Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Meredakan Depresi Pelaku Self Injury

.

Writing for Wellness – 84

Oleh : Cahyadi Takariawan

“… bapak sama ibu sering berantem, pukul-pukulan, sampe diliatin sama tetangga… Bapak juga suka main tangan ke anak-anak, ga cuma sama ibu aja… Setiap kali bapak main tangan, di situ aku sering ngerasa frustasi … Jadi aku suka nyilet-nyilet tangan… sampe bapak tau pertama kali, aku dikata-katain ‘goblok, ngapain lo kaya gitu make narkoba ya lo’ terus dijedot-jedotin kepala aku. Adek juga sering dipukulin karena main warnet, sampe diseret-seret dari warnet, sampe kasian kita ngeliatnya…” (Simatupang, 2019)

.

Curhat di atas ditulis oleh Simatupang (2019) dalam penelitian terhadap pelaku self injury. Simatupang melakukan wawancara terhadap tiga orang pelaku self injury, dan meneliti penyebab tidakan tersebut. Ia menemukan, ketiga pelaku memiliki motif yang sama, yaitu merasakan stres akibat tekanan masalah dalam keluarganya.

Perbuatan melukai diri sendiri disebit sebagai self injury. Beberapa ahli menyatakan, self injury adalah tindakan mencederai tubuh sendiri dengan disengaja, tanpa niat bunuh diri. Self Injury juga sering dikenal dengan istilah self harm, atau disebut juga NSSI, non-suicidal self-injury (Serani, 2012).

Tindakan self injury bisa dalam bentuk mengamputasi anggota tubuh, menghantam-hantamkan kepala ke tembok, menyayat bagian tubuh, –seperti pergelangan tangan, paha bagian dalam, lengan atas— mencabuti rambut, mematahkan tulang, dan tindakan lain (Afnida, 2021).

Self injury umumnya dilakukan secara rahasia atau diam-diam. Pelaku  menutupi luka akibat sayatan dengan pakaian, perhiasan, atau perban. Beberapa remaja sengaja berpakaian lengan penjang, untuk menutupi luka sayatan di tubuhnya.

Tindakan self injury dapat terjadi pada usia berapa pun, namun  lebih sering muncul pada masa perkembangan remaja. Saat remaja mulai melakukan self injury, kemungkinan besar mereka akan ketergantungan dengan tindakan ini untuk mengelola emosi negatifnya (Afnida, 2021). Hal ini dikarenakan seorang remaja biasanya masih belum cukup memiliki cara untuk meredakannya. 

Self injury juga sering dijumpai pada seseorang dengan diagnosa borderline personality disorder, gangguan suasana hati, gangguan makan, gangguan stress paska trauma, kecemasan, gangguan kontrol impuls, dan gangguan obsesif kompulsif (Serani, 2012).

Biasanya, pelaku tindakan self injury bertujuan untuk meredakan perasaan-perasaan yang menyakitkan yang terlalu berlebihan. Namun ada pula pelaku self injury karena merasakan kekosongan jiwa (Simatupang, 2019). Tujuan lain adalah sebagai cara mengekspresikan hal-hal yang tidak dapat mereka ceritakan.  Ada juga pelaku self injury dengan tujuan untuk menghukum diri sendiri (Afnida, 2021).

Menulis Ekspresif untuk Meredakan Depresi Pelaku Self Injury

Menulis ekspresif dapat membantu individu untuk mengekspresikan semua perasaan dan pikirannya melalui media tulisan. Selain itu kegiatan menulis juga memberikan kesempatan kepada individu untuk melakukan penilaian ulang mengenai permasalahan yang dihadapi serta penilaian diri sendiri.

Seruni Yuniarti (2018) melakukan penelitian yang melibatkan tiga orang partisipan. Desain penelitian adalah studi kasus dengan mixed method menggunakan Concurrent Embedded Strategy Design dan data kualitatif menjadi data primer. Data kualitatif dianalisis menggunakan thematic analysis sedangkan data kuantitatif menggunakan teknik statistik deskriptif.

Hasil dari data kualitatif maupun kuantitatif terlihat bahwa expressive writing therapy dapat menurunkan perilaku melukai diri pada mahasiswa. Berdasarkan data kualitatif juga tergambar bahwa terdapat perubahan pada diri partisipan, pemikiran partisipan menjadi lebih positif, meningkatnya kesadaran diri partisipan, hingga kemampuan partisipan dalam mengekspresikan emosi negatifnya.

Hasil kuantitatif menunjukan bahwa frekuensi dan intensitas perilaku melukai diri pada partisipan mengalami penurunan. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi menulis ekspresif dapat memberikan efek positif kepada partisipan.

Hasil penelitian Yuniarti (2018) menyimpulkan bahwa intervensi menulis ekspresif dapat memberikan efek positif kepada partisipan.

Studi serupa dilakukan oleh Maulida dan Annatagia (2019), Mereka melakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas menulis ekspresif dalam menurunkan depresi pada remaja yang melakukan self injury.

Asesmen dilakukan dengan wawancara kepada guru BK dan focus group discussion kepada para partisipan. Penelitian dilakukan pada remaja perempuan kelas VII di SMP X yang melakukan self injury dan berada pada kategori depresi tingkat sedang hingga tinggi.

Kesimpulan dari penelitian Maulida dan Annatagia (2019) adalah, terapi menulis ekspresif efektif dalam menurunkan depresi pada remaja yang melakukan self injury.

Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan depresi pada kelompok eksperimen antara pretest dan posttest, dan pada saat pretest dan follow up. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terapi menulis ekspresif efektif dalam menurunkan depresi pada remaja yang melakukan self injury.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.

Bahan Bacaan

Afnida, Apa itu Self Injury? RS Awal Bros, http://awalbros.com, diakses pada 27 Maret 2021

Deborah Serani, Depression and Non-Suicidal Self Injury, 28 Februari 2012, https://www.psychologytoday.com

Laras Octavia Gracia Simatupang, Gambaran Kesepian pada Remaja Pelaku Self Harm, Universitas Negeri Jakarta, 2019, http://repository.unj.ac.id

Nurul Hikmah Maulida, Libbie Annatagia, Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Depresi pada Remaja yang Melakukan Self Injury, Jurnal Psikologi Indonesia, Vol 4 No 1 th 2019, diakses dari https://jurnal.ipkindonesia.or.id

Seruni Yuniarti, Efektivitas Expressive Writing Therapy Untuk Menurunkan Perilaku Melukai Diri Pada Mahasiswa Universitas Padjadjaran, 2018, Penerbit Universitas Padjadjaran, http://pustaka.unpad.ac.id

.

Ilustrasi : https://pijarpsikologi.org/

 10 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *