Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Mengatasi Trauma Korban Kekerasan Pacaran

.

Writing for Wellness – 95

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Intimate partner violence (IPV) atau tindakan kekerasan pasangan merupakan masalah serius yang mengakibatkan kerugian yang signifikan bagi individu, sistem perawatan kesehatan, dan masyarakat. Sekitar 20-64% dari semua kekerasan terhadap wanita berasal dari pasangan romantis, dan lebih dari setengah wanita yang mengalami IPV hidup bersama anak di bawah usia 12 tahun (DeJonghe ES et.al, 2008).

Kekerasan dari pasangan romantis, meliputi aktivitas sebelum menikah (kekerasan dalam pacaran) maupun setelah menikah (kekerasan dalam rumah tangga). Yang sangat mengerikan adalah kejadian IPV pada wanita yang sedang hamil atau membesarkan anak. Dalam kasus seperti itu, tidak hanya wanita yang terkena dampak negatif, tetapi juga janin dan anak mereka yang sedang berkembang (DeJonghe ES et.al, 2008).

Perempuan dan anak-anak bisa mengalami peristiwa traumatis dari kondisi tersebut. Peristiwa traumatis didefinisikan sebagai mengalami atau menyaksikan peristiwa yang melibatkan ancaman terhadap kehidupan atau integritas fisik yang mengakibatkan perasaan takut, tidak berdaya, atau ngeri (DeJonghe ES et.al, 2008).

Kekerasan pasangan intim dapat mengancam jiwa bagi sebagian wanita, tetapi lebih sering mengakibatkan cedera, gangguan sistem kekebalan, kesulitan tidur, dan masalah pencernaan. Gangguan kesehatan mental yang terkait dengan IPV termasuk depresi, harga diri rendah, tekanan psikologis, dan gangguan stres pasca-trauma (post traumatic stress disorder / PTSD).

Bahaya Kekerasan Dalam Pacaran

Pada tahun 2016 lalu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) untuk mengetahui informasi mengenai pengalaman hidup perempuan yang mengalami kekerasan. Diketahui sebanyak 33,4% perempuan usia 15-64 tahun telah mengalami kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual selama hidupnya, dengan jumlah kekerasan fisik sebanyak 18,1% dan kekerasan seksual 24,2%.

Di antara banyaknya kasus kekerasan pada perempuan, tingkat kekerasan baik secara fisik dan seksual yang dialami perempuan belum menikah yaitu sebesar 42,7%. Kekerasan seksual paling banyak dialami perempuan yang belum menikah yaitu 34.4%, lebih besar dibanding kekerasan fisik yang hanya 19.6% (Kemen PPPA, 2018).

Angka tersebut membuktikan bahwa masih banyak perempuan yang belum menikah menjadi korban kekerasan, dimana pelaku bisa saja datang dari orang terdekat seperti pacar, teman, rekan kerja, tetangga, dsb. Namun jenis kekerasan ini bisa jadi dilakukan oleh orang asing yang bahkan tidak dikenal oleh korban (Kemen PPPA, 2018).

Simfoni PPA Tahun 2016 menyebutkan bahwa dari 10.847 pelaku kekerasan sebanyak 2.090 pelaku kekerasan adalah pacar/teman (Kemen PPPA, 2018). Kekerasan dalam pacaran atau dating violence adalah tindak kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan meliputi kekerasan fisik, emosional, ekonomi dan pembatasan aktivitas.

Kekerasan ini merupakan kasus yang sering terjadi setelah kekerasan dalam rumah tangga, namun belum mendapat perhatian publik. Berikut beberapa bentuk kekerasan pada perempuan dalam pacaran (Kemen PPPA, 2018):

  1. Kekerasan fisik seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencekram dengan keras pada tubuh pasangan dan serangkaian tindakan fisik yang lain.
  2. Kekerasan emosional atau psikologis seperti mengancam, memanggil dengan sebutan yang mempermalukan pasangan menjelek-jelekan dan lainnya.
  3. Kekerasan ekonomi seperti meminta pasangan untuk mencukupi segala keperluan hidupnya seperti memanfaatkan atau menguras harta pasangan.
  4. Kekerasan seksual seperti memeluk, mencium, meraba hingga memaksa untuk melakukan hubungan seksual.
  5. Kekerasan pembatasan aktivitas oleh pasangan banyak menghantui perempuan dalam berpacaran, seperti pasangan terlalu posesif, terlalu mengekang, sering menaruh curiga, selalu mengatur apapun yang dilakukan, hingga mudah marah dan suka mengancam.

Banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjerat dalam bentuk kekerasan pembatasan aktivitas, karena dianggap sebagai hal yang wajar sekaligus bentuk rasa peduli dan rasa sayang dari pasangan  (Kemen PPPA, 2018).

Beragam faktor bisa memicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam pacaran. Di antara faktor penyebab adalah pemahaman agama yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah, kurang kontrol dari keluarga, kebiasaan buruk seperti memakai narkotika, minum miras, tidak mampu mengontrol emosi, pola asuh lekat dengan kekerasan di masa kecil, tingkat kesejahteraan ekonomi, efek pergaulan dan tayangan media yang akrab dengan kekerasan, dan lain sebagainya.

Menulis Ekspresif untuk Korban Kekerasan Dalam Pacaran

Panggabean dkk (2020) menyatakan, kekerasan dalam ranah personal merupakan salah satu bentuk kekerasan dengan jumlah kedua terbesar di Indonesia. Dari begitu banyak jenis kekerasan yang terjadi dalam ranah personal, kekerasan dalam pacaran (KDP) merupakan salah satu bentuk kekerasan yang perlu diperhatikan.

KDP penting mendapat perhatian, karena adanya indikasi kontinuitas perilaku dan tindak kekerasan, dari mulai tahap pacaran sampai ranah kehidupan rumah tangga. KDP memberikan dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental, fisik dan perilaku korban. Di antara dampak tersebut adalah depresi, kecemasan, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), kelainan pola makan dan putus sekolah (Panggabean dkk, 2020).

Korban KDP cenderung tertutup dan tidak mampu mengungkapkan perasaan mereka dikarenakan adanya rasa malu. Untuk mengatasi trauma yang dialami oleh korban diperlukan penanganan yang cermat. Salah satu upaya intervensi adalah dengan melakukan terapi menulis ekspresif (Panggabean dkk, 2020).

Terapi menulis ekspresif merupakan satu metode yang digunakan untuk mereduksi trauma dengan cara mengekspresikan perasaan, pikiran atau harapannya dengan cara menulis ulang peristiwa traumatis dan emosional yang telah dialaminya. Telah banyak studi yang membuktikan efektivitas menulis ekspresif untuk meredakan kecemasan, stres dan depresi.

Panggabean dkk (2020) melakukan penelitian untuk menguji penerapan terapi menulis ekspresif terhadap korban kekerasan masa pacaran yang dilihat dari penurunan tingkat PTSD. Metode yang digunakan adalah participatory action research (PAR) yang merupakan penelitian secara kolaboratif oleh partisipan.

Sebagai kesimpulan pada penelitian ini adalah adanya pengaruh menulis ekspresif terhadap peningkatan mood. Terbukti bahwa terapi menulis pengalaman emosional dapat memberi efek positif dalam fungsi sosial, psikologis, tingkah laku, dan fungsi biologis seseorang.

Menulis ekspresif mampu memberikan dampak positif terhadap perempuan korban kekerasan dalam pacaran. Fungsi sosial, psikologis, tingkah laku, dan fungsi biologis ditemukan mengalami perbaikan, melalui menulis ekspresif.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.

Bahan Bacaan

DeJonghe ES et.al, Women Survivors of Intimate Partner Violence and Post-Traumatic Stress Disorder: Prediction and Prevention, DOI: 10.4103/0022-3859.41435, 2008, diakses dari https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/18953149

Kemen PPPA, Waspada Bahaya Kekerasan dalam Pacaran, 20 Maret 2018, https://www.kemenpppa.go.id

Yoan R. N. Panggabean dkk, Penerapan Expressive Writing Therapy dalam Pemulihan Post Traumatic Stress Disorder pada Perempuan Korban Kekerasan Masa Pacaran, Molucca Medica, Vol 13 No 1, April 2020, DOI:10.30598/molmed.2020.v13.i1.82, diakses dari https://www.researchgate.net

.

Ilustrasi : https://www.youthdynamics.org/

 2 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *