Positive Writing

Menulis Ekspresif Menurunkan Perilaku Agresif Remaja

.

Writing for Wellness – 37

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, ditemukan pula perilaku agresi di kalangan remaja yang semakin mengkhawatirkan banyak pihak. Terdapat berbagai macam bentuk perilaku agresi yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sejak dari mencaci maki, mengejek, membuat kerusuhan, dan segala jenis perilaku yang mengarah kepada tindak kekerasan.

Di lingkungan remaja, sering kita dengar tindakan tawuran pelajar, bahkan di Yogyakarta perilaku “klitih” telah menelan banyak korban. Kapolda DIY, Irjen Pol Asep Suhendar menyebut aksi kekerasan jalanan ini dilakukan oleh para pelajar. Kebanyakan pelaku adalah remaja berusia di bawah 18 tahun. Sepanjang tahun 2019 sedikitnya terdapat 40 kasus klitih.

Seperti Apa Perilaku Agresif?

Hana Nurul Faizah dari Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, melakukan penelitian mengenai faktor penyebab perilaku agresi pada remaja. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif melinbatkan 136 siswa SMP dan SMK, dengan rentang usia 13 – 18 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua faktor yang menjadi penyebab utama perilaku agresi, yaitu tipe kepribadian neurotisme, dan provokasi fisik. Hasil penelitian juga menunjukkan, semakin tinggi tingkat neurotisme pada remaja, semakin tinggi perilaku agresinya.

Kepribadian neurotisme ditandai dengan sikap kurang adaptif dengan emosi, sulit mengorganisir kecemasan, sulit mengontrol emosi, memiliki suasana hati yang mudah berubah-ubah dan memiliki kecenderungan untuk mengalami perasaan yang negatif. Remaja dengan kepribadian neurotisme mudah merasakan emosi negatif, namun masih bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan normal.

Kartini Kartono (2000) mendefinisikan agresif sebagai kemarahan yang meluap-luap dan melakukan serangan secara kasar dengan jalan yang tidak wajar. Perilaku agresif mencakup perilaku fisik maupun verbal yang diniatkan untuk melukai objek yang menjadi sasaran agresi (David G. Myers, 2012).

Bentuk perilaku agresif yang dilakukan individu dalam merespon keadaan frustasi, marah, takut antara lain menyerang fisik, menyerang suatu objek, secara verbal atau simbolis dan melakukan ancaman. Kecenderungan perilaku agresif akan mempersulit siswa sehingga perlu dibantu untuk mereduksinya.

Mengurangi Perilaku Agresi dengan Menulis Ekspresif

Sangat banyak pendekatan, cara dan metode untuk mengurangi perilaku agresi pada remaja. Salah satunya adalah dengan metode menulis ekspresif. Banyak penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa menulis ekspresif menjadi sarana efektif untuk menyalurkan emosi, sehingga perilaku agreif bisa ditekan.

Romia Hari Susanti dan Devi Permatasari (2020) dalam studinya menyarankan, agar guru Bimbingan dan Konseling memberikan bimbingan kepada siswa menggunakan berbagai teknik, salah satunya adalah terapi menulis ekspresif. Inti dari menulis ekspresif secara kelompok adalah untuk meningkatkan kerjasama, berbagi ide, perasaan, menghargai satu sama lain dan terutama kontrol emosi yang menurunkan perilaku agresif siswa.

Wendy Kliewer dan tim (2011) melakukan pengujian coba terkontrol terhadap remaja yang tinggal di lingkungan perkotaan Amerika dengan kekerasan tinggi. Intervensi dilakukan dengan metoda menulis ekspresif. Pada dua bulan pasca intervensi, siswa yang melakukan menulis ekspresif memiliki tingkat agresi dan labilitas yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan, menulis ekspresif mampu menurunkan tingkat agresivitas pada remaja, dan menurunkan labilitas jiwa remaja.

Susanti Niman dan tim (2019) dalam studinya menyatakan, terapi menulis ekspresif memungkinkan responden untuk berekspresi tentang semua yang ada dalam pemikirannya, karena menulis adalah suatu aktivitas melahirkan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan.

Terapi menulis ekspresif dengan menulis pengalaman emosional terbukti efektif untuk menurunkan kecemasan dan menurunkan masalah-masalah kesehatan. Selanjutnya, hasil studi Susanti dan tim menemukan bahwa terapi menulis ekspresif bisa menurunkan tingkat kecemasan remaja korban bullying.

Penelitian yang dilakukan Harry Theozard Fikri (2012) menujukkan, menulis ekspresif mampu menurunkan emosi marah. Remaja yang diminta menuliskan pengalaman emosional mereka, terbukti menjadi lebih stabil emosinya. Selain itu, terapi menulis dapat dijadikan sebagai salah satu sarana katarsis dan media self-help bagi remaja untuk mengekspresikan emosi dan perasaan marahnya.

Dari berbagai studi tersebut dapat dipahami bahwa perilaku agresif remaja bisa dikendalikan dan diturunkan dengan menulis ekspresif. Penting bagi para guru dan orangtua untuk memahami teknik intervensi menulis ekspresif, sebagai salah satu upaya menurunkan perilaku agresif pada remaja.

Mari peduli generasi muda. Mari selamatkan generasi penerus bangsa.

Bahan Bacaan

David G. Myers, Social Psychology, edisi 11, McGraw-Hill Education, 2012

Fak. Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Perilaku Agresi Remaja Semakin Meningkat, Mengapa Terjadi dan Apa Solusinya? http://psikologi.uinjkt.ac.id, 3 Februari 2020

Galih Priatmojo dan Muhammad Ilham Baktora, Klitih, Teror Geng Pelajar Pemburu Eksistensi Semu, 7 Februari 2020, https://jogja.suara.com

Harry Theozard Fikri, Pengaruh Menulis Pengalaman Emosional dalam Terapi Ekspresif Terhadap Emosi Marah pada Remaja, Jurnal Humanitas, Vol. IX No.2 Agustus 2012

Kartini Kartono, Hygiene Mental, Mandar Maju, 2000

Romia Hari Susanti, Devi Permatasari, Terapi Menulis Ekspresif Sebagai Upaya Menurunkan Perilaku Agresif Siswa Sekolah Menengah Pertama, Jurnal Mayadani Vol 1 No 1 (2020), https://mayadani.org

Susanti Niman dkk, Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif terhadap Tingkat Kecemasan Remaja Korban Bullying, Jurnal Keperawatan Jiwa, Vol 7 No 2 Hal 179 – 184, Agustus 2019

Wendy Kliewer dkk, A School-Based Expressive Writing Intervention for At-Risk Urban Adolescents’ Aggressive Behavior and Emotional Lability, DOI :   10.1080/15374416.2011.597092, September 2011, https://www.researchgate.net

.

Ilustrasi : https://jogja.suara.com/

 8 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *