Positive Writing

Menulis untuk Meningkatkan “Body Image”

.

Writing for Wellness – 38

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Anda pernah menemukan orang yang selalu mengeluh tentang bentuk tubuhnya? Ada yang mengeluh karena merasa kegemukan, ada yang mengeluh karena terlalu kurus, terlalu pendek, terlalu pesek, terlalu jelek, dan lain sebagainya. Mereka ini memiliki body image yang negatif.

Orang-orang yang memiliki body image positif mampu menilai dan menerima diri apa adanya. Body image yang positif dapat membuat kondisi psikologis seseorang lebih terjaga. Cenderung merasa percaya diri, serta puas dengan apa yang dimilikinya. Mereka lebih dapat menikmati kehidupan karena mampu mencintai tubuhnya.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa body image menggambarkan bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan mempersepsikan kondisi fisik dirinya (Puspasari, 2019). 

Body image terkait dengan persepsi dan penilaian individu atas apa yang dipikirkan dan rasakan terhadap tubuhnya, baik bentuk maupun ukuran (Honigman, dalam Puspasari, 2019). Terkait juga dengan bagaimana individu menilai persepsi orang lain terhadap dirinya.

Dua Jenis Body Image

Terdapat dua macam body image, yaitu body image positif dan body image negatif . Body image positif adalah persepsi yang benar tentang bentuk tubuh yang dimiliki dan merasa nyaman dengan hal tersebut. Sedangkan body image negatif adalah persepsi yang menyimpang dari bentuk yang dimiliki dan cenderung merasa malu dan tidak dapat menerima kondisi tersebut (Puspasari, 2019). 

Body image bersifat sangat subjektif, terkait sangat erat dengan sisi psikologis. Tidak jarang memicu masalah psikologis tertentu apabila individu menilai dirinya negatif. Body image negatif lebih sering ditemui pada remaja perempuan dibandingkan remaja laki-laki (Chairiah, dalam Puspasari 2019).

Individu yang tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya, cenderung memiliki body image negatif. Kondisi tersebut memengaruhi kesehatan mental, seperti munculnya kecenderungan depresi dan kecemasan terutama terkait dengan hubungan sosial.

Paling tidak ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang memiliki body image negatif. Pertama berasal dari dalam diri individu (faktor internal) yakni ada perasaan tidak puas dan tidak percaya diri terhadap body image yang dimiliki. Kedua adalah faktor eksternal yakni pengaruh lingkungan sosial langsung maupun lewat media (Puspasari, 2019). 

Media mainstream dan media sosial memberikan pengaruh besar untuk menciptakan body image –yang sering kali tidak realistis. Dampaknya, banyak orang memaksakan diri untuk dapat menyamai bentuk tubuh ideal agar confident dalam pergaulan. Bisnis diet, salon kecantikan, pusat kebugaran, sarana pemutih, pelangsing, peninggi menjadi sangat laku.

Menulis Ekspresif Dapat Meningkatkan Body Image

Ada sangat banyak cara dan upaya mereduksi body image negatif sekaligus meningkatkan body image positif. Di antara cara murah dan mudah adalah dengan aktivitas menulis ekspresif.

Seperti diketahui, menulis ekspresif (expressive writing) adalah kegiatan menuliskan semua pemikiran dan perasaan paling mendalam selama dan atau setelah mengalami stres. Biasanya, menulis tentang kesedihan, kekecewaan, kemarahan atau tekanan yang membuat tidak nyaman.

Sebuah studi dilakukan oleh Jondell Lafont dan Crystal D. Oberle (2014) mengenai efek tulisan ekspresif terhadap body image perempuan, melibatkan 92 mahasiswi. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa menulis ekspresif dapat meningkatkan persepsi citra tubuh pada perempuan. Body image menjadi lebih positif dengan intervensi menulis ekspresif.

Partisipan yang diminta menuliskan pemikiran dan perasaan akan kondisi tubuh mereka yang dianggap tidak ideal, mampu mengubah suasana tersebut menjadi lebih positif. Hal ini menjadi langkah dalam memperbaiki body image, yang bisa dilakukan oleh setiap orang.

Self-Compassion Writing untuk Meningkatkan Body Image

Ternyata intervensi tidak hanya dilakukan dengan model menulis ekspresif. Untuk meningkatkan body image yang positif, bisa juga dilakukan dengan intervensi menulis self-compassion (self-compassion writing). Apa yang dimaksud dengan self compassion?

“With self-compassion, we give ourselves the same kindness and care we’d give to a good friend” –Dr. Kristin Neff, 2003.

Kristin Neff (2003) mendefinisikan self-compassion sebagai sikap memiliki perhatian dan kebaikan terhadap diri sendiri saat menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup, ataupun terhadap kekurangan dalam dirinya, serta memiliki pengertian bahwa penderitaan, kegagalan dan kekurangan merupakan bagian dari kehidupan setiap orang.

Selanjutnya Neff mengemukakan bahwa self–compassion menjadi alternatif intervensi untuk melihat diri sendiri secara positif. Maka menulis self-compassion dimaksudkan sebagai aktivitas menuliskan hal-hal yang berorientasi menyayangi dan mengasihi diri sendiri. Bukan menuliskan kekesalan atau kemarahan karena bentuk tubuh, namun menuliskan hal-hal yang positif sehingga bisa mengasihi diri sendiri.

Sebuah studi dilakukan oleh Kathryn Schaefer Ziemer dan tim pada tahun 2019. Mereka meneliti pengaruh intervensi “self-compassion writing” terhadap positive body image. Penelitian Ziemer dan tim menunjukkan tulisan self-compassion mampu meningkatkan kemampuan mengasihi diri sendiri, dengan peningkatan yang besar pada citra tubuh positif.

Studi serupa dilakukan oleh Kerry A. Sherman dan tim pada tahun 2018. Mereka menemukan fakta bahwa efek samping dari pengobatan kanker payudara mengakibatkan satu dari tiga orang yang selamat, mengalami gangguan terkait citra tubuh (negative body image). Hal ini berdampak negatif pada kemampuan wanita untuk pulih setelah kanker dan bertahan hidup.

Sherman menemukan fakta bahwa efek samping dari pengobatan kanker payudara mengakibatkan satu dari tiga orang yang selamat, mengalami gangguan terkait citra tubuh (negative body image). Hal ini berdampak negatif pada kemampuan wanita untuk pulih setelah kanker dan bertahan hidup.

Sherman dan tim menggunakan aplikasi My Changed Body (MyCB), sebuah platform intervensi psikologis berbasis web untuk mereduksi negative body image dan meningkatkan apresiasi tubuh pada penyintas kanker payudara. Intervensi dilakukan melalui aktivitas menulis yang berfokus pada self-compassion dalam satu sesi.

Studi melibatkan perempuan penyintas kanker payudara stadium I hingga III yang telah sembuh dari penyakit. Mereka telah mengalami setidaknya satu peristiwa negatif terkait dengan perubahan tubuh setelah kanker payudara

Hasil studi menunjukkan adanya penurunan negative body image dan peningkatan apresiasi tubuh, satu pekan setelah intervensi. Ditemukan pula penurunan tekanan psikologis terkait kondisi tubuh pasca penyembuhan kanker payudara. Ternyata dengan menulis self-compassion, mampu meningkatkan apresiasi terhadap tubuh, sehingga lebih positif dalam body image.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan dalam kehidupan.

Bahan Bacaan

Jondell Lafont, Crystal D. Oberle, Expressive Writing Effects on Body Image: Symptomatic versus Asymptomatic Women, DOI: 10.4236/psych.2014.55053, Jurnal Psychology Vol 5 No 5, April 2014, https://psycnet.apa.org

Kathryn Schaefer Ziemer dkk, A Randomized Controlled Study of Writing Interventions on College Women’s Positive Body Image, Mindfulness 10, 66–77 (2019). https://doi.org/10.1007/s12671-018-0947-7

Kerry A. Sherman dkk, Reducing Body Image-Related Distress in Women With Breast Cancer Using a Structured Online Writing Exercise: Results From the My Changed Body Randomized Controlled Trial, DOI: 10.1200/JCO.2017.76.3318, Journal of Clinical Oncology, April 2018, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Kristin Neff, Self-Compassion: An Alternative Conceptualization of a Healthy Attitude Toward Oneself, Self and Identity Journal 2: 85–101 (2003), DOI: 10.1080/15298860390129863, https://self-compassion.org

Lisa Puspasari, Body Image dan Bentuk Tubuh Ideal, Antara Persepsi dan Realitas, Buletin Jagaddhita Vol 1 No 3, April (2019), https://jagaddhita.org

.

Ilustrasi : http://itsmylife4.com/

 10 kali dilihat

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *