Positive Writing

Menulis Membantu Pembelajaran Sains dan Matematika

.

Writing for Wellness – 34

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Writing can help the brain to develop the logical functions required for successful math and science learning” –Judy Willis (2011)

.

Intisari, seorang guru Matematika di SMA Negeri 5 Kabupaten Karawang, melakukan penelitian terkait persepsi siswa terhadap mata pelajaran Matematika. “Hasil kuisioner sungguh sangat memprihatinkan”, tulis Intisari.

Matematika yang selama ini menjadi pelajaran wajib diseluruh jenjang pendidikan, ternyata dipersepsi oleh siswa sebagai “sangat sulit, menakutkan, tidak ada gunanya, dan menyebabkan sakit kepala serta menjadi stres”.

Hasil penelitian tersebut bisa memberikan gambaran umum, bahwa Matematika sering dipersepsi sebagai pelajaran yang menakutkan dan membuat stres. Dampaknya, banyak siswa tidak suka dengan pelajaran Matematika.

Kemampuan Matematika Siswa Siswi Indonesia

Perspesi tersebut dikuatkan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA). Lembaga ini meneliti remaja usia 15 tahun dari berbagai negara yang tergabung dengan Organization Economic Cooperation and Development (OECD). Survei itu mengukur kemampuan belajar lewat serangkaian tes.

Menurut data yang diterbitkan OECD dari periode survei 2009 – 2015, Indonesia konsisten berada di urutan 10 terbawah. Dari tiga kategori kompetensi –Sains, Matematika dan membaca—skor Indonesia selalu berada di bawah rata-rata.

Hasil survei PISA 2009 menempatkan Indonesia di urutan ke-57 dari 65 negara, alias peringkat ke-9 dari bawah. Dalam kategori Sains, Indonesia memperoleh skor 383, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 501. Skor terendah diperoleh pada kategori Matematika, yakni 371 (rata-rata OECD 496).

Survei PISA 2012, Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 65 negara. Dalam kategori Sains, capaian skor hanya sebesar 382 (rata-rata OECD 501). Untuk Matematika, perolehan skor hanya mencapai 375 (rata-rata OECD 494). Keseluruhan nilai yang diperoleh juga menempatkan Indonesia di urutan kedua paling bawah, turun tujuh tingkat dari periode survei sebelumnya.

Survei PISA 2015, Indonesia menempati peringkat ke-64 dari 72 negara. Dalam kategori Sains, skor sebesar 403 (rata-rata OECD 493). Sedangkan untuk kategori Matematika, capaian skor Indonesia hanya sebesar 386 (rata-rata OECD 490).

Hasil survei PISA 2018 menempatkan Indonesia di urutan ke-74, alias peringkat keenam dari bawah. Dalam kategori Sains, Indonesia memperoleh skor 396, jauh di bawah rata-rata skor OECD sebesar 489. Sedangkan dalam Matematika, Indonesia di peringkat ke-7 dari bawah dengan skor 379 (rata-rata OECD 489).

Membantu Pembelajaran Sains dan Matematika Melalui Menulis

Salah satu program yang bisa membantu siswa dalam pembelajaran Sains dan Matematika adalah menulis. Studi Judy Willis (2011) menunjukkan bahwa menulis dapat membantu otak mengembangkan fungsi logis yang diperlukan untuk pembelajaran Matematika dan Sains.

Judy Willis menyatakan, selama tahun-tahun pembelajaran di sekolah, terutama dari usia 8 hingga 18 tahun, fase pematangan paling cepat terjadi di korteks prefrontal. Ini adalah saat kritis di mana otak manusia mengembangkan fungsi eksekutif. Misalnya terkait penilaian, analisis kritis, induksi, deduksi, pengendalian keinginan, pengenalan hubungan, penentuan prioritas, penilaian risiko, organisasi, serta pemecahan masalah secara kreatif.

“When it comes to math and science, writing brings more than literacy and communication advantages” –Judy Willis (2011)

Menurut Willis, dalam pelajaran Matematika dan Sains, aktivitas menulis memberikan bukan sekadar kemanfaatan literasi dan komunikasi. Latihan menulis dapat meningkatkan asupan, pemrosesan, penyimpanan, dan pengambilan informasi otak. Melalui menulis, siswa dapat meningkatkan kenyamanan dan keberhasilan mereka dalam memahami materi kompleks, konsep asing, dan kosa kata khusus.

Ketika pelajaran menulis tersedia di seluruh kurikulum, akan membantu fokus perhatian otak pada tugas kelas dan pekerjaan rumah, meningkatkan memori jangka panjang, menjelaskan pola, serta memberi waktu pada otak untuk refleksi. Ketika aktivitas menulis dipandu dengan baik, akan menjadi sumber pengembangan konseptual dan stimulus kognisi tertinggi otak.

Mereduksi Ketakutan Siswa

Pada banyak kalangan siswa, rasa cemas, takut dan malu memberikan tekanan yang tidak menyenangkan. Misalnya rasa takut untuk membuat kesalahan di depan teman sekelas, menjadi salah satu sumber kecemasan terbesar bagi siswa. Ketakutan ini memengaruhi pembelajaran.

“Fear of making mistakes in front of classmates is one of the greatest sources of anxiety for students. This fear impacts learning” –Judy Willis (2011)

Willis menyarankan, guru harus dapat mengatur lingkungan yang memungkinkan siswa untuk mengirim jawaban atau tugas secara pribadi. Melalui teknologi, siswa bisa mengirim tugas tanpa nama diri, melalui suatu kode yang hanya diketahui oleh guru. Kode khusus ini memberikan privasi individu sehingga siswa dapat mengekspresikan diri mereka tanpa rasa takut yang membatasi tanggapan dan pertanyaan di dalam kelas.

Para ahli memperkenalkan berbagai aktivitas menulis yang mengurangi stres yang menghalangi jalan melalui amigdala ke korteks prefrontal reflektif. Misalnya, siswa dapat menulis tanggapan deskriptif untuk pertanyaan matematika atau sains, serta prediksi, hipotesis, dan pertanyaan.

Willis menyatakan, kegiatan menulis memberi semua siswa kesempatan untuk secara aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, karena mereka menerima umpan balik yang tepat, merefleksikan, merevisi, dan membuat risiko kesalahan. Dengan cara ini, menulis dapat membangun kepercayaan diri dan mengungkap celah dalam pengetahuan dasar. Siswa dapat berbagi wawasan kreatif, dan membangun kapasitas mereka untuk mengkomunikasikan ide-ide dan mempertahankan pendapat mereka.

Melalui menulis refleksi, siswa memiliki kesempatan untuk mengekspresikan hipotesis kreatif, perspektif alternatif, dan perhatian tentang pemahaman mereka. Terutama dengan kerahasiaan nama, bisa mengatasi rasa kekhawatiran tentang kesalahan yang begitu mengganggu banyak siswa selama jam pelajaran Sains dan Matematika.

“When learning is examined through shared writing, students are exposed to multiple approaches to solving problems. This is so important in building the flexibility and open-minded approach to other cultures as the science, math, and technology world is indeed global” –Judy Willis (2011)

Saling Terhubung

Ketika pembelajaran Sains dan Matematika dilakukan melalui menulis bersama, siswa dihadapkan pada berbagai pendekatan untuk memecahkan masalah. Hal ini sangat penting dalam membangun fleksibilitas dan pemikiran yang terbuka karena Sains, Matematika, dan teknologi memang global.

Willis menjelaskan tentang bundel memori (memory bundles) yang berisi informasi terkait kategori yang ditautkan dalam sirkuit berdasarkan kesamaan, seperti suara yang serupa, serta gambar visual. Kumpulan neuron ini saling terkait karena telah digunakan bersama berulang kali.

Menulis dapat menjelaskan prosedur sekuensial yang perlu dipelajari siswa dalam Matematika dan Sains, mulai dari memfaktorkan persamaan hingga proses kimia fotosintesis.

Selamat menulis, selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Humas UGM, Belajar Matematika Lebih Menyenangkan dengan Sibomat, 24 Mei 2016, https://ugm.ac.id

Intisari, Persepsi Siswa terhadap Mata Pelajaran Matematika, Jurnal Wahana Karya Ilmiah Pendidikan, Vol 1 No 01 (2017), https://journal.unsika.ac.id

Judy Willis, The Brain-Based Benefits of Writing for Math and Science Learning, 11 Juli 2011, https://www.edutopia.org

Kumparan, Menilik Kualitas Pendidikan Indonesia Menurut PISA 3 Periode Terakhir, 5 Desember 2019, https://kumparan.com

.

Ilustrasi : https://ontonixqcm.blog/

 10 kali dilihat

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *