Motivasi Menulis

Selalu Ada Alasan untuk Terus Menulis

Oleh : Cahyadi Takariawan

Mengapa saya senang menulis, dan mengapa saya terus menulis? Terlalu banyak alasan untuk disebutkan. Pada kesempatan kali ini, saya menyebutkan beberapa poin yang membuat saya tidak pernah lelah juga tidak pernah bosan untuk menulis. Alasan yang membuat saya selalu memiliki energi untuk menulis.

Kadang saya menulis hingga larut malam. Pernah saya menulis sejak bakda Isya hingga Subuh. Kadang saya menulis bakda Subuh. Kadang saya menulis bakda Duhur. Kadang saya menulis di perjalanan kereta api. Kadang saya menulis dalam suatu antrian. Selalu ada energi bagi saya untuk menulis, dan tidak pernah kekurangan alasan untuk terus menulis.

Pertama, bagi saya, menulis adalah dunia tanpa batas. Ekspresi yang sangat bebas bisa saya tuangkan dalam bentuk tulisan, untuk berbagai macam maksud dan tujuan. Tentu saya memilih tujuan yang positif, dan menghindari tujuan yang negatif. Saya bisa mengekspresikan perasaan, pemikiran, kegelisahan, kekaguman, keinginan, harapan, cita-cita, dan apa saja —-melalui tulisan.

Kedua, saya meyakini, “profesi” menulis tidak pernah ada matinya. Industri apapun bisa bangkrut dan mati —termasuk industri penerbitan dan percetakan— namun tidak untuk “industri” tulis menulis. Ia akan tetap ada dan tetap hidup. Perintah pertama dalam Al Qur’an adalah Iqra’ —yaitu membaca. Berarti perlu ada tulisan —dalam makna hakiki maupun makna majazi. Pada dasarnya, dunia ini tak bisa dipisahkan dari tulisan.

Ketiga, saya merasakan dan mendapatkan banyak manfaat dari menulis. Bukan sekedar teori, bahwa menulis itu menyehatkan dan membahagiakan, ini benar-benar saya rasakan kehadirannya dalam diri saya. Benar-benar sehat dan bahagia, dengan banyak menulis. Saat sedih, saya menulis, maka hilanglah kesedihan menjadi kebahagiaan. Saat susah, saya menulis, maka hilanglah kesusahan berganti keceriaan. Menulis menyehatkan jasmani dan ruhani saya.

Keempat, menulis juga terapi. Pada contoh kecemasan dan depresi, bisa dihilangkan dengan terapi menulis. Sudah banyak kalangan yang memadukan healing dengan writing —proses menulis yang sekaligus terapi. Tekanan yang demikian berat bisa berkurang bahkan hilang dengan menuliskan hal-hal yang membuat tekanan tersebut. Perasaan saya lebih nyaman saat menuliskan hal-hal yang menjadi beban —minimal saya sudah menuliskan, ia menjadi katarsis.

Kelima, saya menemukan, menulis adalah media dakwah yang efektif. Ada banyak muatan dakwah yang bisa saya sampaikan melalui tulisan, dan bisa menjangkau banyak kalangan yang tak mungkin saya jangkau jika harus mendatangi mereka secara langsung. Tulisan dakwah juga bisa dibaca berulang-ulang, hingga membentuk kepahaman dan pengetahuan yang melekat. Berbeda jika dakwah hanya disampaikan secara lisan, sekali mendengar ceramah belum tentu masyarakat bisa mengingat. 

Keenam, menulis mampu mengoptimalkan berbagai potensi diri. Akal kita selalu terasah, hati kita selalu terbuka, jiwa kita selalu peduli, karena menulis. Pengetahuan selalu bertambah, pikiran menjadi sistematis dan logis, karena terbiasa membuat sistematika tulisan. Waktu saya menjadi efektif karena terbiasa menulis di setiap saat dan setiap tempat. Tak ada waktu yang sia-sia, semua bisa teroptimalkan dengan aktivitas menulis.

Ketujuh, menulis adalah proses merekam sejarah dan jejak perjalanan serta kehidupan. Ada banyak pengalaman serta catatan dalam kehidupan kita, yang bisa memberikan pengaruh kebaikan bagi orang lain. Kisah-kisah ulama dan orang-orang salih zaman dulu yang kita baca hingga hari ini, tetap mencerahkan dan tidak lekang oleh zaman.  

Kedelapan, menulis itu mengkristalkan hikmah. Sangat banyak hikmah bisa kita dapatkan dalam setiap peristiwa kehidupan, alangkah sayang jika tidak diabadikan dalam bentuk tulisan. Berbagai hikmah bisa hilang begitu saja jika tidak direkam, dan salah satu cara merekam hikmah adalah dengan menuliskannya. Inilah yang sering disebut sebagai mengikat makna.

Kesembilan, saya telah merasakan, bahwa menulis adalah jendela untuk melihat dunia. Melalui karya tulis, kita bisa berkeliling ke berbagai negara di dunia. Bukan hanya tulisan kita yang sampai ke berbagai pelosok dunia, namun kita sebagai penulisnya, juga bisa melawat ke berbagai negara. Kita bisa mengunjungi banyak negara dan pelosok dunia, lewat karya tulis kita.

Kesepuluh, menulis adalah energi perbaikan diri. Menulis hal positif, memaksa diri kita untuk selalu berusaha menjadi positif. Menulis telah mengubah penulisnya —sesuai irama tulisan yang dibuatnya. Seseorang bisa menjadi romantis karena banyak menulis hal-hal romantis. Seseorang bisa memiliki akhlak mulia karena rutin menulis tema akhlak mulia. Tulisan kita, adalah jati diri kita. Tulisan kita, mengubah kehidupan kita —-sebelum akhirnya mengubah dunia.

Sangat banyak alasan dan tujuan menulis. Sepuluh hal itu saja sudah sangat menyemangati dan memotivasi saya untuk terus menerus menulis, dimanapun saya berada.

Bagaimana dengan Anda?

 2 kali dilihat

6 Komentar

  • Moh. Amin

    Terima kasih atas tulisannya. Saya menjadi semangat kembali untuk belajar menulis. Mudah-mudahan saya bisa mengelola waktu sehingga saya bisa mengekspresikan isi hati lewat tulisan.

    • Zakaria

      Masya Allah..saya bisa paham bahwa ketika kita menulis sebenarnya kita sedang mempersiapkan diri untuk dibaca oleh orang dan generasi setelah kita. Dan menulis positif juga berarti kita sedang membuat catatan baik untuk akhirat kita..Karena tidaklah satu huruf pun yang kita tulis melainkan malaikat juga akan menulis dan merekam dalam catatan amal kita.
      Sungguh aku sangat termotivasi untuk menulis segala kebaikan dalam lembaran amal yang membahagiakan ku dihari nantinya.
      Jazakallahu khaira atas motivasi pak Cah .
      Itu perasaan ku setelah membaca tulisan pak Cah. Bagaimana dengan yang lainnya?

  • adjisoegiatno

    Saya kok masih meyakini kalau menulis juga ada unsur berbakat dan hobbynya ya? Kalau Pak Cah diminta di lapangaj bola dari pagi sampai sore untuk mengikuti kompetisi antar sekolah sepak bola. Bukan untuk menulis persepak bolaannya rasanya juga nggak betah. Beda yang bakat atau hobby sepak bola, nungguin pertandingan berikutny walau dibawah terik sinar matahari jam 11.00, jam 13.00, jam 14.00 dalah kenikmatan tersendiri apalagi kalau nenang.

  • Marwiadi

    Menulis Ternyata Luar Biasa
    Uraian Pak Cah diatas adalah bukti penting dan banyaknya sumber inspirasi serta alasan untuk terus menulis. Menulis apa saja, tentu dengan niat dan tujuan yang sudah kita tentukan.
    Di akhir tulisan ada sebuah pertanyaan yang sederhana dan lazim ditanyakan bagi setiap kita para pembaca, “Bagaimana dengan Anda?”
    Ya dan amin, begitu jawaban yang terpikir di otak saya melintas namun tidak mampu terucap. Ya .. karena sangat setuju dan tak mungkin membantah akan isi dan pesan tulisan yang saya baca. Amin, karena itu baru sebatas harapan dalam doa yang ingin saya panjatkan untuk sebuah keberanian terus menulis.
    Ya, adalah awal tanda sepakat dan amin merupakan kesungguhan dalam mengharap, maka saya mengijinkan diri ini untuk berani mengisi kolom komentar ini dengan sebuah tulisan yang membuktikan bahwa menulis itu benar-benar sangat banyak alasannya.
    Setidaknya dengan menulis ini saya sudah berani melawan rasa takut ini. Kekawatiran saya akan kehabisan kata-kata ternyata hantu yang sebenarnya tidak pernah ada. Tuliskan ini juga membuktikan bahwa menulis bukan profesi yang diperuntukkan untuk orang-orang tertentu saja.
    Semua yang bisa menulis adalah penulis ..
    Sebuah prinsip yang tidak akan pernah lekang oleh masa. Berlaku bagi semua orang-orang hebat yang tentu saja saya adalah salah satu bagian di dalamnya.
    Semoga ..
    Salam hangat,
    Marwiadi
    Peserta Kelas Karya / Antologi Batch 6

  • Lukman Faruq

    Benar sekali Pak Cah, banyak sekali alasan untuk menulis. Jujur saya sangat terinspirasi dengan alasan yang Pak Cah kemukakan. Tapi jujur pula saya kemukakan, bahwa kurangnya konsistensi pribadi saya untuk menyisihkan waktu buat menulis kendala utama yang saya hadapi. Terimakasih Pak Cah, atas semua ilmu dan pengetahuan yang diberikan cukup membawa emosi saya untuk berusaha menyisihkan waktu menulis dan terus menulis…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *