Positive Writing

Menulis Naratif untuk Menghadapi Retaknya Keluarga

.

Writing for Wellness – 50

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Gambaran tentang keluarga “sempurna” yang sering ditayangkan majalah, TV, atau media sosial, membuat banyak orangtua dan anak yang mengembangkan harapan terlalu tinggi terhadap diri sendiri maupun keluarga. Kesenjangan ini memicu stres, terlebih ketika menghadapi realitas adanya keretakan dalam keluarga.

Saat menghadapi stres, setiap keluarga memiliki respon yang berbeda. Mengutip laman Scanva, ada beberapa respon yang sering terjadi. Di antaranya adalah adu argumen, pertengkaran, dan bentuk komunikasi buruk lainnya; kelelahan dalam keluarga; kebingungan, terutama pada anak-anak, tentang hubungan dengan anggota keluarga lainnya; pelarian dengan makanan, alkohol, dan zat adiktif lain.

Pada dasarnya semua keluarga memiliki masalah dan stres masing-masing. Namun setiap keluarga mengalami efek stres yang berbeda, dan menangani stres dengan cara berbeda. Maka Scanva menyarankan agar semua mampu bekerja sama sebagai sebuah keluarga untuk menghadapi stres.

Di antaranya adalah dengan membicarakan perasaan secara terbuka. Jaga jalur komunikasi tetap terbuka sehingga setiap anggota keluarga merasa nyaman menyuarakan perasaan mereka jika mulai merasakan stres. Pilih suasana nyaman dan tenang untuk berbicara dari hati ke hati, biarkan semuanya berbicara dengan lancar mengalir tanpa diinterupsi dan dihakimi.

Pada dasarnya semua keluarga memiliki masalah dan stres masing-masing. Namun setiap keluarga mengalami efek stres yang berbeda, dan menangani stres dengan cara berbeda.

Semua persoalan yang menekan dan menimbulkan stres, sebisa mungkin segera mendapat penyelesaian. Jika tidak dikhawatirkan akan menimbulkan keretakan keluarga. Ketegangan yang semakin meningkan menyebabkan peningkatan pula dalam intensitas konflik, yang bisa berdampak buruk bagi anggota keluarga, terlebih anak-anak.

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh Nurtia Massa dan kawan-kawan pada tahun 2020, yang bertujuan untuk mengetahui dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak. Teknik pengumpulan data dengan observasi, dokumentasi, dan wawancara terhadap anak-anak yang dari keluarga broken home.

Dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak yang paling menonjol adalah mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan dan mudah terlibat permasalahan moral.

Ditemukan beberapa perilaku sosial anak yaitu rentan mengalami gangguan psikis, membenci kedua orang tua, mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan, memandang hidup adalah sia-sia, tidak mudah bergaul dan permasalahan moral. Dampak keluarga broken home terhadap perilaku sosial anak yang paling menonjol adalah mudah mendapat pengaruh buruk dari lingkungan dan mudah terlibat permasalahan moral.

Refleksi Diri dengan Menulis Naratif

Dampak negatif dari keretakan keluarga tentu harus disadari sepenuhnya oleh orangtua, agar mampu menemukan solusi yang paling tepat. Salah satu cara menyelesaikan persoalan keluarga adalah dengan meredakan ketegangan personal. Misalnya suami dan istri yang tengah mengalami keretakan, bisa menempuh mekanisme cooling down agar tercipta suana ‘perdamaian’ di antara mereka.

Setiawati Intan Savitri, seorang psikolog, bersama rekan-rekannya (2019) melakukan penelitian terkait salah satu cara merespon keretakan keluarga, dengan refleksi diri. Saat individu berusaha mengatasi dampak emosional menghadapi keluarga retak, individu mencoba untuk melakukan refleksi atas peristiwa tersebut meski kadang sulit karena individu larut pada emosi negatif (ruminasi). Namun, individu juga mampu melihat pengalamannya secara adaptif dari perspektif pengamat dengan merespon tekanan dengan berjarak, sehingga mampu memaknai atau mendapatkan solusi dari tekanan.

Savitri dan tim melakukan penelitian untuk menggambarkan proses refleksi diri adaptif ketika merespon peristiwa retaknya keluarga dengan cara menulis narasi dengan kata ganti personal satu (perspektif pelaku) dan menulis narasi dengan kata ganti personal nama-diri (perspektif pengamat).

Studi yang dilakukan Kross dkk (2014) menyatakan bahwa kata ganti personal nama-diri merupakan metode untuk refleksi diri yang dianggap lebih adaptif dibandingkan dengan menggunakan kata ganti personal satu (perspektif diri pelaku) yang menyebabkan efek larut pada emosi negatif.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek penelitian berjumlah tujuh orang, terdiri lima wanita dan dua pria. Data diperoleh dari teks tulisan subjek yang mengikuti eksperimen menulis naratif selama empat hari berturut-turut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi menulis dengan bahasa yang berjarak menggunakan perspektif pengamat, jika dibandingkan dengan instruksi menulis dengan menggunakan perspektif pelaku, pada level tertentu dapat membantu proses refleksi diri adaptif dengan mekanisme yang berbeda.

Menemukan Solusi dengan Hati dan Pikiran Jernih

Menulis naratif tentu saja tidak serta merta bisa menyelesaikan keretakan keluarga. Namun menulis naratif bisa dilakukan oleh suami dan istri yang tengah berada dalam keretakan hubungan. Saat suasana jiwa mereka dilanda emosi tingkat tinggi, sangat sulit untuk bisa menemukan solusi dan titik temu yang disepakati.

Dengan menulis naratif sebagaimana direkomendasikan oleh hasil studi Savitri dan tim, setiap individu bisa mengalami proses refleksi diri. Hingga tercapai suasana yang lebih kondusif. Hati dan pikiran yang tenang, untuk melahirkan energi perbaikan suasana. Masing-masing pihak telah mampu merefleksikan kondisi, sehingga bisa berbicara dan berdiskusi yang membawa solusi.

Selamat menulis, selamat menemukan kedamaian.

Bahan Bacaan

Nurtia Massa dkk, Dampak Keluarga Broken Home Tehadap Perilaku Sosial Anak, Jambura Journal of Community Empowerment, Vol 1, No 1, Juni 2020

Scanva, Family Stress, https://www.scanva.org, diakses pada 21 Februari 2021

Setiawati Intan Savitri dkk, Refleksi Diri Melewati Peristiwa Retaknya Keluarga dalam Penulisan Naratif: Studi Analisis Isi, Jurnal Psikologi Sosial Vol 17 No 2, Agustus 2019, DOI: 10.7454/jps.2019.15,  http://jps.ui.ac.id

.

Ilustrasi : https://www.verywellfamily.com/

 5 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *