Positive Writing

Menulis untuk Pengungkapan Emosi Pada Pasien Skizofrenia Hebefrenik

.

Writing for Wellness – 60

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Secara sederhana, skizofrenia dipahami sebagai gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Penderita skizofrenia akan mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Hal tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.

Salah satu jenis skizofrenia adalah hebefrenik, atau dikenal pula dengan skizofrenia tidak teratur (disorganized skizofrenia). Penderita skizofrenia jenis ini seringkali menampilkan perubahan perilaku primitif, kekanak-kanakan, dan tidak terstruktur. Biasanya skizofrenia hebefrenik mulai muncul sebelum usia 25 tahun.

Umumnya pengidap skizofrenia hebefrenik tergolong aktif (tidak diam), tetapi tidak memiliki tujuan dan tidak terstruktur. Pada umumnya mengalami ketidakmampuan dalam pekerjaan atau belajar, kemunduran secara sosial, kurangnya koordinasi anggota tubuh, tingkah laku seperti anak–anak, sering menyeringai, mengalami halusinasi dan delusi.

Tipe ini diyakini sebagai bentuk skizofrenia yang paling parah, karena penderitanya seringkali kesulitan untuk melakukan aktivitas normal sehari–hari. Ini adalah akibat dari ketidakmampuan mereka untuk berpikir, berbicara dan bertindak logis.

Pengidap skizofrenia hebefrenik menunjukkan gejala-gejala yang tidak teratur, bermasalah dengan aktivitas rutin seperti berpakaian, mandi, menyikat gigi. Mereka menunjukkan emosi yang tidak sesuai dengan situasi, berdampak kepada gangguan kemampuan komunikasi, termasuk bicara. Bermasalah pula dalam penggunaan dan pemilihan kata-kata. 

Gejala lainnya adalah ketidakmampuan untuk berpikir jernih dan merespons dengan tepat. Penggunaan kata-kata yang tidak masuk akal; sering lupa atau kehilangan barang; berjalan mondar-mandir atau berjalan melingkar; memiliki masalah dalam memahami hal-hal sehari-hari; juga menanggapi pertanyaan dengan jawaban yang tidak berkaitan. 

Mereka cenderung tidak mampu melakukan kontak mata saat berbicara dengan orang lain; sering berperilaku seperti anak kecil, juga melakukan penarikan diri dari kehidupan sosial. Gejala skizofrenia yang tidak teratur ini mencakup berbagai masalah yang berkaitan dengan pikiran, ucapan, perilaku, dan emosi.

Terapi Menulis Ekspresif untuk Pasien Skizofrenia Hebefrenik

Efektivitas terapi menulis ekspresif terhadap berbagai penyakit mental maupun fisik telah diuji dan diteliti oleh berbagai kalangan ahli. Ternyata, menulis ekspresif juga yerbukti efektif terhadap pengidap skizofrenia hebefrenik.

Risna Amalia dan Tatik Meiyuntariningsih (2020) melakukan studi untuk untuk menguji efektifitas intervensi expressive writing therapy dalam meningkatkan kemampuan pengungkapan emosi pada klien skizofrenia hebefrenik. Subjek berjenis kelamin laki-laki berusia 45 tahun dan mengalami skizofrenia hebrefenik selama satu tahun.

Hasil penelitian Amalia dan Meiyuntariningsih menunjukkan bahwa expressive writing therapy efektif digunakan sebagai media mengungkapkan perasaan atau emosi subjek, serta pelepasan emosi negatif yang dimiliki pasien skizofrenia hebefrenik.

Hasil dari penelitian Amalia dan Meiyuntariningsih menunjukkan bahwa expressive writing therapy efektif digunakan sebagai media mengungkapkan perasaan atau emosi subjek, serta pelepasan emosi negatif yang dimiliki pasien skizofrenia hebefrenik. Dengan pelepasan emosi negatif melalui tulisan, pasien akan lebih merasakan ketenangan.

Tentu saja tindak lanjut setelah intervensi menulis ekspresif tetap harus diberikan. Pasien diarahkan agar mampu menyalurkan emosinya dan mengungkapkan perasaannya melalui tulisan. Selain itu keluarga diharapkan untuk terus memberikan dukungan sosial yang dibutuhkan oleh pasien dengan terus memotivasinya.

Studi serupa telah dilakukan sebelumnya oleh Lulus Faqihatur Rohmah dan Herlan Pratikto (2019). Mereka melakukan penelitian untuk melakukan intervensi menulis ekspresif kepada pasien skizofrenia yang berada di RSJ Dr.Radjiman Widiodiningrat Malang. Subyek mengalami gangguan skizofrenia hebefrenik.

Peneliti memberikan intervensi berupa expressive writing therapy sebagai media untuk meningkatkan kemampuan pengungkapan diri (self disclosure), menyembuhkan dan peningkatan kesehatan mental. Terapi ini diyakini mampu mengungkap atau menggambarkan pengalaman hidup pada masa lalu, sekarang atau masa depan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus.

Hasil penelitian Rohmah dan Pratikto menunjukkan bahwa expressive writing therapy efektif digunakan sebagai media mengungkapkan perasaan, isi hati dan emosi pasien skizofrenia hebefrenik.

Hasil dari penelitian Rohmah dan Pratikto menunjukkan bahwa expressive writing therapy efektif digunakan sebagai media mengungkapkan perasaan, isi hati dan emosi pasien skizofrenia hebefrenik. Ini semakin menguatkan hasil-hasil studi terkait menulis ekspresif yang bisa digunakan untuk membantu terapi berbagai penyakit mental dan fisik, yang telah dilakukan banyak ahli dunia.

Selamat menulis, selamat menikmati hidup sehat.

Bahan Bacaan

Lulus Faqihatur Rohmah, Herlan Pratikto, Expressive Writing Therapy As a Media to Improve Self Disclosure Skills of Hebephrenic Schizophrenia Patients, Jurnal Psibernetika Vol.12 No 1, April 2019, DOI: http://dx.doi.org/10.30813/psibernetika.v12i1.1584, diakses dari https://journal.ubm.ac.id

Rikho Melga Shalim, Mengenal Gejala Gangguan Mental Skizofrenia Hebefrenik, 30 Mei 2019, https://www.sehatq.com/

Risna Amalia, Tatik Meiyuntariningsih, Expressive Writing Therapy dan Kemampuan Pengungkapan Emosi Pasien Skizofrenia Hebefrenik, Jurnal Penelitian Psikologi Vol 11 No 2 th 2020,  DOI: https://doi.org/10.29080/jpp.v11i2.378

.

Ilustrasi : https://alwib.net/

 4 kali dilihat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *