Positive Writing

Menulis Ekspresif untuk Terapi Penderita Psikosomatis

.

Writing for Wellness – 91

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Gangguan psikosomatis merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang erat kaitannya dengan pola pikir seseorang. Gangguan psikosomatis terjadi ketika ada pemicu dari pikiran, dan sangat dipengaruhi kondisi emosi seseorang.

Ketika kita sedang stres atau cemas, muncul reaksi tubuh yang membuat tak nyaman atau istilahnya adalah gangguan psikosomatis. Psychosomatic adalah salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum terjadi (Trifiana, 2019).

Jika biasanya gangguan kesehatan terjadi karena cedera atau infeksi, lain halnya dengan gangguan psikosomatis. Bahkan, gangguan psikosomatis yang dipicu stres emosi dapat berdampak pada rasa nyeri tertentu pada tubuh. Gejala yang dirasakan setiap orang berbeda-beda, bergantung pada seberapa parah trauma dan stres yang dialami (Wisnubrata, 2020).

Untuk mengetahui apakah seseorang dalam kondisi stres atau tidak, ada beberapa gejala yang bisa diidentifikasi. Di antaranya adalah tangan terasa lebih dingin ketika disentuhkan ke leher, detak jantung kencang atau cepat, telapak tangan berkeringat, otot tegang, mulut kering, tremor, mudah marah, tekanan darah meningkat, sulit tidur dan lain sebagainya. Jika stres telah berubah menjadi terlalu ekstrem, maka gangguan psikosomatis bisa terjadi.

Sebenarnya stres pasti terjadi dalam kehidupan manusia. Tidak ada orang yang hidupnya datar-datar saja. Ketika orang bisa mengenali emosi dan bisa validasi emosi yang dialaminya, itu adalah stres yang baik. Sebaliknya, stres juga bisa menjadi pemicu gangguan psikosomatis apabila terjadi begitu ekstrem. Contohnya mengalami rasa kehilangan yang begitu besar hingga depresi.

Memang bukan perkara mudah memahami bagaimana stres bisa memicu gangguan psikosomatis, karena konsepnya abstrak dan tidak kasat mata. Namun stres diyakini menjadi akar terciptanya segala jenis penyakit. Analogi yang bisa memudahkan dalam memahami stres dan gangguan psikosomatis adalah pressure cooker, alat masak tertutup yang menggunakan tekanan untuk mematangkan bahan tertentu (Trifiana, 2019).  

Pressure cooker memiliki saluran tertentu untuk mengeluarkan uap dari dalamnya. Namun jika saluran itu tersumbat, maka tekanan justru bisa menekan bagian tutup panci dengan paksa. Jika tekanan terus menerus terjadi, pressure cooker akan rusak di titik tertentu. Analogi ini sama seperti tubuh manusia ketika tidak lagi bisa menghadapi stres ekstrem (Trifiana, 2019).  

Muthoharoh (2013) menyatakan, stres adalah suatu kondisi atau perasaan ketika seseorang merasakan tuntutan melebihi sumber daya pribadi dan sosialnya. Suatu rangkaian dari stimulus dan respon seseorang terhadap peristiwa yang dihadapinya, dan dampak stres yang dirasakan individu dipengaruhi oleh penilaian kognitif serta kemampuan yang dimiliki individu untuk melakukan coping (pengelolaan) stres.

Stres yang tak terselesaikan dapat termanifestasikan kedalam keluhan fisik yang disebut sebagai psikosomatik. Halim (dalam : Muthoharoh, 2013), psikosomatik adalah sebagai keadaan psikis yang memengaruhi keluhan jasmani.

Menulis Ekspresif untuk Meredakan Stres Penderita Psikosomatis

Sejak menulis ekspresif pertama kali digunakan pada 1980-an, sangat banyak studi telah menguji parameter dan efektivitasnya. Di laboratorium, peningkatan kesehatan yang konsisten dan signifikan ditemukan ketika individu menulis atau berbicara tentang pengalaman yang menyakitkan. Efeknya mencakup penanda subyektif dan obyektif dari kesehatan dan kesejahteraan (Pennebaker, 2011).

“In the laboratory, consistent and significant health improvements are found when individuals write or talk about personally upsetting experiences” –Pennebaker, 2011

Terapi menulis ekspresif merupakan proses terapi dengan menggunakan metode menulis ekspresif untuk mengungkapkan pengalaman emosional, untuk mengurangi stres yang dirasakan individu. Dengan demikian dapat membantu memperbaiki kesehatan fisik, menjernihkan pikiran, memperbaiki perilaku, dan menstabilkan emosi. Ekpresi emosional merupakan ekspresi natural dari emosi yang sebenarnya (Muthoharoh, 2013).

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian (misalanya, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain) secara holistik. Pendekatan ini dengan cara mendeskripsikannya dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Hasil yang diperoleh dari penelitian Muthoharoh menunjukkan, tingkat stres subjek menurun setelah diberi perlakuan. Subjek melakukan dua hal dalam proses terapi menulis ekspresif, yaitu: mengungkapkan peristiwa traumatis dan emosi terdalam terkait peristiwa tersebut. Proses tersebut kemudian dapat membantu memulihkan kondisi psikosomatik yang dialami subjek.

Bahan Bacaan

Azelia Trifiana, Gangguan Psychosomatic (Psikosomatik) Adalah Saat Stres Melampaui Batas, 23 Oktober 2019, https://www.sehatq.com/

Handiana Muthoharoh, Studi tentang Terapi Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Stres pada Penderita Gangguan Psikosomatik, 2013, UIN Maulana Malik Ibrahim, http://etheses.uin-malang.ac.id

James W. Pennebaker, Cindy K. Chung, Expressive Writing: Connections to Physical and Mental Health, DOI: 10.1093/oxfordhb/9780195342819.013.0018, Agustus 2011, https://www.oxfordhandbooks.com

Wisnubrata, Gangguan Psikosomatis, Saat Stres Melampaui Batas, Kompas.com, 29 Maret 2020, https://lifestyle.kompas.com

.

Ilustrasi : https://lifestyle.kompas.com/

 6 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *