Positive Writing

Mereduksi Kesedihan di Masa Berkabung Melalui Tulisan

.

Writing for Wellness – 56

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Bagi Reinekke Lengelle, menulis adalah pendamping yang produktif dan handal. Ini membantunya untuk memahami sangat banyak hal, terkait perasaan tidak nyaman yang menyertai proses berduka”.

.

Studi tentang “Grief, Depressive Symptoms and Inflammation in the Spousally Bereaved”  telah dipublikasikan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology tahun 2018 lalu. Sungguh pelajaran yang sangat menarik. Bahwa kesedihan karena kehilangan pasangan, bisa memunculkan peradangan (inflamasi).

Penelitian yang dilaksanakan oleh Ryan Brown, Michelle Chen dan tim ini memeriksa dampak kesedihan terhadap kesehatan manusia. Mereka melanjutkan penelitian sebelumnya dari laboratorium Christopher Fagundes yang mempelajari faktor risiko peradangan.

Para peneliti melakukan wawancara dan memeriksa darah 99 orang yang pasangannya baru saja meninggal dunia. Mereka membandingkan orang-orang yang menunjukkan gejala kesedihan yang meningkat – seperti merindukan orang yang meninggal, kesulitan untuk melanjutkan hidup, perasaan bahwa hidup tidak berarti dan ketidakmampuan untuk menerima kenyataan kehilangan – dengan mereka yang tidak menunjukkan perilaku tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa para janda dan duda dengan gejala kesedihan yang meningkat, menderita peradangan tubuh hingga 17 persen lebih tinggi. Bahkan sepertiga teratas dari kelompok itu memiliki tingkat peradangan 53,4 persen lebih tinggi daripada sepertiga terbawah.

“Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa peradangan berkontribusi pada hampir setiap penyakit di usia dewasa yang lebih tua,” kata Chris Fagundes. “Kami juga tahu bahwa depresi terkait dengan tingkat peradangan yang lebih tinggi, dan mereka yang kehilangan pasangan berisiko lebih tinggi mengalami depresi berat, serangan jantung, stroke, dan kematian dini”.

“Ini adalah studi pertama yang mengkonfirmasi kesedihan dapat meningkatkan peradangan, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kopndisi kesehatan yang buruk”, ujar Fagundes.

Penelitian ini mendapatkan hasil penting tentang perilaku dan aktivitas manusia bisa berdampak pada tingkat peradangan dalam tubuh. Juga peristiwa berkabung dapat mempengaruhi kesehatan. Studi awal mengamati bahwa mereka yang telah menjanda berisiko lebih tinggi mengalami masalah kardiovaskular, gejala tubuh, dan kematian dini dengan membandingkan peradangan pada individu yang kehilangan pasangan.

Mereduksi Kesedihan Melalui Tulisan

Kehilangan orang yang dicintai adalah takdir dan realitas yang bisa menimpa siapa saja. Namun kematian pasangan –bagaimanapun—adalah peristiwa yang sangat menyedihkan. Maka muncullh upaya untuk mengatasi atau melawan perasaan sedih tersebut.

Reinekke Lengelle (2020) menyatakan, “perlawanan” terhadap rasa sedih itu mungkin sebagian didorong oleh kekhawatiran tentang bagaimana seseorang akan mengatasinya dan asumsi yang dibuat tentang kehilangan. Misalnya, seseorang yang telah kehilangan pasangan merasa dirinya tidak akan tahan, atau kesedihan harus terjadi dalam jangka waktu yang lama, atau nasihat bahwa mereka harus “tetap kuat” untuk menghadapinya realitas kehilangan.

“The grieving self is supported, comforted, and transformed by the act of using words to move towards the pain of grief as well as through the creative space that forms around the (often unanswerable) questions that death brings” – Reinekke Lengelle, 2020

Berdasarkan pengalaman pribadi, Reinekke mulai menulis tentang kematian suami, Frans Meijers, akibat terkena kanker langka. Frans meninggal tujuh bulan setelah didiagnosis kanker.

Suatu pagi di bulan Desember, dua minggu setelah kepergian Frans, Reinekke memutuskan pulang sendirian dari rumahnya di Belanda, menuju rumah di Kanada. Mulai saat itu ia menuliskan secara rinci perasaannya, kehidupan sehari-hari saat Frans tidak ada, dan sejarah hubungan mereka.

Buku yang ditulisnya merupakan ajakan untuk menjadi terbuka serta belajar untuk bisa menghuni ruang-ruang kesedihan. Melalui tulisan, seseorang yang kehilangan pasangan bisa terlibat secara aktif melakukan refleksi terhadap pikiran dan perasaan yang muncul.

“Writing is a productive and steady companion: it helps her make sense of the myriad and sometimes uncomfortable feelings that accompany the grieving process, allows her to experience continuing bonds with Frans via memories and imagined dialogues, and results in nourishing insights into bereavement in her first year and a half of grief” – Reinekke Lengelle (2020).

Reinekke menceritakan kisah hidup bersama pasangannya secara terbuka. Sejak menerima berita buruk terntang vonis penyakit Frans, bagaimana membuat pilihan bertahan hidup, puisi yang ditulis saat Frans sakit dan setelah kematiannya. Ini semua menjadi cara Reinekke untuk mengekspresikan perasaan, merasa tetap dekat dengan Frans, dan menjalani hidup dengan baik tanpanya.

Menulis Adalah Pendamping yang Produktif dan Handal

Sebagai seorang pengajar “self writing” –yaitu menulis untuk pengembangan pribadi, dia mempraktikkan apa yang diajarkan kepada para murid. Bagaimana menggunakan puisi, naratif serta tulisan reflektif untuk mengeksplorasi, dan mengartikulasikan pengalaman menyakitkan yang dihadapi.

Bagi Reinekke, menulis adalah pendamping yang produktif dan handal. Ini membantunya untuk memahami sangat banyak hal, terkait perasaan tidak nyaman yang menyertai proses berduka. Melalui menulis memungkinkan dirinya untuk mendapatkan ikatan berkelanjutan dengan Frans melalui ingatan dan dialog imajiner. Sekaligus menghasilkan pemahaman yang tepat tentang duka cita setelah satu setengah tahun kesedihannya.

“She also found that sexual desire and memories of her attraction to Frans remained alive for many months after his death; arousal was simultaneously and paradoxically a source of comfort and painful yearning” – Reinekke Lengelle (2020).

Sejumlah tema spesifik dan unik muncul di sepanjang cerita Reinekke. Misalnya, dia menemukan di bulan-bulan awal duka cita, bahwa bersama dengan kesedihan dan pemikiran magis –berupa penyangkalan atau mati rasa, dia juga mengalami kemarahan terhadap Frans tentang masalah yang dia harap bisa didamaikan. Konflik dengan Frans yang belum selesai dan ambivalensi dalam kesedihan adalah area yang dieksplorasi untuk mendapatkan kedamaian diri.

Reinekke juga menemukan bahwa hasrat seksual dan ingatan akan ketertarikannya pada Frans tetap hidup selama berbulan-bulan setelah kematiannya. Sebuah gairah secara bersamaan dan secara paradoks menjadi sumber kenyamanan dan kerinduan yang menyakitkan.

“She develops the idea that sadness, anger, and even joy all help the griever to become and remain resilient” – Reinekke Lengelle (2020).

Menemukan Refleksi Dengan Menulis

Sembari menulis, Reinekke mengembangkan wawasan dari literatur kesedihan yang sesuai dengan temuan pengalamannya sendiri. Ia meyakini bahwa emosi bukan hanya gejala kesedihan, tetapi memiliki fungsi adaptif. Ia mengembangkan gagasan bahwa kesedihan, amarah, dan bahkan kegembiraan, semuanya membantu untuk menjadi eksis dan tetap tangguh.

“Writing is a worthwhile companion in grieving if one can combine the raw, visceral, concrete, taboo, and emotional details of loss and express emotions, while engaging a more detached, observing self” – Reinekke Lengelle (2020)

Dia menyimpulkan bahwa menulis adalah pendamping yang berharga dalam berduka jika seseorang dapat menggabungkan detail mentah, mendalam, konkrit, tabu, dan emosional dari kehilangan, dan kemudian mengekspresikan emosi, sambil melibatkan diri yang lebih terpisah, serta mengamati diri.

“Diri yang berduka didukung, dihibur, dan diubah oleh tindakan menggunakan kata-kata untuk bergerak menuju rasa sakit, serta melalui ruang kreatif yang terbentuk di sekitar pertanyaan –yang sering tak terjawab, yang dibawa kematian” – Reinekke Lengelle, 2020

Sangat banyak hal makna dari refleksi kesedihan, bisa didapatkan melalui menulis. Reinekke telah membuktikannya.

Selamat menulis, selamat berbahagia.

Bahan Bacaan

Christopher Fagundes, Ryan L. Brown, Michelle A. Chen, Kyle W. Murdock, Levi Saucedo, Angie LeRoy, E. Lydia Wu, Luz M. Garcini, Anoushka D. Shahane, Faiza Baameur, Cobi Heijnen, Grief, Depressive Symptoms, and Inflammation in the Spousally Bereaved, Psychoneuroendocrinology, 2018; DOI: 10.1016/j.psyneuen.2018.10.006

Reinekke Lengelle, Writing the Self in Bereavement, 2 Mei 2020, http://writingtheself.ca

Rice University, For the Brokenhearted, Grief Can Lead to Death, 22 Oktober 2018, https://www.sciencedaily.com/

.

Ilustrasi : https://www.routledge.com/

 10 kali dilihat

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *