Positive Writing

Menulis Menurunkan Stres Anak di Masa Pandemi

.

Writing for Wellness – 46

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Tidak bisa dielakkan, kelompok masyarakat yang sangat rentan mengalami tekanan akibat pandemi Covid-19 adalah anak-anak. Mereka harus menjalani kehidupan yang tidak normal, dan sangat sulit untuk mereka pahami.

Kebijakan kerja dan belajar dari rumah, membuat anak-anak lebih banyak terkurung di rumah dan kurang kebebasan. Padahal, interaksi dan sosialisasi adalah hal yang sangat penting bagi anak-anak. “Interaksi adalah bagaimana anak-anak memperoleh pengetahuan di dunia ini,” ungkap Wendy Ostroff, seorang psikolog di Sonoma State University.

“Kita tidak dapat mengabaikan betapa pentingnya hal itu: bermain dengan anak-anak lain, mengamati dan secara aktif terlibat dalam komunitas teman dari berbagai usia,” lanjut Ostroff, sebagaimana dikutip oleh Al Jazeera.

Kathy Hirsh-Pasek, profesor psikologi di Temple University menyatakan, manusia memiliki “otak yang tertutup secara sosial”. Cara untuk masuk dan keluar dari sana, adalah melalui hubungan. “Interaksi menjadi kunci penting dari semua yang kita lakukan selama hidup kita,” ungkap Hirsh-Pasek.

Sayangnya, ujar Hirsh-Pasek, saat pandemi ini menjadi momentum yang mengerikan bagi anak-anak, terutama yang tidak memiliki saudara kandung. Memang pertemuan melalui Zoom dan sejenisnya telah memberikan kesempatan interaksi. Namun anak-anak, terutama yang masih kecil, sangat membutuhkan interaksi fisik. Mereka ingin memberi dan menerima, berbagi, serta bermain bersama teman-teman.

Bermain dan Menulis Ekspresif

Dunia anak adalah dunia bermain. Mereka sangat senang dengan berbagai macam permainan. Belajar menjadi lebih optimal apabila disertai dengan aplikasi bermain yang mengasyikkan. Terlebih bermain dalam kelompok.

Syiddatul Budury dan Khamida (2020) melakukan penelitian terkait dampak pandemi terhadap anak-anak. Menurut Budury dan Khamida, pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia telah memaksa anak-anak untuk belajar dan bermain di rumah. Berada di rumah dalam waktu yang lama merupakan resiko terjadinya stres akibat aktivitas fisik yang terbatas. Dampaknya, anak lebih sering menonton TV atau bermain gadget.

Untuk mengurangi stres dan kebosanan serta untuk meningkatkan gerak tubuh anak, perlu dilakukan aktivitas fisik seperti bermain yang melibatkan gerak fisik, serta menulis ekspresif. Kesemuanya diharapkan dapat menurunkan stres pada anak, meningkatkan daya konsentrasi, dan sekaligus melatih refleks tubuh anak.

Kegiatan ini diikuti oleh 16 anak usia 6 – 12 tahun di Learning Center Al Rasyid Alquran, Bangkalan. Kegiatan tersebut digelar selama dua hari. Di hari pertama, anak-anak menulis secara ekspresif di sebuah buku tentang perasaan anak. Di hari kedua, mereka bermain berjalan dan berhenti. Tingkat stres mereka diukur dengan menggunakan skala stres yang dirasakan untuk anak-anak.

Pada pretest, 14 anak diketahui berada pada tingkat stres ringan. Sedangkan pada postest, diketahui 8 anak berada pada tingkat stress ringan. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa stres anak berkurang. Bermain secara fisik, menuliskan perasaan, serta berinteraksi dengan teman-teman yang relatif sebaya, telah membuat anak-anak merasakan refreshing.

Untuk itu, Budury dan Khamida merekomendasikan agar orang tua lebih banyak berbicara dan melakukan aktivitas fisik bersama anak. Dengan cara ini, anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. Teknik bermain bersama, disertai menulis ekspresif, membuat emosi anak tersalurkan secara positif.

Menulis Ekspresif untuk Anak-anak

Ternyata menulis ekspresif memberikan kemanfaatan bukan hanya kepada orang dewasa. Menulis ekspresif juga bisa memberikan benefit kepada anak-anak, untuk mereduksi tekanan atau stres yang mereka alami. Contoh studi yang dilakukan oleh Budury dan Khamida di atas, adalah salah satu buktinya.

Jauh sebelum masa pandemi, Karen Baikie dan Kay Wilhelm (2005) telah melakukan penelitian pada anak-anak usia 9 – 11 tahun. Baikie dan Wilhelm menggunakan metode menulis ekspresif untuk mereduksi gejala emosional pada anak. Hasilnya menunjukkan bahwa terjadi perubahan tingkat tekanan emosionalitas pada subjek sebelum dan setelah menulis ekspresif.

Marieta Rahmawati juga telah melakukan penelitian serupa pada tahun 2014. Ia meneliti pengaruh menulis ekspresif untuk menurunkan stres pada anak-anak umur 9 – 11 tahun yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hasil penelitian Marieta menggambarkan bahwa terjadi perubahan tingkat stres antara sebelum dan sesudah terjadi perlakuan berupa menulis ekspresif.

Dari berbagai studi tersebut memberikan petunjuk bahwa menulis ekspresif mampu menurunkan stres pada anak-anak dalam berbagai kondisi. Ada yang terkait dengan stres di masa pandemi, stres karena menjadi korban KDRT, ataupun stres dalam bentuk yang lebih umum.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan mental untuk menghadapi pandemi.

Bahan Bacaan

Karen A. Baikie,  Kay Wilhelm, Emotional and Physical Health Benefits of Expressive Writing, Advances in Psychiatric Treatment (2005), vol. 11, 338–346

Laurin-Whitney Gottbrath, Kids and Covid Isolation & Stress: What Parents Need to Know, 14 Desember 2020, https://www.aljazeera.com

Marieta Rahmawati, Menulis Ekspresif Sebagai Strategi Mereduksi Stres untuk Anak-Anak Korban KDRT,  Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, Vol. 02, No.02, Januari 2014, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Syiddatul Budury, Khamida Khamida, Playing “Walk And Stop” and Expressive Writing to Reduce Children’s Stress During the Covid Pandemic 19, DOI: https://doi.org/10.21070/ijccd2021692, 26 November 2020, https://ijccd.umsida.ac.id

.

Ilustrasi : https://worldvisionadvocacy.org/

 2 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *