Positive Writing

Menulis Menyelamatkan dari Keputusasaan

.

Writing for Wellness – 49

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Writing gives me a reprieve from the darkness of life” – John Mulligan

.

Pada tahun 1994, John Mulligan, seorang veteran Vietnam, dilanda depresi berat. Ia mengalami kilas balik dan mati rasa, karena gangguan kejiwaan. Ia putus asa. Tidak memiliki semangat hidup.

Namun hidupnya berubah setelah mulai melakukan aktivitas menulis ekspresif, di bawah bimbingan Maxine Hong Kingston. Pada sesi pertama, Mulligan menulis tentang pemandangan mengerikan dari perang Vietnam. Ketika teman-temannya mengarahkan senjata kepada kerbau untuk bersenang-senang, sebuah balas dendam yang brutal.

Ia menulis tentang darah, kebisingan peluru, rasa kehilangan dan pemborosan yang luar biasa. Segala sesuatu yang mengganggu kehidupannya pasca perang. Seakan semua hadir kembali ke dalam pikirannya. Berutar-putar tanpa bisa keluar.

Usai menjalani terapi dengan menulis ekspresif, Mulligan meninggalkan ruang belajar dengan sangat gembira. Diceritakan, ia “bersiul dan melompat-lompat” kegirangan. Pada tahun-tahun berikutnya, dia berulang kali menemukan bahwa mengungkapkan kengerian masa lalu melalui tulisan, membantu menjernihkan pikiran dan meningkatkan semangat hidupnya.

“Saya harus menghadapi setan saya,” ujar Mulligan. “Saya hanyalah cangkang kosong yang berjalan. Menulis membuat saya merasa memiliki nyawa kembali.”

Menulis Adalah Terapi Ampuh

Ungkapan Mulligan mungkin tampak berlebihan. Akan tetapi banyak penelitian membenarkan kesimpulan Mulligan. Bahwa menulis tentang peristiwa traumatis dapat menjadi terapi yang ampuh bagi tubuh dan pikiran.

“Dozens of studies have found that most people, from grade-schoolers to nursing-home residents, med students to prisoners, feel happier and healthier after writing about deeply traumatic memories” – Chris Woolston, 2000

Sudah sangat banyak penelitian yang menemukan bahwa berbagai kelompok manusia, dari siswa sekolah dasar hingga penghuni panti jompo, siswa kedokteran hingga narapidana, merasa lebih bahagia dan lebih sehat setelah menulis tentang ingatan yang sangat traumatis. Demikian disimpulkan oleh James Pennebaker, PhD, profesor psikologi di University of Texas.

Ketertarikan Pennebaker pada potensi terapi menulis dipicu oleh perbincangan dengan operator poligraf pemerintah. Denyut jantung dan pernapasan penjahat, dia tahu, jauh lebih lambat segera setelah pengakuan daripada sebelumnya. Sejak saat itu, dia menghabiskan sebagian besar karirnya untuk membuktikan bahwa kita semua bisa merasa lebih baik setelah menghadapi masa lalu –melalui tulisan.

“Pennebaker’s interest in the potential of writing therapy was sparked by conversations with government polygraph operators. A criminal’s heart rate and breathing, he learned, is much slower immediately after a confession than before. Since then, he’s spent much of his career proving that we can all feel better after confronting the past through writing” – Chris Woolston, 2000

Menurut Pennebaker, efek menulis tidak hanya terkait sisi emosional. Salah satu studi Pennebaker yang diterbitkan dalam Journal of Consulting and Clinical Psychology pada bulan April 1988, menemukan bahwa mahasiswa memiliki lebih banyak sel T-limfosit aktif, sebuah indikasi dari stimulasi sistem kekebalan, enam minggu setelah menulis tentang peristiwa yang membuat stres.

Penelitian lain yang dilakukan Pennebaker menemukan, bahwa menulis ekspresif membuat kesehatan yang semakin baik, membuat lebih jarang berkunjung ke dokter, lebih optimal dalam menjalankan tugas sehari-hari, serta mendapat skor lebih tinggi pada tes kesejahteraan psikologis.

Writing about stressful events can be powerfully therapeutic for body and mind” – Chris Woolston, 2000

Terapi Menulis Memerlukan Bimbingan

Joshua Smyth, Ph.D membenarkan apa yang telah dikemukakan Pennebaker. Menurut Smyth, menempatkan kenangan traumatis ke dalam kata-kata dapat membantu meredakan kekacauan dan meredakan bahaya. “Menulis memberi Anda rasa kendali dan pemahaman,” ujar Smyth.

“Untuk menulis tentang peristiwa yang membuat stres, Anda harus memecahnya menjadi potongan-potongan kecil, dan hasil akhirnya lebih bisa dikelola,” ujar Smyth.

Smyth memberikan catatan, “Dibutuhkan upaya bersama – dan toleransi untuk rasa sakit emosional yang intens – untuk menulis tentang kenangan kelam”. Jika tidak dilakukan dengan tepat, menuliskan pengalaman traumatis justru bisa memperparah keadaan. Menurut Smyth, proses penyembuhan melalui menulis ekspresif harus terbimbing oleh ahli.

Kisah John Mulligan di atas, setelah melalui bimbingan menulis, ia bisa melakukannya sendiri di rumah. Ia berbahagia dan bersemangat menulis, hingga menjadi novelis. “A Little Pain” adalah salah satu buku karya Mulligan yang best seller.

Bagi Mulligan, menulis selalu merupakan perjuangan, tetapi juga kelangsungan hidup. “Menulis memberi saya kelegaan dari kegelapan hidup,” ujar Mulligan, yang novel pertamanya, Shopping Cart Soldiers, diterbitkan pada 1997.

Pennebaker percaya orang dapat mencoba terapi menulis sendiri, selama mereka mengikuti satu aturan: “Jika Anda tidak dapat mengatasinya, keluarlah.” Dalam bukunya “Opening Up”, Pennebaker menyarankan untuk menulis tentang tekanan hidup saat ini – tidak harus peristiwa dari masa lalu – setiap kali semangat mengendur.

Menurut Pennebaker, tanpa harus memperhatikan struktur kalimat atau tata bahasa, Anda bisa mencoba menggambarkan trauma dan menjelaskan perasaan melalui tulisan.

Selamat menulis, selamat menikmati kehidupan.

Bahan Bacaan

Briana Murnahan, Stress and Anxiety Reduction Due to Writing Diaries, Journals, E-mail, and Weblogs, Eastern Michigan University, 2010, https://commons.emich.edu/

Chris Woolston, How Writing Saved My Life, 20 Maret 2000, https://www.webmd.com

James W. Pennebaker, Expressive Writing in Psychological Science, https://doi.org/10.1177/1745691617707315, 9 Oktober 2017, https://journals.sagepub.com

Joshua M. Smyth dkk, Effects of Writing About Stressful Experiences on Symptom Reduction in Patients With Asthma or Rheumatoid Arthritis : a Randomized Trial, DOI : 10.1001/jama.281.14.1304, 14 April 1999, https://jamanetwork.com

Karen A. Baikie, Kay Wilhelm, Emotional and Physical Health Benefits of Expressive Writing, 2005, https://www.semanticscholar.org, DOI:10.1192/APT.11.5.338

Michael Smith, To Reduce Stress and Anxiety, Write Your Happy Thoughts Down, https://theconversation.com, 12 Juli 2018

.

Ilustrasi : https://medium.com/

 8 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *