Positive Writing

Menulis Meredakan Ketegangan Pasca Perceraian

.

Writing for Wellness – 40

Oleh : Cahyadi Takariawan

“The results suggest that the ability to create a structured narrative — not just re-experiencing emotions but making meaning out of them — allows people to process their feelings in a more adaptive way, which may in turn help improve their cardiovascular health” –Kyle Bourassa, 2017


.

Pada tahun 2017 lalu, Kyle J. Bourassa, David A. Sbarra dan tim melakukan studi terkait menulis ekspresif-naratif pada pasangan yang bercerai. Bourassa, Sbarra dan tim menilai, perceraian telah memicu stres dengan peningkatan risiko buruknya kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.

Studi dilakukan menggunakan desain eksperimental, berusaha meneliti dampak tulisan ekspresif-naratif terhadap detak jantung rata-rata, variabilitas detak jantung, dan tekanan darah, pada pasangan yang bercerai. Partisipan dievaluasi 7,5 bulan setelah intervensi dengan menulis ekspresif.

“Divorce is a common stressor linked to increased risk for poor long-term physical and mental health” – David A. Sbarra, 2017

Hasil studi menunjukkan, menulis ekspresif-naratif menurunkan detak jantung rata-rata dan meningkatkan variabilitas detak jantung setelah perpisahan perkawinan, tetapi tidak mempengaruhi tekanan darah.

Memberi Makna, Bukan Semata Menuliskan Rasa

Science Daily pada 8 Mei 2017 memberikan analisa atas hasil studi tersebut. Bagi pasangan yang mengalami perceraian, teknik menulis ekspresif-naratif, terbukti dapat mengurangi efek kardiovaskular berbahaya dari stres yang terkait dengan perceraian. Teknik menulis ekspresif-naratif tidak hanya menulis tentang suasana emosi, tetapi menciptakan narasi yang bermakna dari pengalaman atau kejadian.

“Hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan untuk membuat narasi terstruktur –tidak hanya menuliskan kembali emosi, tetapi memberikan makna darinya—memungkinkan orang untuk memproses perasaan mereka dengan cara yang lebih adaptif, yang pada gilirannya dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung mereka,” ungkap Kyle Bourassa.

Studi ini melibatkan 109 orang dewasa, terdiri 70 perempuan dan 39 lelaki, yang belum lama mengalami perceraian. Peserta secara acak ditugaskan ke salah satu dari tiga latihan menulis, dilakukan pada tiga kesempatan selama beberapa hari.

Satu kelompok melakukan tugas menulis ekspresif tradisional, dengan instruksi untuk menulis bebas tentang “emosi terkuat dan terdalam” mereka. Pendekatan ini tampaknya meningkatkan tekanan emosional terkait perpisahan, terutama di antara peserta dengan perenungan psikologis yang tinggi – kecenderungan untuk terus memikirkan suasana hati seseorang.

Kelompok kedua melakukan tugas menulis ekspresif-naratif, di mana mereka menciptakan “narasi yang koheren dan terorganisir” dari pengalaman perpisahan mereka. Tulisan itu berpuncak pada mendeskripsikan akhir dari kisah perceraian mereka. Kelompok ketiga diberi tugas menulis yang netral secara emosional.

Peserta yang ditugaskan untuk menulis ekspresif-naratif mengalami penurunan detak jantung serta peningkatan variabilitas detak jantung (HRV), yang mengukur variasi dari detak ke detak jantung. HRV yang lebih tinggi mencerminkan fungsi yang lebih baik dari reaksi sistem saraf parasimpatis tubuh terhadap rangsangan, termasuk stres.

“If something stays in my head and I keep replaying that, it kind of gnaws inside. But once I put that on the page, the gnawing is gone” –Pooja

Sekitar delapan bulan kemudian, peserta yang terlibat dalam penulisan ekspresif-naratif memiliki detak jantung yang lebih rendah daripada peserta dalam dua kelompok lainnya. Mereka juga memiliki variabilitas detak jantung yang lebih tinggi, yang mencerminkan kemampuan tubuh untuk secara adaptif merespons stresor lingkungan dan lingkungannya. Baik detak jantung yang lebih rendah maupun variabilitas detak jantung yang lebih tinggi umumnya dikaitkan dengan kesehatan yang baik.

“Dari penelitian ini, kami dapat membuat dua kesimpulan spesifik. Pertama, penulisan ekspresif-naratif menyebabkan perubahan pada biomarker kardiovaskular. Ini adalah hasil yang cukup mengejutkan hanya dalam 60 menit menulis selama tiga hari”, ujar Dr. Sbarra.

“Kedua, efek penulisan naratif pada penanda biologis yang relevan dengan kesehatan tidak bergantung pada respons emosional orang dewasa tentang perpisahan mereka. Membuat narasi mungkin baik untuk jantung, tetapi ini tidak berarti ada peningkatan dalam kesejahteraan psikologis.”

Dr. Sbarra menyarankan agar berhati-hati dalam menafsirkan temuan ini. “Untuk lebih jelasnya, studi ini menunjuk pada perubahan kausal dalam respons kardiovaskular yang relevan dengan kesehatan, bukan hasil kesehatan itu sendiri. Penelitian lebih lanjut akan diperlukan untuk mengklarifikasi hubungan antara biomarker ini dan hasil kesehatan jangka panjang pada pasangan setelah perceraian.”

Pooja : Sebuah Contoh Kasus

Terkait efektivitas menulis ekspresif-naratif untuk memperbaiki kondisi pasca pereraian, Cindy Lamothe (2017) memberikan contoh kasus yang dialami Pooja, 39 tahun. Pooja adalah perempuan India, yang belum lama bercerai setelah menjalani kehidupan pernikahan selama 12 tahun.

Awalnya, Pooja mengalami mual dan tidak bisa nyenyak tidur setelah mengakhiri kehidupan pernikahannya. Ia mendapati dirinya mengingat setiap detail kejadian dan selalu mengkhawatirkan bagaimana orang lain akan bereaksi terhadap perceraiannya.

“I felt I could cry at any moment. It was a mix of emotions — there was sadness, anger and fear. And those things kept bubbling to the surface depending on the day and time” –Pooja

“Saya merasa saya bisa menangis setiap saat,” ujar Pooja. “Itu adalah campur aduk berbagai emosi –kesedihan, kemarahan dan ketakutan. Dan hal-hal itu terus mencuat ke permukaan dari waktu ke waktu.”

Tetapi selama setahun terakhir, dia telah mencoba melakukan pendekatan baru. Setelah kembali dari olahraga pagi, iia mengalokasikan waktu untuk mengatasi emosinya dengan menulis. Ia menyimpan pikiran pada tulisan, dan ternyata itu mampu membantunya merasa lebih nyaman.

 “Saya sampai pada titik di mana jika beban berada di kepala saya dan saya terus mengingatnya, itu seperti menggerogoti di dalam. Tapi begitu saya tuliskan, rasa sakitnya menjadi hilang,” ujar Pooja.

“Ini hampir seperti saya secara fisik mengeluarkannya dari kepala saya dan meletakkannya pada tulisan,” tambahnya.

“I get to the point where if something stays in my head and I keep replaying that, it kind of gnaws inside. But once I put that on the page, the gnawing is gone. It’s almost like I physically took it out of my head and put it on the page” –Pooja

Saat Pooja menuliskan makna dari pengalaman perceraiannya, ia bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Sekarang, ia tidak lagi mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentang akhir pernikahannya.

Perbaiki Hidup Setelah Berpisah

Tentu tidak ada pasangan yang menghendaki perpisahan. Apalagi pada keluarga yang telah memiliki anak-anak. Kehidupan berumah tangga menjadi hal yang sangat penting untuk mewadahi kebahagiaan dan merayakan kesuksesan dalam kehidupan.

Namun kadang takdir bicara lain. Ada berbagai sebab dan faktor yang menjadi pemicu perceraian. Bahkan dalam beberapa contoh kasus, perceraian benar-benar menjadi solusi terbaik. Ada saat dimana cerai lebih baik daripada meneruskan kebersamaan.

Apapun yang menjadi pemicu perceraian, kehidupan pasca perceraian harus terus berjalan. Anda menjadi single parent bagi anak-anak. Hiduplah dengan kedamaian dan penuh produktivitas. Bukalah diri untuk kehidupan baru yang lebih bermakna dan lebih bertenaga. Demi masa depan anak-anak Anda.

Menulis ekspresif-naratif menjadi salah satu media untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna, bagi pasangan yang mengalami perceraian. Keep spirit, never give up.

Bahan Bacaan

Ani, Journal Your Way To a Healthier Heart Post Divorce, 12 Mei 2017, https://www.outlookindia.com

Cindy Lamothe, Writing Your Own Story Can Protect Your Health After A Breakup, 24 Juli 2017, https://www.huffpost.com

Kyle J. Bourassa, David A. Sbarra dkk, The Impact of Narrative Expressive Writing on Heart Rate, Heart Rate Variability, and Blood Pressure Following Marital Separation, DOI: 10.1097/PSY.0000000000000475, Psychosom Med 2017, https://www.ncbi.nlm.nih.gov

Wolters Kluwer Health, ‘Narrative Expressive Writing’ Might Protect Against Harmful Health Effects of Divorce-related Stress, ScienceDaily, 8 Mei 2017, www.sciencedaily.com

.

Ilustrasi : https://www.verywellmind.com/

 16 kali dilihat

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *