Teknik Menulis

Menulis untuk Katarsis

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Just write. Let it flow without resistance”. –Stephen Parato

.

Katarsis bermakna pelepasan emosi yang menekan. Ketika seseorang berada dalam situasi emosi yang menekan, tentu merasakan ketidaknyamanan. Emosi ini memerlukan sarana pelepasan, agar dirinya bebas dari ketidaknyamanan tersebut.

Sebagai contoh, seorang istri yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari suami —apalagi berulang dan rutin, membuat suasana jiwanya tidak nyaman. Marah, kecewa, sedih, jengekal, bercampur aduk. Sangat tidak mengenakkan.

Ia memiliki banyak pilihan untuk menyalurkan emosi yang menekan terssebut. Jika tidak disalurkan, justru berbahaya bagi dirinya. Ada katarsis secara spiritual. Ia bisa melakukan ibadah, dengan berbagai macam aktivitas yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Bagi umat muslim, misalnya dengan shalat, dzikir dan tilawah Al Qur’an. Ini akan menenangkan jiwanya.

Ada katarsis secara rekreasional. Ia bisa jalan-jalan, traveling, baik jauh maupun dekat. Bagi yang suka kuliner, ia bisa katarsis dengan mencari kopi atau restoran yang nyaman. Ada pula katarsis secara emosional. Salah satunya, dengan bercerita atau curhat –jika ia suka. Namun jika tak ingin emosinya diketahui orang lain, ia bisa melakukan katarsis dengan menulis.

Salah satu sarana katarsis adalah dengan menuliskan luapan emosi itu. Lepaskan beban emosi yang membelenggu Anda. Tulis apapun yang ingin Anda tulis, marah, memaki, sumpah serapah. Tulis semuanya. Tak ada aturan yang harus Anda patuhi dalam menulis untuk katarsis.

Jika Anda menulis di kertas, baca ulang tulisan Anda. Baca lagi dan lagi, sampai Anda merasa puas membacanya. Setelah itu, bakarlah kertas itu, untuk simbol pelepasan emosi yang sudah usai. Lega, karena Anda sudah menuliskannya.

Bagaimana Menulis untuk Katarsis?

Stephen Parato memberikan lima langkah menulis untuk keperluan katarsis.

  • Ambil suasana dan sikap rileks

Ciptakan suasana yang rileks. Duduk dengan tenang, lepaskan beban. Pilih tempat yang nyaman. Tarik nafas dalam-dalam, lepaskan dengan pelan-pelan. Sampai nafas Anda teratur. Jika perlu, minum yang hangat atau sejuk sesuai keperluan Anda, untuk menciptakan kondisi rileks.

Pilih tempat yang membuat Anda bisa bersikap rileks. Mungkin Anda perlu kamar tertutup, atau tempat sepi, untuk membuat Anda benar-benar rileks. Tidak dilihat orang lain. Anda bisa bersikap senatural mungkin.

  • Konsentrasikan Diri

Setelah suasana rileks, mulailah berkonsentrasi kepada diri Anda sendiri. Rasakan emosi yang sedang bergemuruh dalam diri Anda. Kenali luka hati yang sedang membuat Anda tersakiti. Lihat semua pikiran yang melintas di otak Anda. Pahami itu semua.

Hadirkan konsentrasi untuk membuat Anda bisa mengumpulkan semua emosi negatif yang hendak Anda lepaskan.

  • Mulailah Menulis

“Start writing by invoking your higher self”, ujar Stephen Parato. Dalam bahasa yang paling mudah adalah, ikatkan diri dengan Allah, lalu tuliskan. Bagi yang beragama Islam, Anda bisa memulai dengan Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Hal ini untuk menjadi sandaran nilai bagi Anda. Bahwa yang Anda lakukan memiliki tujuan yang baik. Anda tidak ingin menyakiti siapapun dengan katarsis ini.

  • Mengalir Saja

Setelah menulis basmalah, tuliskan semua hal yang ingin Anda tulis. Seberapa panjang, atau seberapa pendek, tidak ada aturan baku. Anda bebas berekspresi menuliskan apapun dengan cara apapun sepanjang apapun. Sampai emosi Anda telah tersalurkan.

“Don’t filter yourself. Let it come through however it may, without judgment. Let the words flow through you”, ujar Parato. Anda tidak perlu membatasi, Anda tidak perlu memfilter. Biarkan semua kata mengalir melalui Anda.

  • Tindak Lanjut

Ambil poin dari tulisan Anda, yang bisa ditindaklanjuti. Apa hal-hal penting —setelah pelepasan melalui tulisan itu, yang bisa dilakukan dalam bentuk tindakan nyata.

Parato mengutipkan ucapan Johann Wolfgang von Goethe, “Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do”.  Mengetahui tidaklah cukup, kita harus melakukannya. Kebijaksanaan tidak cukup, kita harus berbuat.

Simpan atau Endapkan

Setelah Anda menulis untuk katarsis, jangan sekali-kali langsung Anda publikasikan atau posting di media apapun. Menulis untuk katarsis, tidaklah untuk disebarluaskan. Ini dua hal yang berbeda –menulis, dan publikasi tulisan.

Apabila ingin mempublikasikan tulisan –apapun jenisnya, harus melewati proses yang disebut editing. Bisa juga dengan menggunakan tiga filter, sebelum dipublikasikan. Silakan lihat kembali tentang self-editing di sini. Silakan pula lihat kembali tentang tiga filter, di sini.

Maka, semua tulisan yang digunakan sebagai katarsis, harus disimpan atau diendapkan terlebih dahulu. Jangan dipublikasikan, jangan diposting. Anda harus menyimpan di tempat penyimpanan yang aman. Ini upaya untuk mengendapkan emosi, supaya cooling down. Suasana jiwa akan tenang setelah melakukan pelepasan dengan menulis.

Suatu ketika Anda ingin menjadikannya sebagai postingan atau bahkan menjadi buku, buka kembali semua catatan katarsis, lalu lakukan editing dan harus lolos tiga filter sebelum diterbitkan.

“This is a powerful process. I recommend everyone try this, even if you view yourself as someone who can’t write well”, ujar Parato. Menulis untuk katarsis adalah proses yang sangat powerful. Ia merekomendasikan kepada semua orang untuk melakukan, meskipun tidak pandai menulis.

Selamat menulis, selamat melakukan katarsis.

Bahan Bacaan

Stephen Parato, 5 Simple Steps for Cathartic Writing, www.feelingoodfeelingreat.com

 14 kali dilihat

2 Komentar

  • Fria nella

    Bismillahhirrahmanirrahim
    Menulis untuk katarsis merupakan salah satu cara untuk pembersihan hati dari nilai-nilai negatif. Dengan pelepasan hal-hal yang bersifat negatif dari diri seseorang akan membantu datangnya ketenangan jiwa. Didalam jiwa yang tenang akan muncul kreativitas dan semangat yang kuat untuk berbuat yang lebih baik.
    Alhamdulillahhirabbil’alamin.
    Syukron pak Cah motivasi hari ini
    Jazakallahu khair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *