Positive Writing

Menulis untuk Menurunkan Kecemasan pada Difabel Daksa

.

Writing for Wellness – 58

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Disabilitas adalah ketidakmampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Terdapat beberapa jenis disabilitas. Pertama disabilitas fisik, seperti gangguan gerak yang menyebabkan tidak bisa berjalan.

Kedua, disabilitas sensorik, seperti gangguan pendengaran atau penglihatan. Ketiga, disabilitas intelektual, seperti kehilangan ingatan. Keempat, disabiltas mental, seperti fobia, depresi, skizofrenia, atau gangguan kecemasan.

Dikenal pula istilah difabel, untuk menyebutkan kondisi tersebut. Difabel adalah istilah yang lebih halus untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami disabilitas. Difabel mengacu pada keterbatasan peran penyandang disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari karena kondisi yang mereka miliki.

Artinya, seorang yang difabel bukanlah tidak mampu, melainkan hanya terbatas dalam melakukan aktivitas tertentu. Kondisi seorang difabel juga bisa diperbaiki dengan alat bantu yang membuatnya jadi mampu melakukan aktivitasnya seperti semula.

Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menyatakan, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat menganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya, yang terdiri dari penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental; serta penyandang cacat fisik dan mental.

Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Memahami Difabel Daksa

Difabel daksa atau tuna daksa adalah seseorang yang memiliki cacat fisik, tubuh, dan cacat orthopedi. Bisa juga dipahami sebagai seorang individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio dan lumpuh (Riadi, 2020).

Arti dari kata “daksa” adalah tubuh. Maka difabel daksa adalah istilah lain dari difabel fisik. Mereka mengalami kelainan fisik, khususnya anggota badan, seperti tangan, kaki, atau bentuk tubuh. Penyimpangan perkembangan terjadi pada ukuran, bentuk, atau kondisi lainnya (Riadi, 2020).

Menurut studi yang dilakukan Karyanta (2013), penyandang difabel daksa memiliki kerentanan lebih besar untuk memiliki self-esteem yang rendah. Seperti diketahui,  self-esteem atau harga diri merupakan penilaian individu terhadap kehormatan dirinya, yang diekspresikan melalui sikap terhadap dirinya sendiri. Self-esteem memiliki kaitan yang erat dengan kebahagiaan seseorang.

Penyandang difabel daksa juga memiliki kerentanan untuk mengalami kecemasan dalam menjalani kehidupan. Banyak dijumpai realitas, masyarakat yang bersikap tidak atau kurang bersahabat terhadap kaum difabel. Apalagi dalam dunia kerja. Berbagai realitas tersebut rentan memicu kecemasan pada difabel daksa.

Karena itu diperlukan tindakan untuk meredakan kecemasan pada penyandang tuna daksa sehingga mereka dapat lebih produktif dan lebih bahagia.

Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Kecemasan Difabel Daksa

Salah satu teknik yang bisa digunakan untuk meredakan kecemasan pada difabel daksa adalah dengan relaksasi otot yang dipadukan dengan aktivitas menulis ekspresif. Telah banyak studi yang mengungkapkan efektivitas menulis ekspresif dengan penuruna stres atau kecemasan.

Zahro Varisna Rohmadani (2017) melakukan penelitian untuk mengetahui efektivitas penanganan berupa relaksasi otot dan terapi menulis ekspresif sebagai upaya menurunkan kecemasan pada difabel daksa. Subjek penelitian ini adalah  siswa dan siswi Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa.

Subjek mendapatkan penanganan berupa relaksasi otot dan terapi menulis ekspresif terkait pengalaman emosional mereka. Metode analisis data menggunakan statistik nonparametrik teknik Wilcoxon Signed Rank Test, untuk menguji perbedaan skor cemas kelompok subjek saat pretest dan posttest.

Hasil tes menunjukkan bahwa relaksasi otot dan terapi menulis ekspresif terkait pengalaman emosional, efektif dalam menurunkan kecemasan subjek. Dengan demikian, teknik relaksasi otot yang dipadukan dengan menulis ekspresif bisa direkomendasikan untuk menurunkan kecemasan para difabel daksa.

Teknik menulis ekspresif bisa dilakukan dengan menuliskan pengalaman emosional yang pernah mereka alami dalam kehidupan keseharian. Sangat banyak pengalaman menyakitkan yang dialami para difabel daksa. Sejak ejekan, pengusiran, penghinaan, dan tindakan diskriminasi. Pengalaman traumatis inilah yang menimbulkan kecemasan.

Pengalaman emosional juga bisa terkait dengan hal-hal yang membahagiakan. Misalnya penghargaan, prestasi, capaian, dan lain sebagainya. Fokus kepada hal-hal yang positif yang pernah dialami, dengan menuliskannya, juga bisa mengurangi kecemasan.

Selamat menulis, selamat berbahagia.

Bahan Bacaan

JPNN, Ini Perbedaan Difabel dan Disabilitas, 5 Desember 2019, https://www.jpnn.com

Muchlisin Riadi, Tunadaksa, Pengertian, Jenis, Karakteristik, Faktor Penyebab dan Rehabilitasi, 24 Juli 2020, https://www.kajianpustaka.com

Nugraha Arif Karyanta, Self-Esteem Pada Penyandang Tuna Daksa, Jurnal Wacana Vol 5 No 1 th 2013, https://jurnalwacana.psikologi.fk.uns.ac.id/

Zahro Varisna Rohmadani, Relaksasi dan Terapi Menulis Ekspresif Sebagai Penanganan Kecemasan pada Difabel Daksa, Journal of Health Studies, Vo. 1, No.1, Maret 2017, https://ejournal.unisayogya.ac.id/

.

Ilustrasi : https://www.jpnn.com

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *