Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Stres Siswa SMA

.

Writing for Wellness – 54

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah kelompok remaja yang tengah beranjak menuju usia dewasa. Mereka rentan mengalami berbagai stres baik yang terkait dengan sekolah, rumah, lingkungan maupun pengaruh global. Jiwa yang masih labil, di saat mereka harus bersikap menyiapkan masa depan, disertai pengaruh lingkungan yang sangat dahsyat.

Sebenarnya stres adalah hal lumrah, asalkan bisa disikapi dengan tepat. Jika mereka berada dalam kehidupan keluarga yang harmonis, lingkungan sekolah dan masyarakat yang kondusif, akan lebih mudah bagi remaja untuk mengelola stres. Jika tidak, maka stres bisa menjerumuskan mereka ke dalam persoalan yang lebih serius.

Kathleen Smith (2020) memberikan catatan, remaja SMA potensial mengalami beberapa bentuk stres. Yang pertama adalah academic stress. Persoalan nilai ujian hingga pilihan perguruan tinggi, bisa memicu stres pada remaja. Mereka khawatir tidak mampu memenuhi tuntutan akademis, serta membahagiakan orang tua.

Kedua, social stress. Remaja sangat enjoy dengan pertemanan sebaya. Maka kejadian bullying bisa memicu stres tersendiri. Tekanan teman sebaya kerap memicu kecemasan pada remaja. Ketiga, family discord. Konflik dan perpecahan keluarga dapat memicu stres remaja. Termasuk hubungan dengan saudara yang tidak harmonis, penyakit dalam keluarga, dan tekanan finansial dalam keluarga dapat memicu lonjakan stres remaja.

Keempat, world events. Kejadian di berbagai belahan dunia dengan sangat mudah diketahui oleh remaja melalui smartphone mereka. Tidak jarang berbagai peristiwa di tempat lain, bahkan negara lain, turut memicu keresahan remaja.

Kelima traumatic events. Kematian orangtua, anggota keluarga atau teman, kecelakaan, sakit berat, atau pelecehan fisik yang berkepanjangan dapat berdampak meningkatkan stres remaja. Diketahui, kekerasan dalam kencan remaja telah menimpa sekitar 10% remaja.

Keenam, significant life changes. Remaja bisa mengalami stres karena perubahan hidup yang signifikan. Pindah tempat tinggal, memulai sekolah baru, dan perubahan tatanan keluarga –termasuk perceraian dan keluarga campuran, dapat memicu stres bagi remaja.

Membantu Remaja Meredakan Stres Mereka

Lestari dan Eliyanti (2014) mengamati, pada siswa kelas X, stres banyak disebabkan oleh tuntutan untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dan penyesuaian diri sebagai remaja. Bila tidak ditangani, berbagai macam masalah tersebut akan mengganggu pengembangan potensi siswa. Salah satu teknik terapi yang dapat digunakan adalah menulis ekspresif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan teknik menulis ekspresif dalam mereduksi stres siswa kelas X. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Angkasa LANUD Husein Sastranegara Tahun Ajaran 2009/2010. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dalam suatu siklus yang terdiri dari observasi awal, rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan, dan refleksi.

Hasil penelitian Lestari dan Eliyanti menggambarkan bahwa tingkat stres siswa kelas X dalam satu kelas berbeda-beda sesuai dengan kemampuan penyesuaian diri dan keterampilan coping stresnya. Kategori tingkat stres tinggi pada siswa terlihat dari banyaknya gejala yang dirasakan pada aspek fisik, perilaku, pikiran, dan emosi. Teknik menulis ekspresif yang digunakan untuk membantu siswa terbukti efektif dalam mereduksi stres siswa, hal ini terlihat dari penurunan tingkat gejala stres siswa.

Teknik menulis ekspresif yang digunakan untuk membantu siswa terbukti efektif dalam mereduksi stres siswa, hal ini terlihat dari penurunan tingkat gejala stres siswa. Lestari dan Eliyanti (2014).

Penelitian serupa dilakukan oleh Nevy Kusuma Danarti dan tim (2019). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh expressive writing teraphy terhadap penurunan depresi, cemas, dan stres pada remaja di panti rehabilitasi sosial PSMP Antasena Magelang. Penelitian melibatkan 50 partisipan, dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling.

Danarti dan tim menemukan, terdapat pengaruh expressive writing therapy terhadap penurunan depresi dengan, penurunan cemas dan penurunan stres dengan nilai. Hasil penelitian menyarankan agar expressive writing therapy dijadikan sebagai intervensi dalam penanganan depresi, cemas, dan stress pada remaja yang sedang menjalani proses rehabilitasi sosial. Expressive writing therapy dapat digunakan untuk menurunkan depresi, cemas, dan stres pada remaja yang sedang menjalani proses rehabilitasi sosial.

Penelitian yang dilakukan Riska Okty Saputri (2019) menunjukkan hasil yang serupa. Saputri melakukan penelitian dengan melibatkan 50 partisipan remaja usia 17 hingga 19 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terapi menulis ekspresif terhadap penurunan stres pada remaja.

Pendekatan Konseling Melalui Menulis Ekspresif

Salah satu layanan yang diberikan oleh sekolah terhadap remaja adalah bimbingan dan konseling (BK). Hendaknya guru BK atau konselor memilih metode yang tepat dalam menangani stres pada remaja.

Penelitian yang dilakukan oleh Septin Anggraini dan tim (2019). Anggraini dan tim melakukan penelitian terhadap siswa SMAN 10 Malang, terkait penerapan konseling dengan teknik expressive writing. Hasil penelitian menunjukkan konselor menyambut baik penerapan konseling dengan teknik expressive writing dan siswa menunjukkan sikap antusias dalam mengikuti konseling teknik expressive writing.

Teknik menulis ekspresif terbukti mampu menurunkan tingkat stres remaja SMA. Ini bisa menjadi alternatif bagi para guru BK dan konselor, untuk mendampingi remaja. Demikian pula bisa dilakukan oleh orangtua di rumah dalam memberikan pendampingan bagi anak-anak remaja.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Kathleen Smith, 6 Common Triggers of Teen Stress, 24 November 2020, https://www.psycom.net

Myrna Apriany Lestari, Marlina Eliyanti, Efektivitas Penggunaan Teknik Menulis Ekspresif dalam Mereduksi Stres Siswa Kelas X SMA, Pedagogi Jurnal Penelitian Pendidikan Vol 01 Ed. I, November 2014, diakses dari https://media.neliti.com

Nevy Kusuma Danarti dkk, Pengaruh Expressive Writing Theraphy Terhadap Penurunan Depresi, Cemas, dan Stres pada Remaja, Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, Vol 1 No 1, Mei 2018, https://journal.ppnijateng.org

Riska Okty Saputri, Pengaruh Terapi Menulis Ekspresif Terhadap Penurunan Stres Pada Remaja, 17 Desember 2019, http://repository.itspku.ac.id

Septin Anggraini dkk, Keefektifan Teknik Expressive Writing Untuk Mereduksi Emosi Negatif Siswa SMA, Jurnal Pendidikan UMM, Vol 4 No 1 Th 2019, http://journal.um.ac.id/

.

Ilustrasi : https://www.psikoma.com/

 8 kali dilihat

Satu Komentar

  • Isnaillaila paramasari

    MasyaAllah.. Saya setuju pak Cah, saya sudah menerapkan menulis jurnal harian, dari hal ringan sampai berat, dari hal sepele sampai yang membebani pikiran, hasilnya adalah rasa bersyukur dan mengenal jati diri. Kalau sudah syukur, jadi lebih semangat menjalani aktivitas. Namun ternyata rasa syukur itu sulit didapat dalam situasi yang kurang menentu saat ini, sehingga harus dilatih setiap hari. Salah satunya adalah dengan menulis jurnal harian.. Terima kasih Pak Cah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *