Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Meningkatkan Perilaku ‘Respect’

.

Writing for Wellness – 76

Oleh : Cahyadi Takariawan

“To respect a person is not possible without knowing him; care and responsibility would be blind if they were not guided by knowledge” – Erich Fromm

.

Salah satu prinsip dasar dalam berkomunikasi secara efektif adalah dengan memberikan penghargaan yang jujur dan tulus. Perasaan dihargai merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pada setiap manusia.

Erich Fromm menyatakan, respek tidak mungkin terjadi tanpa landasan pengetahuan. Demikian pula, perhatian dan tanggung jawab menjadi buta jika tidak didasari dengan pengetahuan. Respek adalah mengakui, menghargai dan menerima orang lain apa adanya. Tidak meremehkan, tidak mencela, dan terbuka untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Respek merupakan penghargaan tanpa syarat, yang tidak bergantung pada tingkah laku orang lain. Mereka dihargai sebagai manusia, bukan sebuah kumpulan tingkah laku. Respek memuat sisi perhatian, menghargai, menilai secara positif dan menyukai. Orang lain dihargai sebagai manusia yang saling membutuhkan dalam kehidupan keseharian.

Respek merupakan penghargaan tanpa syarat, yang tidak bergantung pada tingkah laku orang lain. Mereka dihargai sebagai manusia, bukan sebuah kumpulan tingkah laku.

Respek bisa diwujudkan dengan berbagai macam cara (Terra, 2016). Pertama, mendengarkan. Dengarkan apa yang orang lain katakan. Orang lain akan sangat merasa dihargai dan diteruima, apabila kita mendengarkan apa yang mereka ungkapkan. Terlebih kita bisa menemukan berbagai manfaat dari yang orang lain katakan.

Kedua, mengharga. Jangan pelit memberikan penghargaan, walau hanya dengan mengatakan “terima kasih” kepada orang lain. Selalu hargai usaha, jerih payah dan kontribusi hasil kerja mereka sekecil apapun. Penghargaan akan memberikan dorongan moral kebaikan bagi orang lain.

Ketiga, akuntabilitas. Selalu bersedia menerima pendapat dan masukan dari orang lain dalam memutuskan sesuatu. Hal ini sangat penting terutama apabila keputusan ini terkait dengan banyak pihak.

Menulis Ekspresif Meningkatkan Respek

Dalam kehidupan manusia modern, ada banyak hal mulai yang hilang. Tergerus oleh modernitas, tergerus oleh teknologi dan kemajuan zaman. Salah satu yang mulai hilang dari kehidupan sosial adalah respek. Penghargaan dan penghormatan pada orang lain, terasa semakin menipis.

Bahkan, nyawa manusia sudah menjadi semakin murah harganya. Seperti tidak dihargai. Pembunuhan jiwa tak berdosa, penganiayaan, bullying dan perilaku antisosial lainnya, menandakan semakin menipisnya sikap respek terhadap orang lain.

Ada banyak cara untuk menumbuhkan sikap dan perilaku respek. Ada pendekatan spiritual keagamaan, seperti meningkatkan penghayatan terhadap ajaran agama. Setiap agama pasti memberikan ajaran untuk menghargai orang lain, menghargai hak milik dan karya orang lain. Semakin kuat penghayatan akan nilai agama, akan semakin mampu memiliki sikap respek.

Ternyata ada cara-cara lain yang bisa digunakan dalam meningkatkan sikap respek. Salah satunya adalah dengan menulis ekspresif, berbasis nilai tradisi tertentu. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Karyanti dan Muhammad Andi Setiawan (2018).

Karyanti dan Setiawan melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui teknik implementasi konseling kelompok menulis ekspresif berbasis filosofi dandang tingang. Studi juga berusaha mengetahui desain model teknik menulis ekspresif untuk meningkatkan perilaku menghargai (respek).

“Studi yang dilakukan Karyanti dan Setiawan (2018) menyimpulkan bahwa layanan konseling dengan teknik menulis ekspresif berlandaskan filosofi dandang tingang, efektif untuk meningkatkan perilaku menghargai”.

Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model konseling kelompok dengan teknik menulis ekspresif berlandaskan filosofi dandang tingang, efektif untuk meningkatkan perilaku menghargai. Karyanti dan Setiawan menyimpulkan bahwa layanan konseling dengan teknik menulis ekspresif berlandaskan filosofi dandang tingang, efektif untuk meningkatkan perilaku menghargai.

Apa itu Dandang Tingang?

Hutan rimba di Kalimantan menyimpan berjuta keindahan sekaligus mistis. Salah satu satwa yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Dayak adalah burung Tingang. Setiap bagian tubuh dari burung Tingang, menjadi lambang atau simbol ciri khas Dayak. Simbol burung Tingang bisa ditemukan di hampir semua ruang kehidupan tradisional Dayak, sejak dari lukisan, ukiran, pakaian.

Di Palangka Raya, burung Tingang dijadikan icon di Bundaran Burung. Pada masyarakat yang berpegang teguh kepada ajaran Kaharingan, bulu ekor Tingang menjadi pelengkap sarana ritual sembahyang. Ini yang disebut sebagai dandang Tingang. Dandang Tingang memiliki warna khas, yaitu berupa warna putih di bagian atas, warna hitam di tengah dan warna putih di bawah.

Warna putih di atas menggambarkan kekuasaan ‘langit’. Warna hitam di tengah berarti alam kehidupan manusia di dunia yang selalu diwarnai pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Warna putih di bawah artinya kesucian yang didapat melalui usaha individu dalam melawan kejahatan.

Bahan Bacaan

Candace Plattor, The Secret of Self-Respect: We Teach Other People How to Treat Us, 25 April 2018, https://medium.com

Eva Imania Eliasa, Pentingnya Sikap Respek bagi Pendidik dalam Pembelajaran, Majalah Ilmiah Pembelajaran No 1 Vol 7 Mei 2011, https://media.neliti.com

Karyanti, Muhammad Andi Setiawan, Model Konseling Kelompok Teknik Expresif Writing Berlandaskan Falsafah Dandang Tingang Untuk Meningkatkan Perilaku Respect,  Jurnal Konseling Andi Matappa, DOI: http://dx.doi.org/10.31100/jurkam.v2i2.331, 2018, diakses dari https://journal.stkip-andi-matappa.ac.id

Sintung Telu, Awal Mula Burung Tingang dan Arti Warna Bulu Ekor Tingang, 25 Juli 2017, http://sintungtelu.blogspot.com

Terra, Respecting People, 1 November 2016, https://medium.com

.

Ilustrasi : https://medium.com/

 4 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *