Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan Anak Jalanan

.

Writing for Wellness – 53

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Becoming street children is not a desirable option to everyone, especially for security issues. Street children often seen as a problem, and there are no regulations yet to overcome this phenomenon” – Herlina Astri, 2014

.

Anak jalanan sudah menjadi fenomena masyarakat perkotaan. Di berbagai kota besar, dengan mudah kita menemukan anak-anak yang dikategorikan sebagi anak jalanan. Mereka kerap tampak di traffict light, sebagai pengasong, pengamen atau peminta-minta. Terkadang dengan tampilan art performance. Di Jakarta, dijumpai pula sebagai joki “3 in 1” karena kebijakan lalu lintas yang mewajibkan minimal tiga penumpang dalam satu mobil.

Odi Shalahuddin (2004) membagi anak jalanan dalam tiga kategori. Pertama, children on the street, yaitu anak jalanan yang karena masalah ekonomi terpaksa berada di jalanan dan masih memiliki hubungan dengan keluarga. Kedua, children of the street, yaitu anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan, dan tidak memiliki hubungan dengan orang tua atau keluarganya lagi. Ketiga, children in the street, yaitu anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan, dari keluarga yang hidup di jalanan.

Nyayu Fatimah (2020) menyampaikan data penelitian, bahwa 21,9% dari anak-anak jalanan umumnya telah mengenal dunia jalanan dan berada di jalanan sejak usia masih relatif muda, sekitar 5 tahun. Mengenai alasan mereka bekerja di jalanan, 50% menyatakan untuk membantu orang tua. Pekerjaan orangtua dari anak jalanan itu pada umumnya adalah kuli pasar / kuli bangunan (24,8%), berdagang (21%) dan pengaguran (10,5 %).

Penghasilan yang diperoleh kedua orangtua tidak cukup untuk menghidupi seluruh keluarga. Karena kondisi inilah, mereka harus tega melepaskan anaknya ke jalanan sebagai upaya untuk menopang kelangsungan hidup mereka.

Dilihat dari jenis pekerjaan ibunya, 34,3%, merupakan pedagang, 31,4% adalah ibu rumah tangga, 11,4% kuli cuci dan 3,7 % pekerjaannya adalah mengemis. Penghasilan yang diperoleh kedua orangtua tidak cukup untuk menghidupi seluruh keluarga. Karena kondisi inilah, mereka harus tega melepaskan anaknya ke jalanan sebagai upaya untuk menopang kelangsungan hidup mereka.

Potret Perilaku Anak Jalanan

Nyayu Fatimah menyatakan, sikap-sikap yang lebih sopan dan bersih akan ditunjukkan oleh anak-anak jalanan “sampingan”, yaitu anak yang tidak setiap saat berada di jalanan. Sementara anak jalanan tetap (“matuh”) akan menunjukkan sikap dan berperilaku relatif kasar, kurang sopan serta kurang pengertian terhadap lingkungan. Ada perlakuan dan pribadi yang berbeda dari setiap kategori anak jalanan tersebut dan semua itu sangat tergantung dengan apakah ia masih bersama anggota keluarganya atau sudah lepas tanpa perhatian keluarga.

Hasil studi yang dilakukan Suryanto dan tim (2016) terhadap anak-anak jalanan yang diasuh oleh orangtua asuh, menunjukkan terdapat beberapa jenis perilaku pada anak-anak jalanan. Terdapat perilaku mengganggu teman, malas, banyak bermain, memegang alat vital temannya, berkata kotor, motivasi belajar rendah, membangkang, memukul teman, keras kepala, dan kesulitan belajar.

Dijumpai pula perilaku bermasalah, seperti anak yang mengancam bunuh diri. Permasalahan emosional anak yang sering muncul adalah mudah marah, tersinggung, kurang terbuka, membentak teman dan pendamping, memukul teman, emosional saat bicara, cemas, marah, perasaan bersalah dan sedih.

Hasil penelitian yang dilakukan Herlina Astri (2014) menunjukkan bahwa keberadaan anak jalanan sebagian besar disebabkan oleh kemiskinan, gangguan kepribadian, dan faktor eksternal anak. Mereka memiliki cara hidup sendiri dan sering dianggap sebagai sampah masyarakat.

Hasil penelitian yang dilakukan Herlina Astri (2014) menunjukkan bahwa keberadaan anak jalanan sebagian besar disebabkan oleh kemiskinan, gangguan kepribadian, dan faktor eksternal anak. Mereka memiliki cara hidup sendiri dan sering dianggap sebagai sampah masyarakat.

Kondisi kehidupan jalanan yang kurang mendukung dan kurangnya pengawasan dari keluarga membuat anak jalanan sangat rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan. Untuk mengatasi permasalahan anak jalanan, diperlukan perubahan yang komprehensif agar mereka tidak lagi hidup dan bekerja di jalanan.

Mengatasi Kecemasan Sosial Anak Jalanan Melalui Tulisan

Salah satu persoalan yang dihadapi anak jalanan adalah kecemasan sosial. Mereka berada dalam stigma negatif masyarakat, yang menganggap mereka sebagai sampah. Di sisi lain, anak-anak jalanan harus bertahan hidup di jalanan yang keras, dengan berbagai kegiatan yang bisa mendatangkan uang.

Sudah banyak LSM dan Ormas yang peduli dengan nasib anak-anak jalanan. Umumnya dibuat kegiatan ‘penampungan’ dengan menghadirkan rumah singgah bagi mereka. Sebagian dibawa ke Panti Asuhan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Ada pula yang diangkat sebagai anak asuh dalam satu keluarga.

Dalam melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap anak-anak jalanan, salah satu metode yang bisa diterapkan adalah dengan aktivitas menulis ekspresif. Studi yang dilakukan oleh Ida Fitria dan tim (2016) telah menguji sebuah modul eksperimen menulis ekspresif yang dirancang oleh peneliti berdasarkan pada rancangan umum dari Pannebaker dan Chung.

Tolak ukur keberhasilan modul dinilai dari penurunan kecemasan sosial partisipan pada skala SKS-R dari hasil perbandingan mean pre dan post-test pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan pengaplikasian modul menulis ekspresif dengan penurunan 5,2 dari nilai range mean skala kecemasan sosial sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai t yang signifikan.

Hasil penelitian Ida Fitria dan tim menunjukkan keberhasilan pengaplikasian modul menulis ekspresif untuk menurunkan kecemasan anak-anak jalanan. Skala kecemasan sosial sebelum dan sesudah intervensi menulis ekspresif, mengalami penurunan yang signifikan.

Hasil penelitian ini berkontribusi untuk penambahan sarana pelayanan di panti asuhan atau rumah singgah, untuk mengarahkan anak asuh melakukan kegiatan menulis ekspresif dalam bentuk diary. Kontribusi ini akan memberi dampak positif bagi kesejahteraan psikologis mereka, mengingat di panti asuhan atu rumah singgah, sering kali jumlah pengasuh dengan anak asuh berbanding sangat jauh.

Metode Menulis Ekspresif untuk Menekan Kecemasan

Sudah sangat banyak studi yang menunjukkan efektivitas menulis ekspresif untuk menurunkan tingkat kecemasan. Studi yang dilakukan Ida Fitria dan tim terhadap anak-anak jalanan menunjukkan hasil yang konsisten, bahwa kecemasan anak-anak jalanan menurun dengan signifikan setelah mendapatkan intervensi menulis diary.

Pada dasarnya, menulis ekspresif adalah metode menuliskan kondisi perasaan, pemikiran, pengalaman traumatis, secara bebas yang dilakukan secara rutin dalam beberapa hari tertentu. Dengan menuliskan hal-hal yang menekan, mereka telah melepaskan bebean-beban yang menghimpit pikiran dan perasaan.

Menulis ekspresif bisa juga dilakukan dalam konteks pengalaman menyenangkan dan membahagiakan. Orang-orang yang menulis tentang momentum kebahagiaan mereka, akan bisa menambah nilai kebahagiaan. Kecemasan akan mereda, dan kesejahteraan mental mereka akan meningkat.

Dengan melihat hasil penelitian Ida Fitriaa dan tim, pihak panti asuhan atau rumah singgah dapat menggunakan sarana menulis ekspresif dalam bentuk diary, sebagai alternatif dan sarana anak asuh berkeluh kesah atau curhat tanpa kendala.

Bahan Bacaan

Herlina Astri, The Live of Street Children: Causative Factors, Way of Life and Vulnerability to Have Deviant Behaviour, Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, 22 Desember 2014, https://jurnal.dpr.go.id

Ida Fitria dkk, Menulis Ekspresif Untuk Anak Jalanan: Suatu Metode Terapi Menulis Dalam Diary Melalui Modul Eksperimen,  Jurnal Psikoislamedia Volume 1, Nomor 1, April 2016, https://www.jurnal.ar-raniry.ac.id

Nyayu Fatimah, Anak Jalanan : Fenomena Sosial Perkotaan, 16 Maret 2020, https://simposiumjai.ui.ac.id

Odi Shalahuddin, Di Bawah Bayang-Bayang Ancaman: Dinamika Kehidupan Anak Jalanan, Yayasan Setara, Yogyakarta, 2004

Suryanto dkk, Deteksi Dini Masalah Psikologi Pada Anak Jalanan Oleh Orangtua Asuh di Rumah Singgah, http://dx.doi.org/10.20473/jpkm.V1I22016.85-96, (2016), https://e-journal.unair.ac.id/

.

Ilustrasi : https://www.change.org/p/parents-street-children-student-advocacy

 18 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *