Positive Writing

Menulis untuk Melewati Kedukaan

.

Writing for Wellness – 36

Oleh : Cahyadi Takariawan

“We want to imagine that giving words to the unspeakable will make it somehow our own” – Joyce Carol Oates

.

Sampai enam tahun semanjak Fran Dorf kehilangan anak lelaki kesayangannya, ia masih terus mengalami kedukaan yang tak terperi. Ia wujudkan kedukaan itu dalam kisah fiksi tentang psikolog Dinah Galligan, bersama Elijah. Dalam kisah ini, Elijah adalah seorang anak yang terlahir lahir dengan kesulitan kognitif dan perkembangan, serta berbagai penyakit fisik bawaan.

Buku berjudul Saving Elijah, karya Fran Dorf tersebut, adalah proses katarsis mengubah kedukaan menjadi tulisan. Bahkan ternyata menjadi buku best seller. Dorf telah memberikan contoh bagaimana menggunakan fiksi untuk meredakan rasa sedih akibat kehilangan anak.

Selain “Saving Elijah”, ada banyak contoh lainnya, buku-buku yang lahir karena kedukaan. Misalnya buku “A Widow’s Story” karya Joyce Carol Oates, yang berlatar belakang kematian suaminya, Raymond Smith. Ada lagi buku “The Long Goodbye” karya Meghan O’Rourke, yang berlatar belakang kematian ibunya.

Demikian pula buku karya Joan Didion “Year of Magical Thinking” (2005), “Swimming in a Sea of ​​Death” karya David Rieff (2008), “Epilogue” (2008) karya Anne Roiphe dan “Mourning Diary” karya Roland Barthes ”(2010). Teramat sangat banyak buku laris yang berlatar belakang kedukaan yang dialami sang penulis dalam kehidupan nyata.

Menulis untuk Mengatasi Kedukaan Karena Kehilangan Orang Terkasih

Meghan O’Rourke, penulis buku buku “The Long Goodbye” menyatakan, bahwa menulis adalah cara untuk memahami dunia. Menulis, baginya menjadi semacam pertahanan diri melawan ketakutan dan kekacauan.

Semenjak ibunya dinyatakan menderita kanker kolorektal lanjut, Meghan mulai menulis hari-hari bersama sang ibu. Ia mengurus perawatan sang ibu ke rumah sakit, dan di sore hari “kami berbicara dengan menyakitkan, tentang kematian yang akan datang”. Ia terus menulis di hari-hari perawatan intensif sang ibu. Kedukaan Meghan memuncak saat kematian ibunda tercinta.

Setelah sang ibu meninggal, ia terus menerus membaca, menulis dan mencoba memahami serta mengatasi kesedihan yang dirasakan. Meghan mengaduk-aduk memori, kebersamaan dengan ibu tercinta sejak ia masih kecil hingga dewasa. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan tidur serta kesulitan fokus dalam masa kedukaan itu.

Karena ia terus menerus menulis, akhirnya ia berpikir untuk menjadikan semua tulisannya dalam bentuk buku. “Saya tidak ingin buku itu hanya menjadi kisah penderitaan saya, tetapi refleksi dari apa yang saya lihat sebagai kompleksitas kehilangan”.

“They create a public space where we can talk safely about grief” –Meghan O’Rourke

Menulis menjadikan Meghan lebih cepat melewati tahap-tahap kedukaan. “Saya pikir ini bisa menjelaskan mengapa ada begitu banyak film tentang kehilangan. Semuanya menciptakan ruang publik di mana kita dapat berbicara dengan aman tentang kedukaan”, ujar Meghan.

Memberikan Kata-Kata Untuk Hal yang Tak Dapat Dikatakan

Joyce Carol Oates, penulis buku “A Widow’s Story” menyatakan, menulis baginya selalu bersifat sangat pribadi. Ia bahkan tidak pernah percaya bahwa apa pun yang ditulis akan dibaca oleh orang lain.

“Saya tidak pernah berniat untuk menulis memoar”, ujar Joyce. Buku berjudul “A Widow’s Story” bermula dari coretan Joyce saat merawat Raymond Smith, suami tercinta, dirawat di rumah sakit. “Saya sangat cemas dan tidak bisa tidur nyenyak, jadi saya menulis pada larut malam”, ujarnya.

Setelah kematian Ray, ia terus menulis dalam bentuk potongan-potongan kecil, semacam diary atau catatan harian. Aktivitas menulis baginya tampak tidak berarti, sia-sia, dan bahkan konyol. Namun ia terus menulis untuk menuangkan kesedihan karena kematian Ray.

“The diarist doesn’t know how a scene will end, when it begins; she doesn’t know what the next hour will bring, let alone the next day or the next week; she is wholly unprepared for the most profound experience of her life — that her husband will die” –The New York Times, 2011

Mengomentari tindakan Joyce tersebut, The New York Times (2011) berkomentar, “Penulis buku harian tidak tahu bagaimana sebuah adegan akan berakhir, dan kapan dimulai. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada jam berikutnya, apalagi hari berikutnya atau minggu depan. Dan dia sama sekali tidak siap untuk pengalaman paling dalam dalam hidupnya – bahwa suaminya akan meninggal dunia”.

Meghan O’Rourke menyatakan, buku yang ia tulis, mirip dengan buku karya Joyce. Bahwa kedua buku tersebut terwujud hampir secara tidak sengaja, sebagai respons alami terhadap kehilangan. “Ini mungkin terdengar aneh, tetapi salah satu hal tersulit tentang kematian adalah menyadari bahwa orang tersebut sebenarnya sudah mati”, ujar Meghan.

“Memoir biasanya dilihat sebagai eksplorasi psikologis internal. Tetapi saya merasa bahwa saya tidak hanya menulis tentang kehilangan ibu saya secara pribadi. Saya juga memetakan suasana intim dari transformasi misterius yang kami alami. Karena itulah yang saya inginkan ketika ibu saya meninggal, yaitu deskripsi yang lebih bermakna daripada yang dapat ditawarkan oleh tahap-tahap kesedihan”, ungkap Meghan.

“We want to imagine that giving words to the unspeakable will make it somehow our own” – Joyce Carol Oates

Bagi Joyce Carol Oates, menulis adalah upaya mendapatkan pemahaman, dan sekaligus kontrol diri. “Kami begitu bingung dan lelah dengan apa yang telah terjadi. Kami ingin membayangkan bahwa memberikan kata-kata kepada yang tak terkatakan akan membuatnya menjadi milik kami”, ujar Joyce.

Melarutkan Kedukaan dalam Tulisan

Menulis adalah upaya melarutkan kedukaan. Hari-hari setelah kematian ibunda tercinta, Meghan O’Rourke masih terus dilanda kedukaan yang hebat. Sudah dua tahun ibunya meninggal, kesedihan itu belum hilang.

“Aku tidak merasa bersalah atas kematiannya. Tapi seringkali pada hari yang cerah aku merasa sedih, bahwa aku ada di sini sedangkan dia tidak ada. Fakta yang tak terbantahkan itu –bahwa dia tidak akan pernah berada di sini lagi– menyakitiku karena aku sangat mencintainya. Cintaku tidak mati ketika dia mati”.

“Because I’m a daughter rather than a wife — I was supposed to outlast my mother — I don’t feel guilt about her death. But often on a sunny, pristine day I get a pang that I am here when she is not. That unmovable fact — that she will never be here again — hurts me because I love her. My love did not die when she did” –Meghan O’Rourke

Ternyata menulis membuat Meghan O’Rorke, Joyce Carol Oates, Fran Dorf dan banyak penulis lainnya, cepat melewati kedukaan. Mereka mengubah kedukaan akibat kehilangan orang terkasih dengan karya yang melegenda. Kedukaan bisa diubah menjadi karya yang bermanfaat bagi sesama, melalui tulisan.

Selamat menulis, selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Fran Dorf, Twenty Years After Child-Loss, A Mother Remembers, 5 September 2013, https://www.opentohope.com

Joyce Carol Oates, Meghan O’Rourke, Why We Write About Grief, 26 Februari 2011, https://www.nytimes.com

John Frank Evans, Wellness and Writing Connections: Writing for Better Physical, Mental and Spiritual Health, Idyll Arbor Inc., 2010

.

Ilustrasi : https://www.verywellhealth.com/

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *