Positive Writing

Menulis untuk Meredakan Stres Pasca Persalinan

.

Writing for Wellness – 82

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Mainly, these outcomes suggest that expressive writing can be a helpful early and low-cost universal intervention to prevent postpartum distress for women” –Paola Di Blasio at.al (2015)

.

Pada kehamilan anak pertama, umumnya seorang ibu akan merasa sangat bahagia ketika bayi telah berhasil lahir dengan selamat. Namun pada beberapa ibu, justru muncul perasaan sedih, cemas dan depresi setelah melahirkan. Kondisi ini disebut dengan depresi postpartum (depresi pasca melahirkan).

Menurut Smith (2020) depresi pasca kelahiran terkait dengan perubahan kimiawi, sosial, dan psikologis yang terjadi saat melahirkan. Istilah tersebut menggambarkan serangkaian perubahan fisik dan emosional yang dialami banyak ibu baru.

Postpartum depression is linked to chemical, social, and psychological changes that happen when having a baby. The term describes a range of physical and emotional changes that many new mothers experience. PPD can be treated with medication and counseling – Michael W. Smith (2020)

Apakah postpartum depression sama dengan baby blues? Baby blues merupakan perubahan emosi (mood swing) yang umumnya menyebabkan sang ibu menangis terus-menerus, cemas, hingga sulit tidur selama beberapa hari hingga dua pekan setelah bayi lahir.

Sedangkan postpartum depression merupakan kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan baby blues. Postpartum depression membuat penderita merasa putus harapan, merasa tidak menjadi ibu yang baik, sampai tidak mau mengurus anak.

“Baby blues akan terjadi selama 1-10 hari setelah melahirkan. Namun, ketika baby blues berlangsung secara terus menerus selama lebih dari dua minggu, ini bisa menjadi pertanda dari postpartum despression”.

Postpartum depression bukan hanya dialami oleh ibu, tetapi juga bisa dialami oleh ayah. Postpartum depression pada ayah paling sering terjadi 3-6 bulan setelah bayi lahir. Seorang ayah lebih rentan terkena postpartum depression ketika istrinya juga menderita kondisi tersebut.

Gejala postpartum depression bisa terjadi pada awal kehamilan, beberapa minggu sesudah melahirkan, atau hingga setahun sesudah bayi lahir. Ketika mengalami postpartum depression, seseorang akan merasa cepat lelah atau tidak bertenaga, mudah tersinggung dan marah, menangis terus-menerus, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.

Mereka juga mengalami perubahan suasana hati yang drastis, kehilangan nafsu makan atau justru makan lebih banyak dari biasanya, tidak dapat tidur atau tidur terlalu lama, sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan, tidak ingin bersosialisasi dengan teman dan keluarga.

“Gejala lainnya adalah kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukai, putus asa, berpikir untuk melukai dirinya sendiri atau bayinya, muncul pikiran tentang kematian dan ingin bunuh diri”.

Faktor penyebab terjadinya postpartum depression antara lain perubahan hormon reproduksi setelah melahirkan. Selain itu kebiasaan ibu kurang tidur, asupan nutrisi yang kurang baik, dan kurangnya dukungan dari suami serta keluarga, bisa menjadi pemicu postpartum depression.

Depresi paska melahirkan dapat diobati dengan pengobatan dan konseling. Dukungan dari suami dan keluarga besar sangat bermakna untuk mempercepat penyembuhan depresi pasca melahirkan.

Menulis Ekspresif untuk Menurunkan Depresi Pasca Melahirkan

Sudah sangat banyak studi terkait kemanfaatan menulis ekspresif untuk meredakan stres atau menurunkan tingkat depresi. Sebuah studi menunjukkan, menulis ekspresif bisa menjadi intervensi yang efektif untuk meredakan depresi pasca melahirkan.

Studi dilakukan oleh Paola Di Blasio dan tim (2015) untuk menyelidiki pengaruh intervensi menulis ekspresif terhadap depresi dan gejala stres pasca trauma setelah melahirkan. Sebanyak 113 wanita, usia rerata 31,26 tahun, diobservasi pada hari-hari pertama setelah melahirkan.

Separuh dari partisipan diminta melakukan menulis ekspresif,  dan separuh lagi menulis dengan tema netral. Proses menulis dinilai 2 hingga 3 bulan kemudian. Gejala depresi dan pasca trauma lebih rendah pada wanita yang melakukan tugas menulis ekspresif dibandingkan dengan kelompok menulis netral.

Kondisi intervensi terkait secara signifikan dengan penurunan depresi tingkat tinggi maupun tingkat rata-rata depresi, di awal waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menulis ekspresif secara signifikan mengurangi gejala semua tingkat stres pasca trauma

Secara keseluruhan, peneilitian memberikan hasil menulis ekspresif menjadi intervensi universal awal dan biaya rendah yang membantu untuk mencegah tekanan pascapersalinan bagi wanita.

Selamat menulis, selamat menikmati kesehatan.

Bahan Bacaan

FK Unair, Memahami Perbedaan Baby Blues & Post Partum Depression, 17 Juni 2020, https://fk.unair.ac.id

Karinta A. Setiaputri, Mengenal Depresi Postpartum, Masalah Mental yang Lebih Parah Dari Baby Blues, 18 Januari 2021, https://hellosehat.com/

Michael W. Smith, Postpartum Depression, 4 Agustus 2020, https://www.webmd.com

Paola Di Blasio dkk, The Effects of Expressive Writing on Postpartum Depression and Posttraumatic Stress Symptoms, https://doi.org/10.2466/02.13.PR0.117c29z3, 1 December  2015 

.

Ilustrasi : https://www.tatahealth.com/

 12 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *