Positive Writing

Menulis Mampu Mengobati Patah Hati

.

Writing for Wellness – 43

Oleh : Cahyadi Takariawan

“In the aftermath of a failed relationship, expressive writing reduced individuals’ risk for developing symptoms of upper respiratory illness, tension and fatigue” – Lepore & Greenberg (2002)

.

Anda sedang patah hati? Anda tengah putus hubungan dengan pacar atau orang yang Anda cintai? Bagaimana rasanya? Sudah pasti, sangat sakit di hati. Bukan saja terkait sakitnya patah hati, kondisi itu juga sekaligus membuat sulit untuk segera move on.

Yang perlu dilakukan adalah mengobati patah hati, dan segera move on. Ada sangat banyak cara untuk menyembuhkan patah hati. Sebagian memerlukan intervensi medis atau klinis, karena sudah berada dalam taraf sakit yang membahayakan. Biasanya pasien seperti ini, akan ditangani oleh psikiater.

Namun ada taraf dimana patah hati bisa disembuhkan dengan relaksasi diri. Salah satu cara penyembuhan patah hati adalah dengan menulis ekspresif. Bagaimana menulis ekspresif bisa menyembuhkan patah hati?

Menulis Ekspresfi untuk Patah Hati

Stephen J. Lepore dan Melanie Greenberg (2002) melakukan studi tentang upaya merawat orang-orang yang patah hati pasca putus hubungan, menggunakan intervensi menulis ekspresif. Penelitian tersebut melibatkan 145 mahasiswa, terdiri dari 72 laki-laki dan 73 perempuan. Mereka ditugaskan untuk menulis ekspresif terkait putus hubungan yang mereka alami.

Partisipan dalam kelompok kontrol telah melaporkan peningkatan gejala penyakit pernapasan atas, ketegangan dan kelelahan, sedangkan kelompok eksperimen tidak. Artinya, setelah menjalani hubungan yang gagal, tulisan ekspresif mampu mengurangi risiko gejala penyakit pernapasan bagian atas, ketegangan, dan kelelahan.

Hasil studi menunjukkan bahwa partisipan dalam kelompok eksperimen lebih mungkin untuk bersatu kembali dengan mantan pasangan mereka daripada kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa tulisan ekspresif memiliki berbagai manfaat, baik secara sosial, emosional, dan kesehatan fisik bagi individu yang mengalami stres. Terutama jika mereka mengalami pemikiran mengganggu yang terus menerus dan respons penghindaran terkait dengan penyebab stres.

“We found that expressive writing influenced social adjustment, as individuals in the experimental group were more likely to re-unite with their ex-partner” – Lepore & Greenberg (2002)

Hasil penelitian memberikan petunjuk bahwa menulis ekspresif dapat melindungi individu dari reaksi intrusi dan penghindaran terhadap pemicu stres, yang membahayakan kesehatan. Lebih lanjut, studi tersebut menemukan bahwa tulisan ekspresif memengaruhi penyesuaian sosial, karena individu dalam kelompok eksperimen lebih mungkin untuk bersatu kembali dengan mantan pasangan mereka.

Memberi Makna Atas Patah Hati

Kyle Bourassa yang melakukan studi di  University of Arizona menemukan, menulis cerita dengan cara yang terstruktur, tidak hanya menumpahkan emosi, mampu meredakan sakit hati. Menulis ekspresif-naratif, adalah menulis dengan cara yang sistematis, dengan memberi makna pada kejadian negatif.

“To be able to create a story in a structured way—not just re-experience your emotions but make meaning out of them—allows you to process those feelings in a more physiologically adaptive way” –Kyle Bourassa, 2017

Dengan menulis ekspresif-naratif seperti ini, membantu orang untuk segera move-on. “Struktur ini dapat membantu orang memahami pengalaman mereka, sehingga memungkinkan mereka move-on daripada sekadar berputar dan mengulangi kembali emosi negatif berulang-ulang,” ungkap Kyle Bourassa.

Penelitian tersebut melibatkan 109 peserta yang baru bercerai, kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diminta untuk menulis tentang hubungan dan pengalaman perpisahan mereka. Kelompok kedua menulis tentang situasi mereka tapi dalam bentuk narasi sehingga ceritanya memiliki alur awal, tengah, dan akhir. Kelompok ketiga hanya diberitahu untuk menulis tentang kegiatan sehari-hari mereka tanpa fokus pada emosi atau hubungan.

Peserta diberi waktu menghabiskan 20 menit per hari untuk menulis jurnal dalam waktu tiga hari berturut-turut. Kemudian peneliti mengevaluasi kesehatan kardiovaskular setiap peserta pada awal percobaan dan selama kunjungan lanjutan dalam kurun waktu bulan-bulan berikutnya. 

“The explicit instructions to create a narrative may provide a scaffolding for people who are going through this tough time” –Kyle Bourassa, 2017

Delapan bulan setelah penulisan jurnal diselesaikan, penelitian menemukan bahwa kelompok ekspresif memiliki tingkat detak jantung yang rendah serta variabilitas denyut jantung yang lebih tinggi. Ini menunjukkan kesehatan jantung yang baik.

Bourassa menjelaskan, perubahan tingkat denyut jantung dan variabilitas denyut jantung dapat mempengaruhi hasil kesehatan dan bahkan penyakit dari waktu ke waktu, dan penelitian itu memberikan bukti kausal bahwa gaya penulisan tertentu dapat mengubah proses fisiologis seseorang yang mengalami patah hati.

“Satu intervensi singkat selama 20 menit dalam waktu tiga hari dapat diterjemahkan ke efek terukur ini. Jika penelitian yang lebih besar meniru temuan ini di masa depan, maka akan menjadi alat berbasis bukti yang dapat digunakan secara luas untuk mereka yang sedang berjuang menyembuhkan patah hati akibat putus cinta,” paparnya.

“This structure can help people gain an understanding of their experience that allows them to move forward, rather than simply spinning and re-experiencing the same negative emotions over and over” –Kyle Bourassa, 2017

“Menulis cerita dengan cara yang terstruktur –tidak hanya mengungkapkan kembali emosi Anda tetapi juga menuliskan maknanya, memungkinkan Anda untuk memproses perasaan tersebut dengan cara yang lebih adaptif secara fisiologis,” ungkap Bourassa.

Menuliskan makna yang didapat dari peristiwa patah hati, membuat seseorang mengalami perenungan dan bahkan pencerahan. “Struktur ini dapat membantu orang memperoleh pemahaman tentang pengalaman mereka yang memungkinkan mereka untuk bergerak maju, daripada hanya berputar dan mengalami kembali emosi negatif yang sama berulang kali,” tambahnya.

Selamat menulis, selamat berkarya, selamat menikmati kebahagiaan jiwa.

Bahan Bacaan

Ade Indra Kusuma, Vessy Dwirika Frizona, Penelitian Terbaru Temukan Cara Ampuh Obati Patah Hati dan Susah Move On, 13 September 2019, https://www.suara.com

Ana Sandoiu, Can You Fix a Broken Heart by Writing About It? 7 Juni 2017, https://bigthink.com

Kyle J. Bourassa, David A. Sbarra dkk, The Impact of Narrative Expressive Writing on Heart Rate, Heart Rate Variability, and Blood Pressure Following Marital Separation, DOI: 10.1097/PSY.0000000000000475, Psychosom Med 2017, https://www.ncbi.nlm.nih.gov

Stephen J. Lepore, Melanie Greenberg, Mending Broken Hearts: Effects of Expressive Writing on Mood, Cognitive Processing, Social Adjustment and Health Following a Relationship Breakup, DOI: 10.1080/08870440290025768, Oktober 2002, https://www.researchgate.net

.

Ilustrasi : https://steemit.com/

 2 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *