Motivasi Menulis

Point of View Sebagai Penulis

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Saya tidak akan menyampaikan teori tentang Point of View (POV) yang biasa dipelajari dalam dunia fiksi –apakah akan menggunakan sudut pandang orang pertama atau orang ketiga. Bukan POV itu yang ingin saya sampaikan.

Saya ingin menyampaikan tentang posisioning sebagai penulis, di berbagai aktivitas kehidupan. Sebagai penulis kita harus bisa memiliki point of view atau sudut pandang yang tepat –bahwa kita adalah penulis. Ini akan menguatkan jati diri dan posisi kita sebagai penulis.

“Saya adalah penulis”, itu yang harus selalu Anda katakan kepada diri sendiri. Setiap hari. Sebagai apapun diri Anda selama ini –guru, dosen, dokter, ASN, pengusaha, mahasiswa, ibu rumah tangga, buruh, atau apa saja—namun ketika Anda menulis, maka Anda adalah penulis. Ya, Anda adalah penulis.

POV “Sebagai Penulis”

Ketika Anda sebagai penulis, maka Anda akan melihat berbagai hal dalam sudut pandang sebagai penulis. Misalnya saat makan. Selain berdoa dan menikmati makanan, maka Anda bisa menulis tentang makanan tersebut. Baik cita rasanya, cara memasaknya, cara menikmatinya, kekhasannya, dan lain sebagainya. Anda telah makan “sebagai penulis”.

Ketika shalat, maka Anda harus melakukan dengan benar dan khusyu’, namun juga bisa menuliskan sesuatu. Anda bisa menulis tentang tata cara shalat, keutamaan shalat, makna bacaan shalat, atau tips agar bisa shalat dengan khusyu’. Anda juga bisa menulis tentang godaan serta gangguan dalam shalat. Dengan demikian Anda telah berbagi manfaat kepada masyarakat luas tentang shalat yang benar dan khusyu’, melalui tulisan.

Ketika membaca buku, hendaknya Anda membaca buku “sebagai penulis”. Maka Anda akan membaca cepat, karena tidak harus menyelesaikan seluruh isi buku. Anda membaca pada bagian yang Anda perlukan untuk rujukan atau kutipan. Anda bisa memilih bagian buku yang Anda perlukan sebagai referensi. Setelah membaca, Anda bisa menulis resensi buku tersebut, mengulas isinya, atau mengambil bagian tertentu sebagai rujukan.

Ketika menonton film, hendaknya Anda menonton “sebagai penulis”. Dengan demikian, Anda akan jeli mencermati adegan film, menyimak dialog, dan bisa membuat resensi. Anda bisa menulis resensi film tersebut, atau mengambil bagian dari adegan yang ada dalam film untuk menjadi bahan tulisan. Anda juga bisa mengabil cuplikan dialog dalam film tersebut sebagai bahan tulisan.

Ketika membaca atau menyimak berita di media, hendaknya Anda mengambil sudut pandang “sebagai penulis”. Berita yang barusan Anda dengar atau Anda baca, bisa menginspirasi untuk menuliskan sangat banyak hal. Dari satu berita, bisa menginspirasi menjadi cerpen, novel, puisi, opini, artikel atau esai. Berita yang sama, bisa diolah kembali menjadi beragam jenis tulisan sesuai keperluan.

Ketika mengobrol dengan kenalan baru di dalam kereta api atau bus malam, lakukan dengan sudut pandang “sebagai penulis”. Bahkan, ketika kita hanya sebagai pendengar pasif gara-gara ada orang mengobrol di dekat kita, yang –mau tidak mau—kita ikut mendengarkannya. Letakkan diri “sebagai penulis”, seperti yang pernah saya alami dalam sebuah penerbangan. Cerita saya ini bisa Anda simak di sini.

Ketika melakukan perjalanan, menikmati pemandangan, atau menikmati transportasi publik, miliki sudut pandang “sebagai penulis”. Saya merasa surprise saat menikmati kereta api ICE di Jerman, maka menjadi sebuah tulisan berkesan. Bisa Anda simak di sini. Saat berkesempatan mengunjungi pabrik pesawat Boeing di Seattle, saya menuliskan pengalaman berkesan itu dengan bahasa Jawa. Anda bisa menyimak di sini.

Melihat sesuatu, mendengar sesuatu, merasakan sesuatu, memikirkan sesuatu, mengalami sesuatu –semua bisa menjadi bahan tulisan. Syaratnya, miliki sudut pandang atau point of view sebagai penulis. Maka Anda tidak akan pernah kehabisan bahan untuk menulis sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan orang lain.

Suatu ketika saya mengunjungi rumah paman di Ponorogo, Jawa Timur. Rumah paman saya ini amat sangat sederhana –disebabkan status tanah yang tidak jelas. Hampir setiap tahun saya mengunjungi rumah paman untuk menjalin silaturahim. Saya tertarik dengan sebuah coretan yang ada di almari paman. Ditulis tangan, menggunakan cat. Tertulis “Sabar, Jujur, Mesem”.

Jika menggunakan point of view sebagai penulis, maka kita bisa menulis apa saja –segala sesuatu. Hanya karena membaca tulisan “sabar, jujur, mesem” –mesem artinya tersenyum—kita bisa membuat tulisan tentangnya. Hanya karena menemukan istilah yang unik, kita bisa mengolah menjadi tulisan.

Saat Anda memposting tulisan di medsos, kemudian ada komentar dari seorang netizen, Anda bisa menulis tentang komentar tersebut. Jika tulisan kedua Anda ini dikomentari lagi, Anda bisa membuat tulisan tentang komentar tersebut. Makin banyak d]komentar, makin sering dikomentari, makin banyak pula bahan tulisan Anda.

Nah, sekarang tolong angkat tangan tinggi-tinggi –biar saya lihat orangnya—siapa yang masih suka mengatakan menulis itu sulit? Siapa yang masih suka mengatakan, tidak mengerti akan menulis apa?

Tulislah tentang kesulitan-kesulitan menulis, jika Anda merasa sulit menulis. Tulislah tentang kebingungan menulis, jika Anda merasa bingung untuk menulis. Tulislah tentang kerumitan-kerumitan menulis, jika Anda merasa rumit menulis.

.

Gambar diambil dari : https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Point_of_view.jpg

 38 kali dilihat

5 Komentar

  • Khadijah Hasan

    Terima kasih Pak, pencerahannya. Sudah saya baca cerita perjalanan Bapak waktu di luar negeri, semua menambah wawasan saya. Namun ada yang membuat saya menggaruk kepala pada tulisan ketiga karena pakai bahasa Jawa. Sungguh menginpirasi!

    • Falasifah Ani Yuniarti

      Assalaamu’alaikum, alhamdulillah, mekaten njih, Pak.
      Jadi, saat memandang sesuatu, pandanglah sebagai penulis. Artinya semua-semua bisa sebagai bahan tulisan.
      Seperti halnya sebagai ibu, akan melihat anak kecil sebagai anak2nya yang perlu dilindungi, perlu diarahkan, diasihi. Dsb.

      Nuwun, Pak Cah. Jazakallahu khair

  • Fria nella

    Menjadi larut atau melebur dengan suasana yang ditemui jadi sumber kekuatan tersendiri, untuk bertekad bisa atau mencoba sesuatu hal baru yang punya energi positif.

    Jazakallahu khairan katsiro pak Cah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *