Positive Writing

Menulis Untuk Meredakan Alexithymia

.

Writing for Wellness – 48

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Tidak semua orang bisa mengungkapkan emosinya dengan baik. Terlebih bagi orang yang mengalami alexithymia, hal ini menjadi suatu hal yang lebih sulit lagi. Alexithymia adalah ketidakmampuan untuk mengenali dan menyampaikan emosi.

Saat menghadapi pertanyaan, “Bagaimana perasaan Anda?” –seseorang mungkin bingung menentukan jawabannya. Inilah yang dialami oleh orang-orang dengan alexithymia. Meski paham bahwa dirinya tengah merasa senang, mereka tidak tahu cara mengungkapkannya.

National Geographic Indonesia (2019) menyatakan, alexithymia bukanlah penyakit ataupun gangguan mental. Kondisi ini bersifat subklinis. Artinya, ciri-cirinya tak bisa disamakan dengan gejala penyakit klinis seperti diabetes, gangguan bipolar, flu, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), dan sebagainya.

Meski demikian, alexithymia adalah fenomena psikologis yang tetap diakui keberadaannya. Kondisi ini sering dikaitkan, bahkan muncul bersamaan dengan gangguan mental seperti depresi, PTSD, autisme, hingga skizofrenia.

Secara umum, ciri utama dari alexithymia adalah ketidakmampuan mengungkapkan emosi. Ketika berinteraksi dengan orang lain, mereka yang mengalami alexithymia cenderung menunjukkan perilaku sebagai berikut:

  1. Kesulitan mengenali emosi dan perasaan
  2. Kesulitan membedakan antara emosi dan respons tubuh terhadap emosi tersebut
  3. Kesulitan mengenali serta merespons emosi orang lain, termasuk ekspresi wajah dan nada bicara
  4. Memiliki cara berpikir yang sangat logis dan kaku tanpa menyertakan perasaan
  5. Tidak mampu menyampaikan perasaannya dengan baik
  6. Tidak memiliki mekanisme pengalihan emosi yang baik saat menghadapi stres
  7. Jarang berimajinasi atau berfantasi
  8. Terkesan kaku, menjauhkan diri, tidak punya selera humor, dan cuek terhadap orang lain
  9. Merasa tidak puas akan hidupnya.

Alexithymia adalah kondisi yang muncul dalam bentuk spektrum. Artinya, tingkat keparahan dan dampaknya berbeda pada setiap orang. Seseorang mungkin masih bisa mengenali emosinya, tapi ada pula yang tidak bisa melakukannya sama sekali.

Pada beberapa kasus, orang yang mengalami alexithymia bahkan tidak menyadari kondisi ini. Dampaknya adalah frustrasi pada penderita maupun orang-orang di sekitarnya, sebab ketidakmampuan mengungkapkan emosi menjadi hambatan dalam berinteraksi.

Mengatasi Alexithymia dengan Menulis Ekspresif

Teknik menulis ekspresif adalah metode yang berfokus pada ekspresi emosional tertulis yang mengharuskan orang untuk menulis tentang pengalaman traumatis atau sulit, dengan tujuan memperbaiki respon atas peristiwa tersebut. Ternyata beberapa studi menunjukkan bahwa menulis ekspresif bisa meredakan alexithymia.

Pada tahun 2008, Karen A. Baikie mengkaji pengaruh menulis ekspresif terhadap alexithymia, splitting, dan gaya koping represif. Delapan puluh delapan mahasiswa diminta melakukan menulis ekspresif dalam empat sesi, selama 20 menit, dengan tindak lanjut selama satu bulan. Studi menemukan hasil, menulis ekspresif memberikan manfaat bagi individu yang mengalami alexithymia dan split[i].

Studi Karen A. Baikie menemukan hasil, menulis ekspresif memberikan manfaat bagi individu yang mengalami alexithymia dan split.

Sebelumnya, Dario Paez dan tim (1999) telah melakukan penelitian yang melibatkan sekelompok mahasiswa psikologi. Mereka ditugaskan menulis selama 20 menit dalam tiga hari. Peserta yang menulis secara intensif tentang peristiwa traumatis dan memiliki defisit disposisional dalam pengungkapan diri, diukur dengan subskala Skala Alexithymia Toronto, menunjukkan efek positif pada ukuran pengaruh yang dilaporkan sendiri.

Alesia Renzi dan tim (2020) juga melakukan studi serupa. Di antara tujuan penelitian Renzi adalah untuk menyelidiki pengaruh alexithymia, pengaruh intervensi penulisan ekspresif, dan menganalisis protokol penulisan melalui penggunaan Linguistic Inquiry and Word Count (LIWIC). Tiga puluh lima wanita yang menjalani perawatan reproduksi berbantuan (assisted reproductive treatment / ART), berpartisipasi dalam penelitian ini dan mengisi kuesioner sosiodemografi menggunakan Skala Alexithymia Toronto.

Para partisipan menjalani tiga sesi penulisan, dilanjutkan dengan menulis tentang emosi mereka saat ini. Partisipan adalah wanita dengan alexithymia rendah dan alexithymia tinggi.

Analisis dalam kelompok selama tiga sesi menulis mengungkapkan bahwa wanita dengan alexithymia rendah melaporkan jumlah kata lebih banyak, yang menunjukkan keefektifan metode menulis ekspresif.

Studi lain dilakukan oleh Tasmania del Pino dan tim (2016). Mereka mengevaluasi efek kesehatan mental dari intervensi berdasarkan eksperimen ulang, melalui tiga sesi penulisan ekspresif. Semua peserta dievaluasi sebelum dan sesudah penulisan emosional dalam pengaruh positif dan negatif, kecemasan, depresi, pikiran mengganggu dan penghindaran kognitif. Selanjutnya, tingkat optimisme dan alexithymia dikendalikan.

Hasil penelitian menunjukkan efektivitas menulis ekspresif pada pengaruh positif dan negatif dan depresi. Di antara kovariabel, hanya optimisme yang berpengaruh signifikan terhadap variabel emosional.

Michael Arend Strating (2016) melakukan penelitian tentang alexithymia. Penelitian menggunakan data arsip yang terdiri dari kuesioner laporan diri dan narasi tulisan ekspresif yang dilakukan oleh 241 mahasiswa. Mereka menuliskan berbagai kesulitan yang tidak terselesaikan setelah mengalami kejadian yang mengecewakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alexithymia terkait dengan pengurangan gejala stres, depresi, dan kecemasan, terlepas dari kondisi penulisan.

Alessia Renzi (2019) juga telah melakukan penelitian untuk mengevaluasi efek teknik menulis Pennebaker pada tingkat kehamilan, alexithymia dan kesehatan psikofisik selama perawatan reproduksi berbantuan (assisted reproductive treatment / ART).

Partisipan terdisi 91 perempuan yang mengalami perawatan ART, dibagi menjadi dua kelompok eksperimen  dan kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen, partisipan diminta menulis tentang pikiran dan emosi mereka tentang pengalaman infertilitas. Hasil penelitian ini mendukung kemanfaatan teknik menulis ekspresif selama ART dalam mempromosikan keberhasilan pengobatan.

Demikian pula studi yang dilakukan oleh Kate M. Pluth (2012). Hasil studi Pluth menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional dan alexithymia berkorelasi dengan parameter penggunaan kata tertentu.

Berbagai studi di atas menunjukkan bahwa menulis ekspresif menjadi salah saru metode yang bisa diterapkan untuk intervensi alexithymia. Meskipun kondisi penelitian dan hasilnya sangat beragam, namun ada hal yang menjadi kesamaan. Bahwa menulis ekspresif memberikan pengaruh terhadap penananganan alexithymia.

Selamat menulis, selamat menikmati kebahagiaan.

Bahan Bacaan

Alesia Renzi dkk, Giving words to emotions: the use of linguistic analysis to explore the role of alexithymia in an expressive writing intervention, 7 Sepember 2020, https://www.ncbi.nlm.nih.gov

Alessia Renzi dkk, The effects of an expressive writing intervention on pregnancy rates, alexithymia and psychophysical health during an assisted reproductive treatment, https://doi.org/10.1080/08870446.2019.1667500, 24 September 2019, https://www.tandfonline.com

Dario Paez dkk, Expressive writing and the role of alexythimia as a dispositional deficit in self-disclosure and psychological health, DOI: 10.1037//0022-3514.77.3.630, September 1999, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov

Karen A. Baikie, Who does expressive writing work for? Examination of alexithymia, splitting, and repressive coping style as moderators of the expressive writing paradigm, DOI: 10.1348/135910707X250893, Februari 2008, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov  

Kate M. Pluth, Alexithymia, Emotional Intelligence, and Their Relation to Word Usage in Expressive Writing, 2012, https://scholarship.claremont.edu

Michael Arend Strating, Alexithymia and Expressive writing: Emotional Awareness in Working Through Distress, 2016, https://scholar.uwindsor.ca

NatGeo, Alexithymia, Kondisi yang Membuat Seseorang Sulit Mengenali dan Menyampaikan Emosi, 19 Desember 2019, https://nationalgeographic.grid.id

Tasmania del Pino, Wenceslao Penate, dkk, The efficacy of expressive writing intervention: the role of optimism and alexithymia, https://doi.org/10.1989/ejihpe.v6i3.179, 29 Juli 2016, https://www.mdpi.com

.

Ilustrasi : https://www.medcom.id/


[i] Split adalah istilah yang digunakan dalam psikiatri untuk menggambarkan ketidakmampuan untuk menahan pikiran, perasaan, atau keyakinan yang berlawanan. Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa seseorang yang berpisah melihat dunia dalam istilah hitam atau putih — semua atau tidak sama sekali. Ini adalah cara berpikir yang terdistorsi di mana atribut positif atau negatif seseorang atau peristiwa tidak ditimbang atau kohesif.

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *