Positive Writing

Menulis Membantu Penyembuhan Kanker

.

Writing for Wellness – 31

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Expressive writing is a positive, helpful intervention for patients with cancer attempting to reintegrate the experience in life” – Magaret Laccetti, 2007

.

Tidak ada orang yang ingin mendapatkan penyakit berbahaya. Namun realitasnya, kanker termasuk penyakit yang banyak merenggut nyawa manusia di seluruh dunia. Penderitaan penyintas kanker sulit dilukiskan dengan kata-kata. “Sakit yang amat sangat sakit”, mungkin seperti itu gambaran sederhananya.

Kuuppelomaki dan Lauri (1998) mendeskripsikan hasil studi mereka terkait penderitaan para penyintas kanker. Studi dilakukan dengan metode wawancara terhadap para penyintas kanker, terkait tiga dimensi yaitu fisik, psikologis, dan sosial.

Penderitaan fisik terbagi menjadi dua, yaitu penderitaan yang muncul oleh penyakit itu sendiri dan penderitaan yang muncul dalam proses pengobatan. Kondisi penderitaan fisik adalah kelelahan, nyeri, dan efek samping kemoterapi.

Penderitaan psikologis terletak pada perubahan fisiologis yang terkait dengan penyakit dan resiko kematian yang tinggi. Biasanya dimanifestasikan dalam depresi, yang terjadi dalam tiga fase, yaitu tahap awal penyakit, saat kanker menyebar, dan saat berada dalam kondisi yang memburuk.

Sedangkan penderitaan sosial adalah pembatasan kehidupan sosial penyintas kanker, yang membuat mereka cenderung menarik diri di dalam rumah atau di rumah sakit. Ditambah lagi jika tidak ditemukan dukungan sosial yang positif bagi mereka, semakin membuat mereka merasa terkucilkan dari pergaulan sosial.

Itu semua adalah penderitaan yang saling bertumpuk-tumpuk, baik secara fisik, psikologis dan sosial. Berbagai meteda penyembuhan kanker telah dikenal dalam dunia medis, termasuk berbagai jenis pengobatan alternatif oleh kelompok masyarakat. Ternyata, menulis ekspresif bisa membantu proses penyembuhan kanker, sebagaimana ditunjukkan dalam beberapa penelitian akademik.

Menulis Membantu Penyembuhan Kanker

Studi yang dilakukan oleh Magaret Laccetti pada tahun 2007 menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan kata yang berdampak positif dalam tulisan ekspresif, dengan kesejahteraan emosional penderita kanker. Lacetti melakukan penelitian terhadap para wanita yang mengalami kanker payudara.

“Penemuan menunjukkan bahwa tulisan ekspresif adalah intervensi yang positif dan sangat membantu, untuk pasien kanker yang berusaha untuk mengintegrasikan kembali pengalaman dalam hidup”, ungkap Lacetti.

Proses kognitif yang terjadi dalam tulisan ekspresif, membuat partisipan mendapatkan ketenangan emosi. Mereka yang menulis dalam kalimat positif (seperti optimisme), mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tulisan dalam kalimat negatif (misalnya putus asa). Studi Lacetti menemukan hubungan positif antara bahasa afektif dalam tulisan ekspresif, dengan kualitas hidup penderita kanker.

Hasil studi ini bisa beriimplikasi untuk keperawatan pasien kanker. Lacetti merekomendasikan, para perawat harus memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang proses kognitif yang mendasari pengungkapan dalam proses penulisan ekspresif. Agar bisa mengerti cara yang paling efektif untuk menggunakan intervensi tersebut bagi penderita kanker.

“Expressive writing may be a cost effective accessible treatment that could be incorporated into the ongoing care of women” –Grace Gellaitry, 2010

Grace Gellaitry dan tim melakukan studi serupa di tahun 2010. Delapan puluh partisipan diminta melakukan serangkaian proses, salah satunya adalah menulis ekspresif. Para partisipan yang melakukan pengungkapan dengan menulis ekspresif, mendapatkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan.

Selanjutnya Gellaitry dan tim menyatakan, “Mengingat bukti yang ada mendukung pentingnya dukungan sosial dalam penyesuaian terhadap kanker payudara, layak untuk menyarankan metode menulis ekspresif sebagai sarana penyembuhan yang terjangkau bagi para pasien kanker”.

Sejak Dari Gejala

Menulis ekspresif bukan hanya bermanfaat terapi bagi penyintas kanker, namun sudah tampak memberikan manfaat sejak kanker masih berupa gejala. Studi yang dilakukan oleh Pok-Ja Oh dan Soo Hyun Kim di tahun 2016 memberikan petunjuk adanya pengaruh positif dari menulis ekspresif pada gejala kanker.

Oh dan Kim merekomendasikan perlunya mengintensifkan protokol intervensi menulis ekspresif pada pasien dengan gejala kanker agar hasilnya lebih optimal. Hal ini memberikan petunjuk yang menarik, bahwa aktivitas menulis ekspresif memberikan kemanfaatan positif bagi pasien yang memiliki gejala kanker, hingga yang sudah positif mengidap kanker.

Selain murah, menulis ekspresif juga sekaligus mendokumentasikan kejadian, pengalaman, pengetahuan serta proses pengobatan yang akan bermanfaat bagi banyak orang. Dokumentasi ini juga bisa menjadi hadiah untuk diri sendiri, sebagai bagian dari jerih payah perjuangan melawan kanker.

Selamat menulis. Semoga kita semua terhindarkan dari penyakit berbahaya.

Bahan Bacaan

Grace Gellaitry, Keri Peters dkk, Narrowing the Gap: The Effects of An Expressive Writing Intervention on Perceptions of Actual and Ideal Emotional Support in Women Who Have Completed Treatment for Early Stage Breast Cancer, DOI: 10.1002/pon.1532, Januari 2010, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

M. Kuuppelomaki, S. Lauri, Cancer Patients Reported Experiences of Suffering, DOI: 10.1097/00002820-199810000-00008, Oktober 1998, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Magaret Laccetti, Expressive Writing in Women With Advanced Breast Cancer, DOI: 10.1188/07.ONF.1019-1024, September 2007, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Pok-Ja Oh, Soo Hyun Kim, The Effects of Expressive Writing Interventions for Patients With Cancer: A Meta-Analysis, DOI: 10.1188/16.ONF.468-479, Juli 2016, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

.

Ilustrasi : https://www.erincondren.com/

 10 kali dilihat

2 Komentar

  • Dede Nurjanah

    Aamiin…Semoga kita terhindar dari segala penyakit yang berbahaya. Menulis adalah salah satu terapinya untuk mengusir penyakit kanker yang mematikan. Jazakallahu khoir ust.Cahyadi Takariawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *