Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Menghilangkan Kesedihan

.

Writing for Wellness – 51

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Feeling sad can alter levels of stress-related opioids in the brain and increase levels of inflammatory proteins in the blood that are linked to increased risk of comorbid diseases including heart disease, stroke and metabolic syndrome” – ScienceDaily, 2016

.

Sedih adalah salah satu kondisi yang bisa terjadi pada semua manusia, tanpa terkecuali. Bahkan kesedihan menjadi ciri kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan kesedihan. Bahkan pada orang-orang pilihan seperti para Nabi sekalipun. Dalam sejarah dikenal ada ‘tahun kesedihan’ yang dialami Nabi Muhammad saw.

Meski demikian, terlalu banyak bersedih tidak baik bagi kesehatan manusia. Sebab merasa sedih dapat meningkatkan kadar protein inflamasi dalam darah yang terkait dengan peningkatan risiko penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, stroke, dan sindrom metabolik. Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di The University of Pusat Ilmu Kesehatan Texas di Houston (UTHealth) menyatakan hal tersebut.

Salah satu sumber kesedihan adalah kehilangan orang-orang terkasih, seperti pasangan hidup, orangtua, bahkan sahabat dekat. Adalah wajar dan manusiawi, ketika kehilangan orang terkasih, kita merasa sedih. Terkadang bahkan sampai larut dalam kesedihan. Diperlukan intervervensi yang tepat untuk mempercepat pulih dari kesedihan.

Berbagai Cara Menghilangkan Kesedihan

Sangat banyak cara untuk mengelola kesedihan. Pada orang-orang beriman, mereka memiliki cara menghilangkan kesedihan dengan kembali kepada keyakinan imannya. Misalnya, bagi umat muslim, mereka akan menghilangkan kesedihan dengan sabar dan shalat (QS. 2 : 45 – 46), juga memperbanyak dzikir (QS. 13 : 28).

Selain menggunakan metode spiritual, mereduksi kesedihan juga bisa dilakukan dengan menyibukkan diri dalam berbagai aktivitas positif. Tidak membiarkan hati dan pikiran terus menerus mengingat kesedihan yang dialami, namun mengajak otak untuk sibuk dengan berbagai hal yang positif. Pada dasarnya otak hanya akan fokus kepada satu hal dalam satu waktu.

Salah satu aktivitas yang bisa mereduksi kesedihan adalah dengan menulis ekspresif. Courtney E. Ackerman (2021) menyatakan, menulis berfungsi untuk meningkatkan kesehatan mental dengan membimbing kita menghadapi emosi yang sebelumnya dihambat.

Menulis mampu mengurangi stres, membantu memproses peristiwa sulit, dan menyusun narasi yang koheren tentang pengalaman kehidupan –Courtney E. Ackerman (2021)

Menulis mampu mengurangi stres, membantu memproses peristiwa sulit, dan menyusun narasi yang koheren tentang pengalaman kehidupan. Menulis memungkinkan bagi kita untuk melalui pengalaman berulang terhadap emosi negatif, misalnya terkait dengan ingatan traumatis, sebagaimana hasil studi Baikie & Wilhelm (2005)

Menulis Ekspresif untuk Menghilangkan Kesedihan

Setiawati Intan Savitri, seorang psikolog, dan tim melakukan penelitian pada tahun 2019 lalu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh tulisan ekspresif terhadap tingkat kesedihan seseorang melalui desain sekuensial. Dilakukan percobaan menulis ekspresif selama 3 hari berturut-turut selama 15 menit setiap hari, kemudian dilakukan analisis terhadap isi tulisan peserta.

Penelitian ini menggunakan desain eksperimen teknik pencocokan pre-post test yang dilanjutkan dengan analisis isi. Melibatkan 30 partisipan, yang kehilangan orang tua lebih dari enam bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami penurunan tingkat kesedihan relatif terhadap kelompok kontrol, teks menunjukkan hasil yang menarik untuk dibahas lebih lanjut.

Savitri dan tim membuka wawasan kita bahwa menulis ekspresif bisa menjadi sarana meredakan kesedihan karena kehilangan orangtua. Dalam studi lain, menulis ekspresif juga mampu meredakan kesedihan yang diakibatkan kehilangan sahabat dekat. Seperti studi yang dilakukan oleh Davide F. Margola dan tim.

Margola dan tim melakukan studi untuk menyelidiki pengungkapan emosi tertulis pada remaja untuk menghadapi peristiwa traumatis yang mereka alami secara kolektif. Peristiwa traumatis kolektif tersebut adalah kematian mendadak seorang teman sekelas. Tentu saja, kehilangan salah seorang sahabat memberikan kesedihan tersendiri bagi teman sekelas.

Dua puluh siswa sekolah menengah diminta menulis tentang reaksi emosional mereka terhadap kematian salah seorang teman sekelasnya, selama tiga hari berturut-turut. Tulisan-tulisan tersebut diproses menggunakan Linguistic Inquiry dan Word Count (LIWC) dan dianalisis menggunakan perangkat lunak metode campuran (T-LAB).

Analisis tekstual mengungkapkan elaborasi progresif peristiwa traumatis selama tiga hari penulisan, bergerak dari perspektif faktual ke pemrosesan emosi, menuju restrukturisasi emosional dan kognitif yang terintegrasi. Secara khusus, siswa dalam lintasan stabil-positif dan pemulihan lebih banyak menyebutkan teman sekelas yang meninggal dan mencerminkan pemrosesan kognitif yang lebih besar dari trauma tersebut.

Siswa dalam lintasan stabil-negatif menggunakan lebih banyak referensi diri dan kata-kata emosi negatif dan menunjukkan tingkat penghambatan yang lebih besar. Hasilnya memberikan petunjuk awal untuk proses penyesuaian pada kematian remaja. Terdapat pengaruh untuk memproses kesedihan menjadi pemaknaan kognitif, melalui tulisan ekspresif.

Dari berbagai studi, semakin menjelaskan peran menulis ekspresif untuk meredakan kesedihan, pada contoh kasus karena kehilangan orangtua atau sahabat dekat. Menulis ekspresif mampu mengolah peristiwa traumatis menjadi pemaknaan kognitif yang membuat kesedihan mereda.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Courtney E. Ackerman, 83 Benefits of Journaling for Depression, Anxiety, and Stress, 5 Februari 2021, https://positivepsychology.com

Davide F. Margola dkk, Cognitive and Emotional Processing Through Writing Among Adolescents Who Experienced the Death of a Classmate, Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, and Policy, 2(3), 250–260. https://doi.org/10.1037/a0019891, diakses dari https://psycnet.apa.org/

ScienceDaily, Sadness-induced Inflammation in The Body Linked to Comorbid Diseases, 16 Desember 2015, University of Texas Health Science Center at Houston, https://www.sciencedaily.com/

Setiawati Intan Savitri dkk, Expressive Writing Changes Grief into Meaning – a Sequential Explanatory Design Approach, DOI : https://doi.org/10.23916/0020190423740, (2019), https://journal.konselor.or.id

Karen A. Baikie, Kay A. Wilhelm, Emotional and Physical Benefits of Expressive Writing, DOI: 10.1192/apt.11.5.338, September 2005, https://www.researchgate.net/

.

Ilustrasi : https://eskipaper.com/free-nature-wallpaper-7.html

 2 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *