; and no one gets to tell you you’re dancing “wrong” because they’re not you” – Lori White

Selamat menulis, selamat menikmati kepedulian sosial.

Bahan Bacaan

Adam Grant, The Power of the Pen: How to Boost Happiness, Health, and Productivity, 28 Mei 2013, https://www.linkedin.com

Adam Grant, Jane Dutton, Beneficiary or Benefactor: Are People More Prosocial When They Reflect on Receiving or Giving? https://doi.org/10.1177/0956797612439424, 6 Agustus 2012, https://journals.sagepub.com

Chiara Cosentino, Annalisa Tonarelli dkk, Expressive Writing: A Tool to Help Health Workers, DOI: 10.23750/abm.v88i5-S.6877, 2017, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/

Lori White, 9 Reasons Why Writing in A Journal Should Be Your Only Resolution in The New Year, https://www.upworthy.com

 8 kali dilihat

Satu Komentar

  • Dede Nurjanah

    Bukan soal bagusnya tulisan.Compassion Fatique adalah menulis ekpresif, kondisi kejujuran diri. Menulis seperti menari. Terima kasih ust.Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *