Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Terapi Gangguan Berbahasa

.

Writing for Wellness – 57

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Anda pernah bertemu dengan seseorang yang selalu kesulitan menyampaikan pendapat atau keinginannya? Mungkin mereka adalah orang yang mengalami gangguan berbahasa. Gangguan berbahasa bisa menjadi permasalahan serius dalam proses komunikasi seseorang dengan lingkungannya.

Secara medis dinyatakan, gangguan bahasa adalah gangguan penguasaan dan penggunaan bahasa, baik yang diucapkan, tertulis, atau bahasa tubuh, yang disebabkan defisit produksi atau komprehensi. Gangguan bahasa bisa terjadi dalam bentuk kurangnya perbendaharaan dan pengertian tentang kata, gangguan dalam pembentukan struktur kalimat, dan gangguan penggunaan kata dan kalimat sehari-hari.

Gangguan berbahasa ini tidak didasari oleh adanya gangguan pendengaran atau gangguan sensorik lainnya. Jadi, bukan karena disfungsi motorik, atau kondisi medis atau neurologis lainnya.

Secara umum, ada jenis gangguan bahasa ekspresif dan gangguan bahasa reseptif. Yang dimaksud gangguan bahasa ekspresif adalah gangguan kemampuan untuk memformulasikan ide dan pesan menggunakan kata dan kalimat. Sedangkan gangguan bahasa reseptif adalah gangguan kemampuan untuk memahami pesan yang disandikan dalam kata-kata dan kalimat. Dijumpai pula gangguan bahasa ekspresif-reseptif (campuran), yang berupa kombinasi defisit dalam memahami dan menghasilkan pesan.

Depresi dan Gangguan Berbahasa

Tekanan kehidupan, persoalan atau penyakit yang berat, kegagalan dalam meraih keinginan, bisa menghasilkan suasana depresi. Pada orang yang mengalami depresi, bisa berdampak lanjut pada gangguan komunikasi, yang salah satunya adalah gangguan berbahasa.

Bahkan, studi yang dilakukan oleh Mohammed Al-Mosaiwi dan Tom Johnstone (2018) menunjukkan, orang-orang yang mengalami depresi bisa tampak dari cara mereka berbahasa. Kekacauan berpikir membuat penderita depresi cenderung memiliki pilihan kosa kata yang spesifik, yang bisa dikenali sebagai tanda depresi.

Studi yang dilakukan oleh Mohammed Al-Mosaiwi dan Tom Johnstone (2018) menunjukkan, orang-orang yang mengalami depresi bisa tampak dari cara mereka berbahasa.

Sebenarnya, berbahasa atau menggunakan bahasa adalah suatu aktivitas alamiah yang sama halnya dengan bernapas, di mana kita cenderung tidak memikirkannya. Semua manusia dewasa mudah berbahasa, sebagai fungsi normal dalam komunikasi sosial. Namun ketika muncul gangguan berpikir lantaran depresi, akan memengaruhi kegiatan berbahasa (Indah, 2017).

Orang-orang yang tengah mengalami depresi, menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan kalimat yang tidak lengkap, atau bahkan kacau. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengangkat topik-topik menyedihkan atau ketidakberdayaan dalam sebuah pembicaraan. Juga akan kesulitan fokus terhadap pembicaraan dalam komunitas (Sabilla, 2020). Hal ini membuat mereka semakin terisolir dari pergaulan sosial.

Orang-orang yang tengah mengalami depresi, menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan kalimat yang tidak lengkap, atau bahkan kacau.

Salah satu cara mengurangi gangguan berbahasa pada penderita depresi dapat dilakukan melalui kegiatan menulis ekspresif. Menulis ekspresif dapat memfasilitasi seseorang untuk menyalurkan emosi negatifnya, sehingga meningkatkan kesehatan jiwa. Hal ini berdampak pada proses berbahasa sehari-hari yang lancar dan mudah dipahami orang lain.

Telah banyak penelitian yang menunjukkan efektivitas menulis ekspresif untuk meningkatkan emosi positif pada penderita depresi. Dengan demikian dapat menekan pemikiran negatif dan memperlancar proses berbahasa orang tersebut. Annisa Fitriana Sabilla (2020) melakukan penelitian untuk mempelajari relasi antara menulis ekspresif dengan penurunan gejala-gejala pada depresi. Peneliti menggunakan metode analisis data.

Menulis Ekspresif untuk Mengatasi Gangguan Berbahasa

Menulis bisa menjadi bentuk ekspresi diri atau katarsis, sekaligus self-help yang telah dipraktekkan banyak kalangan. Menulis juga merupakan keterampilan berkomunikasi yang penting untuk pengembangan potensi diri. Menulis adalah bentuk self expression yang banyak digunakan oleh terapis dalam membantu individu mengenali dan mengerti pengalaman traumatis mereka (Sabilla, 2020).

Dengan menulis, seseorang akan mengungkapkan ide secara sistematis, jelas, logis. Hal ini sangat berbeda dengan berbicara, yang cenderung bebas tanpa sistematika tertentu. Terapi dengan menulis ekspresif menjadi alternatif metode yang ‘murah dan mudah’, karena bisa dilakukan secara mandiri ataupun dengan bantuan pihak ahli.

Para ahli menyatakan, menulis ekspresif dapat memfasilitasi regulasi emosi melalui tiga cara. Pertama memfokuskan perhatian, kedua memberikan fasilitas habituasi (pembiasaan), dan ketiga membantu pembangunan kembali fungsi kognitif. Menulis ekspresif dapat menyediakan ruang yang sangat luas dan pribadi bagi pribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan perasaannya secara bebas.

Penelitian yang dilakukan Sabilla (2020) memberikan hasil yang positif bagi upaya mengatasi gangguan berbahasa. Sabilla menemukan pengaruh yang cukup signifikan dalam kegiatan menulis ekspresif sebagai salah satu bentuk terapi atau upaya katarsis dalam meringankan gangguan berbahasa pada penderita depresi.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui adanya peningkatan emosi positif pada diri partisipan. Hal ini memungkinkan menekan pemikiran-pemikiran negatif yang sering muncul pada penderita depresi, yang menyebabkan proses berbahasa mereka terganggu. Dengan luapan ekspresi diri yang dilakukan dalam bentuk tulisan ini, memungkinkan penderita gangguan depresi akan lebih stabil dan dapat melakukan komunikasi dengan lebih fokus dengan lawan bicaranya (Sabilla, 2020).

Menulis ekspresif yang dilakukan pada penderita depresi, telah menyalurkan berbagai emosi negatif yang mengganggu pemikiran. Setelah emosi negatif tersalurkan melalui tulisan, pikiran bisa menjadi tenang. Beban-beban yang mengganggu pikiran dan mengacaukan proses berbahasa, telah tereduksi dengan efektif. Hasilnya, gangguan berbahasa bisa diatasi.

Selamat menulis, selamat berbahagia.

Daftar Bacaan

Annisa Fitriana Sabilla, Menulis Ekspresif Sebagai Sarana Terapi Gangguan Berbahasa pada Remaja Penderita Depresi, DOI: 10.31227/osf.io/q5z4h, Januari 2020, https://www.researchgate.net

Mohammed Al-Mosaiwi, Tom Johnstone, In an Absolute State: Elevated Use of Absolutist Words Is a Marker Specific to Anxiety, Depression, and Suicidal Ideation, https://doi.org/10.1177/2167702617747074, 5 Januari 2018, https://journals.sagepub.com

Novi Qonitatin dkk, Pengaruh Katarsis Dalam Menulis Ekspresif Sebagai Intervensi Depresi Ringan Pada Mahasiswa, DOI: https://doi.org/10.14710/jpu.9.1, Jurnal Psikologi Undip, 2011, https://ejournal.undip.ac.id/

Rohmani Nur Indah, Gangguan Berbahasa, Kajian Pengantar, UIN Maliki Press, Malang, 2017.

Susi Rutmalem, Gangguan Berbahasa, Instalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJ Prof Dr Soerojo, https://rsjsoerojo.co.id, diakses pada 28 Februari 2021

.

Ilustrasi : https://news.berkeley.edu/

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *