Positive Writing

Menulis Menyehatkan Jantung

.

Writing for Wellness – 44

Oleh : Cahyadi Takariawan

“No additional medications, no changes to diet or exercise.  Just pen and paper” –Hannah, 2019

.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyatakan, penyakit jantung masih menjadi ancaman di Indonesia bahkan di dunia. Berdasarkan Sample Registrasion System (SRS) penyakit jantung menjadi penyebab kematian terbanyak kedua setelah stroke.

Masih menurut Kemenkes RI, akibat penyakit ini, negara mengalami kerugian secara ekonomi. Pada tahun 2014 penyakit jantung menghabiskan dana BPJS Kesehatan Rp 4,4 triliun, kemudian meningkat menjadi 7,4 triliun pada 2016, dan masih terus meningkat pada 2018 sebesar Rp 9,3 triliun.

“Hal ini menunjukkan besarnya beban negara terhadap penanggulangan penyakit jantung yang harusnya dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko,” ungkap Dr. Cut Putri Arianie dari Kemenkes RI.

Dr. Cut Putri menyatakan, di Indonesia, dari 10 orang penderita penyakit tidak menular hanya 3 yang terdeteksi. Selebihnya tidak mengetahui bahwa dirinya sakit, karena penyakit tidak menular tidak ada gejala sampai terjadi komplikasi.

Ini bukan hanya di Indonesia. American Heart Association menyebutkan data, pada tahun 2016 terjadi 82.735 kematian di Amerika Serikat yang terkait dengan tekanan darah tinggi (hipertensi). Ini berarti terjadi satu  kematian setiap 6 menit! Sebuah data yang sangat memprihatinkan.

Penyakit jantung telah menjadi ancaman serius di dunia internasional.

Upaya Menyehatkan Jantung

Kebanyakan masyarakat, menurut Hannah (2019), terbiasa dengan kesibukan tingkat tinggi. Berangkat kerja berpagi-pagi, bekerja sambil makan siang, membalas email hingga larut malam. “Pandangan hanya kita tertuju pada keberhasilan berikutnya, pekerjaan yang lebih baik, gaji yang lebih besar. Kita terus-menerus mengejar dan berkompetisi”, ujar Hannah.

Ini semua membentuk stres yang kompleks. Memang, tidak semua stres itu buruk. Ada jenis stres yang sehat –yang dapat membuat manusia lebih produktif. Tetapi stres yang berlebihan dapat menyebabkan hipertensi, yang meningkatkan resiko penyakit jantung.

Seperti diketahui, penyakit jantung merupakan penyakit tidak menular yang kejadiannya bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Dalam pencegahan dan pengendalian penyakit jantung, Kemenkes RI berfokus pada upaya promotif dan preventif. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan melakukan Germas antara lain aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, makan buah dan sayur, dan cek kesehatan secara berkala.

Tetapi sayangnya, menurut Hannah, semua usaha itu “tidak ada yang memengaruhi jumlah stres yang kita bawa setiap hari”. Setiap hari manusia modern didera dengan aneka stres, dan stres yang terus menerus dapat memperparah tekanan darah maupun jantung.

Stres jangka panjang mengakibatkan kadar kortisol lebih tinggi, selanjutnya dapat menyebabkan arteri melemah, peningkatan kolesterol, peningkatan trigliserida, peningkatan gula darah, dan tekanan darah tinggi. Juga tidak jarang ditemukan stres yang menyebabkan penumpukan endapan plak di arteri.

Menulis Ekspresif Menyehatkan Jantung

Sebuah studi tahun 2005 yang dilakukan di Universitas Cambridge menemukan bahwa individu yang menulis selama 15-20 menit, 3-5 kali seminggu mengalami lebih sedikit kunjungan terkait stres ke dokter, meningkatkan fungsi sistem kekebalan, perasaan kesejahteraan psikologis yang lebih baik, dan berkurang tekanan darah. Tidak ada obat tambahan, tidak ada perubahan pada diet atau olahraga. Hanya pena dan kertas.

“Turning your experience into poems and stories is a powerful way of helping you heal from the shock, trauma and upheaval of being diagnosed and living with a serious illness” –Sharon Bray, 2020

Ted Rogers Centre for Heart Research (2020) menyatakan, bagi mereka yang hidup dengan penyakit serius, menulis ekspresif terbukti mendatangkan banyak manfaat kesehatan. Di antaranya adalah mengurangi stres, lebih sedikit kunjungan dokter, dan meningkatkan kualitas tidur.

Demikian pula, menulis tentang kehidupan dengan gagal jantung tidak hanya memberikan pelepasan emosional, tetapi dukungan komunitas membantu mengurangi kesepian yang sering menyertai penyakit kronis.

“Your stories matter. We find hope and wisdom in one another’s stories. It’s through story that we make sense of our lives, reclaim our voices, and even discover our words can touch others’ hearts” –Sharon Bray, 2020

“Mengubah pengalaman Anda menjadi puisi dan cerita adalah cara ampuh untuk membantu Anda pulih dari keterkejutan, trauma, dan pergolakan karena didiagnosis dan hidup dengan penyakit serius,” tulis Sharon Bray dari Ted Rogers Centre.

“Ceritamu penting. Kami menemukan harapan dan kebijaksanaan dalam cerita satu sama lain. Melalui cerita itulah kita memahami hidup kita, mendapatkan kembali suara kita, dan bahkan menemukan bahwa kata-kata kita dapat menyentuh hati orang lain”.

Para pasien penyakit jantung, bisa menulis tentang pengalaman medis hidup dengan gagal jantung, yang bisa menyentuh unsur-unsur seperti ketakutan, perawatan, perubahan tubuh, dokter serta topik pribadi seperti harapan, kenangan, dan keluarga. “Menulis yang jujur ​​membantu meningkatkan kualitas hidup,” ujar Sharon.

“Honest writing helps improve the quality of life” –Sharon Bray, 2020

Pengalaman Pribadi Sharon

Sharon Bray telah memfasilitasi banyak kalangan untuk menulis dalam blog “Writing the Heart”. Blog ini didedikasikan untuk menulis kenangan, renungan, dan pengalaman hati.

Ia mengambil inspirasi dari pernyataan ahli jantung Sandeep Jauhar, MD dalam buku Heart: A History (2008), bahwa jantung (heart) kerap dikaitkan dengan perasaan, dan dianggap sebagai lokus emosi di banyak budaya. Sains telah “mengoreksi” asumsi tersebut, bahwa kehidupan emosional kita memengaruhi jantung kita, sebagaimana dijelaskan Jauhar dalam buku tersebut.

“There’s a transition that happens – it’s felt in the body, but we can’t make sense of it until it’s spoken or on the page” –Sharon Bray, 2020

Awalnya, Sharon memulai blog ini pada tahun 2018 sebagai upaya untuk merefleksikan dan menulis tentang pengalaman hidup menjadi pasien gagal jantung, yang dialami pada Desember 2008. Selama berminggu-minggu, Sharon merasakan gejala pusing dan segera melaporkan ke dokter. “Kamu mungkin dehidrasi,” kata dokter, dan menyarankan untuk minum lebih banyak.

Hingga suatu hari yang cerah di awal Desember 2008, ia berjalan-jalan di sekitar blok. Saat berbelok di sebuah sudut ia menyapa tukang pos yang lewat, “Halo”. Itu adalah kata terakhir yang ia ingat. Ketika sadar kembali, ia menjumpai dirinya tergeletak di trotoar, dengan dagu berdarah. Lima hari kemudian, ia pulang dari rumah sakit, didiagnosis dengan gagal jantung dan defibrilator baru ditanamkan tepat di bawah tulang selangka.

Mengapa itu terjadi? Sharon mulai menerka jawabannya. Mungkin dampak dari pengobatan yang ia jalani untuk penyakit kanker payudara stadium awal beberapa tahun sebelumnya. Mungkin karena kesedihan yang ekstrim setelah suaminya tenggelam. Mungkin ada sesuatu dalam susunan genetiknya. Ia berpikir keras.

Ia mulai menulis tentang semua kejadian tersebut. Ia mencoba memahami apa makna  hidup dengan gagal jantung. Namun ia menyadari tidak cukup untuk hanya menulis soal gagal jantung. Masih sangat banyak sisi kehidupan yang bisa ia tuliskan.

Sharon terus menulis dan memposting refleksi bulanan melalui blog “Writing the Heart”. Ia menemukan kedamaian dan makna. Sekaligus bisa berbagi dengan banyak orang tentang pengalaman hidup yang –bisa memberikan makna bagi orang banyak.

Selamat menulis, selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Hannah, Journaling Your Way To A Heal Heart, 29 April 2019, https://theheartfoundation.org

Kemenkes RI, Penyakit Jantung Penyebab Kematian Terbanyak ke-2 di Indonesia, 26 September 2019, https://www.kemkes.go.id

Ted Rogers Centre, On Writing With Heart Failure, 28 Januari 2020, https://tedrogersresearch.ca

.

Ilustrasi : https://bjcardio.co.uk/

 14 kali dilihat

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *