Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Mereduksi Kecemasan Pasien Diabetes Melitus

.

Writing for Wellness – 90

Oleh : Cahyadi Takariawan

Studies have shown that when diabetic patients were randomly assigned to engage in expressive writing about personal traumatic or stressful events or neutral writing on topics that do not affect them emotionally –the patients engaged in expressive writing showed improved symptoms rather than those engaged in neutral writing. A better physical quality of life was also reported  – Chaudhuri, 2013

.

Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).

Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Namun demikian ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai syarat kemungkinan diabetes. Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsia (sering haus), dan polifagia (banyak makan / mudah lapar). Selain itu sering muncul keluhan penglihatan kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan atau kaki, timbul gatal-gatal yang sangat mengganggu (pruritus), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas (P2PTM Kemkes RI, 2021).

Pada DM Tipe I gejala klasik yang umum dikeluhkan adalah poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, cepat merasa lelah (fatigue), iritabilitas, dan pruritus (gatal-gatal pada kulit). DM Tipe II seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah berkembang dan komplikasi sudah terjadi. Penderita DM Tipe II umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari luka, daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, dan juga komplikasi pada pembuluh darah dan syaraf (P2PTM Kemkes RI, 2021).

Selama ini, pengobatan yang dilakukan lebih banyak berorientasi pada aspek fisik, dan kurang memperhatikan aspek psikologis terutama masalah kecemasan.

Selama ini, pengobatan yang dilakukan lebih banyak berorientasi pada aspek fisik, dan kurang memperhatikan aspek psikologis terutama masalah kecemasan. Penderita DM mengalami banyak perubahan dalam hidupnya, mulai dari pengaturan pola makan, olah raga, kontrol gula darah, dan lain-lain yang harus dilakukan sepanjang hidupnya.  Perubahan dalam hidup yang mendadak membuat penderita DM menunjukan beberapa reaksi psikologis yang negatif diantaranya adalah marah, merasa tidak berguna, kecemasan yang meningkat dan depresi (Melathy dan Astuti, 2015).

Selain perubahan tersebut jika penderita DM telah mengalami komplikasi maka akan menambah kecemasan. Dengan adanya komplikasi membuat penderita mengeluarkan lebih banyak biaya, pandangan negatif tentang masa depan, dan lain-lain (Melathy dan Astuti, 2015). Kecemasan semakin meningkat, dan kesehatan semakin memburuk.

Kondisi kecemasan yang dialami oleh pasien diabetes berpengaruh terhadap kondisi fisiologis. Kecemasan yang dialami pasien juga akan berpengaruh terhadap kadar glukosa darah pada penderita DM. 

Menulis Ekspresif untuk Mengurangi Kecemasan Pasien DM

Menulis ekspresif merupakan kegiatan menuliskan perasaan dan pikiran yang paling mendalam dari peristiwa yang dialami, baik pengalaman yang menyedihkan maupun pengalaman menyenangkan. Telah banyak penelitian menunjukkan efektivitas menulis ekspresif untuk meredakan kecemasan.

Chaudhuri (2013) menyatakan, ketika pasien diabetes secara acak ditugaskan untuk terlibat dalam tulisan ekspresif tentang peristiwa traumatis atau stres pribadi atau tulisan netral tentang topik yang tidak mempengaruhi mereka secara emosional. Para pasien yang terlibat dalam penulisan ekspresif menunjukkan gejala yang lebih baik daripada mereka yang terlibat dalam penulisan netral (Chaudhuri, 2013).

“Expressive writing, which is defined as writing done to explore one’s innermost thoughts and feelings, has long been used as a method for self understanding and as a behavioural therapy to treat patients who have psychological stress in a therapeutic mind-body context” –Chaudhuri, 2013.

Menurut Chaudhuri, melalui menulis ekspresif, kualitas hidup fisik penderita DM dilaporkan menjadi lebih baik. Pikiran dan perasaan, atau proses kognitif dan emosi yang terkait dengan diabetes, adalah kunci yang menyebabkan tulisan ekspresif memberikan manfaat positif bagi kesehatan pasien DM (Chaudhuri, 2013).

Menulis ekspresif telah lama digunakan sebagai metode untuk memahami diri dan sebagai terapi untuk merawat pasien yang mengalami tekanan psikologis dalam konteks pikiran maupun fisik. Tulisan ekspresif mampu memberikan manfaat kesehatan fisik dan mental; ekspresi emosional meningkatkan penyesuaian psikososial dan dengan demikian mengurangi stres.

Jika stres berkurang, maka kondisi pasien DM akan semakin membaik. Karena stres adalah salah satu penentu utama memburuknya kondisi pasien diabetes. Dengan demikian, aktivitas menulis ekspresif telah memperbaiki kondisi kesehatan pasien DM.

“Expressive writing, or disclosure about meaningful personal thoughts and feelings, thus confers physical as well as mental health benefits; emotional expression improves psychosocial adjustment and thus reduces stress, one of the main determinants for the worsening of diabetes” –Chaudhuri, 2013.

Penelitian yang dilakukan Melathy dan Astuti (2015), semakin menguatkan penjelasan tersebut. Mereka melakukan penelitian terhadap perempuan usia 44 hingga 53 tahun. Keseluruhannya adalah penderita DM tipe II yang melakukan kontrol rutin di Puskesmas Srondol Semarang.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh menulis ekspresif terhadap kecemasan pada penderita DM tipe II.

Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner kecemasan pada penderita diabetes melitus, kuesioner efektifitas menulis ekspresif, dan observasi. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode analisis kuantitatif deskriptif dengan visual grafik dan metode kualitatif yang bertujuan untuk mendapatkan data yang lebih faktual dan mendeskripsikan hasil yang diperoleh dari subjek.

Hasil dari pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kecemasan mengalami penurunan setelah dilakukan menulis ekspresif. Penurunan kecemasan yang dialami subjek terlihat dari skor yang diperoleh melalui kuesioner kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek mengalami penurunan kecemasan setelah penelitian menulis ekspresif.

Hipotesis bahwa menulis ekspresif mampu menurunkan kecemasan penderita DM, berhasil dibuktikan. Kesehatan psikologis dan fisik dari efek menulis ekspresif sama seperti manfaat mendapatkan intervensi psikologi. Keuntungan intervensi menulis ekspresif adalah, mudah dilakukan dan berbiaya murah.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.

Bahan Bacaan

Choirunnisa Ema Melathy, Tri Puji Astuti, Anda Diabet ? Mari Menulis Ekspresif, 23 Maret 2015, https://www.kompasiana.com

Choirunnisa Ema Melathy, Tri Puji Astuti, Pengaruh Menulis Ekspresif Terhadap Kecemasan pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II, Jurnal EMPATI, vol. 3, no. 4, Januari 2015, https://ejournal3.undip.ac.id

Sutapa Chaudhuri, Expressive Writing as Therapeutic Intervention, 27 Agustus 2013, https://www.boloji.com

P2PTM Kemkes RI, Penyakit Diabetes Melitus, http://www.p2ptm.kemkes.go.id, diakses pada 2 April 2021

.

Ilustrasi : http://news.unair.ac.id/

 6 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *