Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Mereduksi Stres Anak Korban KDRT

.

Writing for Wellness – 88

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pada masa pandemi saat ini, dilaporkan terjadi peningkatan kasus KDRT yang signifikan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Data dari Komnas Perempuan Indonesia, KDRT menjadi kasus kekerasan yang paling banyak dilaporkan. Dari 319 kasus kekerasan yang dilaporkan, dua pertiga-nya (213 kasus) merupakan kasus KDRT (Susiana, 2020).

Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 angka 1 UU 23 / 2004).

KDRT dapat berupa kekerasan fisik (physical violence), kekerasan psikologis atau emosional (emotional violence), kekerasan seksual (sexual violence), dan kekerasan ekonomi (economic violence). Dalam UU PKDRT, tindak KDRT diatur dalam Pasal 5 dan dibedakan menjadi empat jenis, yaitu: (1) kekerasan fisik; (2) kekerasan psikis; (3) kekerasan seksual; dan (4) penelantaran rumah tangga.

Tidak jarang seseorang mengalami beberapa jenis KDRT secara sekaligus. Korban KDRT juga bersifat lintas demografi, tanpa membedakan status sosial ekonomi, suku, agama, tingkat pendidikan, dan usia. Kekerasan terhadap perempuan, termasuk KDRT merupakan fenomena gunung es, tidak semua kasus KDRT dilaporkan (Susiana, 2020).

Berdasarkan Catatan Tahunan tentang Kekerasan terhadap Perempuan yang disusun oleh Komnas Perempuan Tahun 2020, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling banyak terjadi pada tahun 2019 masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu KDRT/RP (Ranah Personal) yang mencapai angka 11.105 kasus atau 75%

Dengan berbagai pembatasan di tempat kerja, sekolah, dan tempat atau fasilitas umum, masyarakat lebih banyak tinggal di rumah (stay at home). Baik untuk belajar dari rumah (school from home) maupun bekerja dari rumah (work from home). Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai masalah baru dalam keluarga, termasuk tindak kekerasan (Susiana, 2020). Salah satu kelompok yang rentan mengalami kekerasan adalah anak-anak.

Kondisi ini dapat bertambah parah pada keluarga dengan ekonomi yang tidak menentu akibat pandemi. Sementara beban anak semakin meningkat karena harus belajar dari rumah, mengerjakan setumpuk tugas sekolah, tidak leluasa beraktivitas, tidak leluasa berkegiatan bersama teman-teman.

Data Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) menunjukkan, ada 110 kasus KDRT yang dilaporkan sejak pemberlakuan PSBB (16 Maret-20 Juni 2020) atau setengah dari kasus KDRT selama tahun 2019 (Susiana, 2020).  

Menulis Ekspresif untuk Meredakan Stres Anak Korban KDRT

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) banyak dialami disemua negara, di Indonesia kasus KDRT setiap tahun mengalami peningkatan. Siapapun bisa menjadi korban dalam kasus KDRT ini, kebanyakan memang dialami oleh perempuan (ibu) dan anak-anak sebagai korban langsung maupun tidak langsung. Anak-anak sebagai korban KDRT rentan mengalami tekanan secara psikologis (Rahmawati, 2014).

Sebuah penelitian yang dilakukan Yusnita (2018) di Desa Bandaraji, Kecamatan Sikap Dalam, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Bengkulu menunjukan bahwa kekerasan dalam rumah tangga terhadap anak terutama terjadi pada dua bentuk. Pertama bentuk kekerasan secara fisik seperti memukul, mencubit dan menampar. Kedua bentuk kekerasan secara psikis seperti membentak dan berkata kasar.

Adapun dampak KDRT terhadap anak, pertama, pada sikap, seperti suka menyendiri, keras kepala, sering membalas omongan orang tua dan sering membantah bila diminta tolong oleh orang tua. Kedua, dampak pada emosi, seperti sering gugup, takut dan cemas (Yusnita, 2018).

Menulis merupakan salah satu aktivitas positif yang dapat menyalurkan perasaan. Rahmawati (2014) melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh menulis ekspresif dalam membantu anak-anak korban kekerasan dalam rumah tangga.

Kesimpulan dari penelitian Rahmawati (2014), menulis ekspresif efektif untuk meredakan stres pada anak-anak korban KDRT.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode pengambilan data menggunakan (pretest-posttest) skala tingkat stres dan analisa lembar self monitoring. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah dua orang dengan jenis kelamin perempuan.

Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi perubahan tingkat stres antara sebelum dan sesudah mendapatkan perlakuan menulis ekspresif. Kesimpulan, menulis ekspresif efektif untuk meredakan stres pada anak-anak korban KDRT.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Marieta Rahmawati, Menulis Ekspresif Sebagai Strategi Mereduksi Stres Untuk Anak-Anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, Fak Psikologi UMM, Vol. 02, No.02, Januari 2014, https://ejournal.umm.ac.id

Sali Susiana, Kekerasan dalam Rumah Tangga pada Masa Pandemi Covid-19, Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, Info Singkat Vol. XII, No. 24/II/Puslit/Desember/2020, diakses dari http://berkas.dpr.go.id

Yusnita, Dampak Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Anak, IAIN Bengkulu, 2018, http://repository.iainbengkulu.ac.id

.

Ilustrasi : https://dedwardslaw.com

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *