Positive Writing

Menulis Mereduksi Stres dan Sakit Hati di Tempat Kerja

.

Writing for Wellness – 41

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Post-intervention, participants in the emotions and thoughts condition reported higher psychological well-being, fewer intentions to retaliate, and higher levels of personal resolution than did participants in the other conditions” – Laurie J. Barclay (2009)

.

Anda pernah merasakan sakit hati di tempat kerja? Mungkin karena merasa diperlakukan tidak adil oleh atasan. Mungkin sakit hati karena sikap tidak baik dari teman kerja. Mungkin karena Anda mendapatkan fitnah terkait kinerja di kantor, Atau sebab-sebab lain yang membuat Anda merasakan sakit hati.

Sakit hati di tempat kerja, membuat suasana yang tidak nyaman untuk bekerja. Jika Anda tidak segera menemukan solusinya, justru akan semakin menurunkan performa di tempat kerja. Seseorang bisa kehilangan semangat dan profesionalitas, disebabkan oleh karena hal yang tampak sederhana, yaitu sakit hati.

Untuk itu, harus segera menemukan solusi agar bisa kembali nyaman bekerja. Jangan biarkan rasa sakit hati berkembang menjadi stres di tempat kerja, yang hanya akan mengganggu performa dan kinerja Anda.

Menulis Ekspresif untuk Menghilangkan Stres dan Sakit Hati di Tempat Kerja

Evie Michailidis dan Mark Cropley (2019) melakukan penelitian untuk menilai keefektifan intervensi menulis ekspresif pada pekerja dewasa yang mengalami sakit hati di tempat kerja. Menggunakan uji coba terkontrol secara acak, Evie dan Mark menguji dampak intervensi menulis ekspresif dalam mengurangi rasa sakit hati.

Hasil penelitian mendukung hipotesis, bahwa partisipan yang menyelesaikan intervensi menulis ekspresif tidak lagi menunjukkan sakit hati, serta kualitas tidur yang lebih baik, dibandingkan dengan partisipan lainnya. Menariknya, penelitian ini tetap menunjukkan berkurangnya rasa sakit hati setelah intervensi menulis, terlepas apakah melalui pengungkapan emosional atau tidak.

Penelitian lain dilakukan oleh Laurie J. Barclay dan Daniel P. Skarlicki (2009). Mereka melakukan penelitian untuk mengungkapkan manfaat tulisan ekspresif secara fisik dan psikologis bagi personal yang mengalami ketidakadilan di tempat kerja. Partisipan ditugaskan untuk menulis selama empat hari berturut-turut tentang suasana emosi, suasana pikiran, serta ketidakadilan.

Pasca intervensi, partisipan yang menuliskan kondisi emosi dan pikiran melaporkan mendapatkan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi, lebih sedikit niat untuk membalas dendam, dan tingkat resolusi pribadi yang lebih tinggi. Partisipan juga melaporkan merasakan lebih sedikit kemarahan.

“State anxiety declined to a greater extent for participants in the positive writing condition compared to the neutral writing condition. Positive writing also conferred benefits on some aspects of job satisfaction, but not burnout” – Emily K. Round, 2020

Penilitian serupa juga dilakukan oleh Emily K. Round, Mark A. Wetherell dan tim (2020) dari Department of Psychology, Northumbria University. Mereka melakukan penelitian terhadap guru dan nonguru yang bekerja penuh waktu.

Emily dan tim menyatakan, guru adalah salah satu jenis pekerjaan yang rentan mengalami kelelahan, yang disebabkan oleh stres kronis akibat beban kerja yang berlebihan. Kelelahan merupakan faktor risiko yang merugikan kesehatan psikologis dan fisik, sehingga penting untuk menemukan metode yang mampu mengurangi kelelahan dan meningkatkan kepuasan kerja.

Salah satu teknik yang diduga tepat untuk tujuan itu adalah tulisan ekspresif positif. Dalam studi ini, Emily dan tim menyelidiki efek dari intervensi menulis positif pada kelelahan, kepuasan kerja, kecemasan, stres dan gejala kelelahan fisik.

Sekelompok guru dan non-guru yang bekerja penuh waktu, dalam tiga hari berturut-turut diminta menulis ekspresif positif, 20 menit per hari. Hasil studi menunjukkan, partisipan yang menulis ekspresif positif mengalami penurunan kecemasan. Menulis positif juga memberi manfaat pada beberapa aspek kepuasan kerja, meskipun tidak terbukti untuk burn out. Tidak ada perbedaan antara profesi guru dan non-guru.

Berbagai studi di atas semakin menguatkan berbagai studi sebelumnya, terkait manfaat menulis ekspresif. Sakit hati dan stres di tempat kerja, terbukti bisa dikurangi dengan menulis ekspresif positif. Demikian pula kepuasan di tempat kerja, bisa ditingkatkan melalui intervensi menulis positif.

Selamat menulis, selamat menikmati pekerjaan dengan bahagia.

Bahan Bacaan

Evie Michailidis, Mark Cropley, Testing the Benefits of Expressive Writing for Workplace Embitterment: a Randomized Control Trial, DOI: 10.1080/1359432X.2019.1580694, Februari 2019, https://www.researchgate.net

Emily K. Round, Mark A. Wetherell, Positive Expressive Writing as a Tool for Alleviating Burnout and Enhancing Wellbeing in Teachers and Other Full-time Workers, DOI: 10.31234/osf.io/uctj4, Juli 2020, https://www.researchgate.netLaurie J. Barclay, Daniel P. Skarlicki, Healing the Wounds of Organizational Injustice: Examining the Benefits of Expressive Writing, DOI: 10.1037/a0013451, April 2009, https://www.researchgate.net

.

Ilustrasi : https://www.entrepreneur.com/

 6 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *