Positive Writing

Menulis Meringankan Penyakit Asma

.

Writing for Wellness – 45

Oleh : Cahyadi Takariawan

“A new study, published in the April 14, 1999 issue of the Journal of the American Medical Association, shows that expressive writing can even ease the symptoms of asthma and rheumatoid arthritis” — Chris Woolston, 2000

.

Asma adalah penyakit pada saluran udara yang membuat sulit bernapas. Terdapat peradangan saluran udara yang menghasilkan penyempitan sementara saluran udara yang membawa oksigen ke paru-paru. Penyempitan saluran ini menghasilkan gejala seperti sesak napas, batuk, dan sesak dada. Dalam kondisi yang parah, asma dapat mengakibatkan penurunan aktivitas dan ketidakmampuan untuk berbicara.

Tingkat keparahan asma bisa berubah seiring waktu berjalan, sehingga akan membutuhkan penyesuaian perawatan. Asma yang tidak terkontrol dapat meningkatkan kunjungan ke ruang gawat darurat hingga rawat inap di rumah sakit. Tentunya dapat mempengaruhi kinerja baik di rumah, lingkungan pergaulan maupun di tempat kerja.

Asma diklasifikasikan ke dalam empat kategori. Pertama, gejala ringan, berlangsung selama dua kali seminggu hingga dua kali dalam sebulan di malam hari. kedua, gejala persisten ringan, berlangsung lebih dari dua kali seminggu, tetapi tidak lebih dari sekali dalam satu hari. Ketiga, gejala persisten moderat, kambuh sekali dalam sehari dan bisa mengalami lebih dari satu malam dalam seminggu. Keempat, gejala persisten parah, berlangsung sepanjang hari umumnya terjadi di malam hari.

Penyebab dari penyakit ini sebenarnya belum diketahui secara pasti, tapi umumnya dipicu oleh alergi, polusi udara, infeksi pernapasan, emosi, kondisi cuaca, dan kandungan dalam makanan.

Menulis Ekspresif Meringankan Asma

Sudah banyak literatur yang menunjukkan bahwa menangani kebutuhan psikologis pasien bisa meningkatkan kondisi kesehatan psikologis dan fisik. Menulis ekspresif adalah salah satu teknik yang telah berhasil digunakan dalam beberapa penelitian terkontrol.

Intervensi menulis ekspresif yang dikembangkan oleh Pennebaker dan Beall telah diuji dalam studi tentang manfaat menulis bagi kesehatan. Subjek yang berpartisipasi diminta untuk menulis esai, biasanya selama periode tiga hari, mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka tentang pengalaman traumatis.

“Writing gives you a sense of control and a sense of understanding” –Joshua M. Smyth, 1999

Perbedaan telah ditemukan antara subjek kontrol (yang menulis tentang topik netral) dan subjek eksperimen (yang menulis pikiran dan perasaan traumatis), dalam frekuensi kunjungan ke rumah sakit, kesejahteraan subjektif, dan fungsi kekebalan. Intervensi menulis ekspresif emosional telah memberikan hasil perbaikan kesehatan bagi partisipan.

Helen E. Smith dan tim (2015) telah melakukan penelitian tentang pengaruh menulis ekspresif pada fungsi paru-paru dan kualitas hidup, dari pasien asma. Smith menemukan hubungan antara menulis ekspresif dengan perbaikan kesehatan pasien dengan asma sedang. Menulis ekspresif menjadi sebuah intervensi yang bisa direkomendasikan kepada penderita asma sedang.

“To write about a stressful event, you have to break it down into little pieces, and suddenly it seems more manageable” –Joshua M. Smyth, 1999

Studi serupa telah dilakukan sebelumnya oleh Joshua M. Smyth, asisten profesor psikologi di North Dakota State University, bersama tim (1999). Hasil studi tersebut diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi 14 April 1999, menunjukkan bahwa menulis ekspresif dapat meringankan gejala asma dan rheumatoid arthritis.

Smyth menemukan, pasien dengan asma ringan hingga sedang atau rheumatoid arthritis yang menulis tentang pengalaman hidup yang penuh tekanan, mendapatkan perbaikan kondisi kesehatan yang relevan secara klinis pada empat bulan setelah intervensi.

“Patients with mild to moderately severe asthma or rheumatoid arthritis who wrote about stressful life experiences had clinically relevant changes in health status at 4 months compared with those in the control group” – Joshua M. Smyth, 1999

Smyth dan tim meminta 70 orang penderita asma atau rheumatoid arthritis untuk menulis tentang peristiwa paling menegangkan dalam hidup mereka. Peserta penelitian menulis tentang rasa sakit emosional mereka selama dua puluh menit, dalam kurun tiga hari berturut-turut.

“Menempatkan kenangan traumatis ke dalam kata-kata dapat membantu meredakan penyakit”, ujar Smyth. “Menulis memberi Anda rasa kendali dan pemahaman,” tambahnya.

Tim peneliti menguji apakah tulisan tentang pengalaman stres memengaruhi ukuran objektif status penyakit pada pasien dengan asma kronis atau rheumatoid arthritis. Dua jenis penyakit ini diketahui telah menyebabkan beban pribadi dan ekonomi yang besar, dan merupakan kondisi kronis yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Studi memberikan kesimpulan yang mendukung hipotesis, bahwa menulis ekspresif memberikan peningkatan kondisi kesehatan penderita asma kronis atau rheumatoid arthritis, empat bulan setelah intervensi. Perubahan kondisi kesehatan terjadi secara signifikan secara klinis.

“Untuk menulis tentang peristiwa yang membuat stres, Anda harus memecahnya menjadi potongan-potongan kecil,” ujar Smyth.

Empat bulan kemudian, 47% dari kelompok yang menulis tentang trauma masa lalu menunjukkan peningkatan kesehatan yang signifikan. Partisipan mendapatkan lebih sedikit rasa sakit dan rentang gerak yang lebih besar untuk pasien arthritis, serta mendapatkan peningkatan kapasitas paru-paru untuk penderita asma.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan dan kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Chris Woolston, How Writing Saved My Life, 20 Maret 2000, https://www.webmd.com

Dewi Adhitya S. Koesno, Mengenal Penyakit Asma: Gejala, Penyebab, dan Obat Alami, 7 September 2019, https://tirto.id

Helen E. Smith dkk, The Effects of Expressive Writing on Lung Function, Quality of Life, Medication Use, and Symptoms in Adults with Asthma: a Randomized Controlled Trial, DOI: 10.1097/PSY.0000000000000166, Mei 2015, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Joshua M. Smyth dkk, Effects of Writing About Stressful Experiences on Symptom Reduction in Patients With Asthma or Rheumatoid Arthritis : a Randomized Trial, DOI : 10.1001/jama.281.14.1304, 14 April 1999, https://jamanetwork.com

.

ilustrasi : www.halodoc.com

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *