Motivasi Menulis

Sepenting Apa Menulis Bagimu?

Oleh : Cahyadi Takariawan

When you say you don’t have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing — Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.

*************

Kamu bilang, pengen bisa menulis. Lalu kamu katakan, tak punya waktu. Jadi sebenarnya, sepenting apakah menulis bagimu? Kamu bilang, pengen belajar menulis. Lalu kamu katakan, tak punya mood. Jadi sebenarnya, sepenting apakah menulis bagimu? Kamu bilang, pengen lancar menulis. Lalu kamu katakan, tak punya ide. Jadi sebenarnya, sepenting apakah menulis bagimu?

Kamu bilang, pengen pintar menulis. Lalu kamu katakan, tak punya kesempatan. Jadi sebenarnya, sepenting apakah menulis bagimu? Kamu bilang, pengen produktif menulis. Lalu kamu katakan, sangat banyak urusanku. Jadi sebenarnya, sepenting apakah menulis bagimu?

Kamu bilang, pengen membuat buku. Lalu kamu katakan, saya sibuk sekali. Jadi sebenarnya, sepenting apakah buku bagimu? Kamu bilang, harus punya buku sendiri. Lalu kamu katakan, agendaku padat sekali. Jadi sebenarnya, sepenting apakah buku bagimu?

Bagaimana Kamu Bisa Menulis, Jika Itu Tak Penting Bagimu?

Jika menulis itu tidak penting bagimu —meskipun kamu punya banyak waktu, tak akan kamu menulis sesuatu. Jika menulis itu tidak penting bagimu —meskipun kamu punya banyak kesempatan, tak akan kamu gunakan. Jika menulis itu tidak penting bagimu —meskipun kamu punya banyak sumber daya, tak akan kamu menulis satupun kata. Jika menulis itu tidak penting bagimu —meskipun kamu punya banyak tenaga, tak akan kamu menulis satupun tema.

“When you say you don’t have the time, what you are really saying is: Something else is more important right now than writing,” ujar Victoria Lynn Schmidt, Ph.D.

Inilah yang sesungguhnya terjadi. Jika kamu mengatakan bahwa kamu tidak punya waktu, sesungguhnya kamu sedang mengatakan “Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting daripada menulis”. Jika kamu mengatakan bahwa kamu tidak punya kesempatan, sesungguhnya kamu sedang mengatakan “Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting untuk aku kerjakan”. Jika kamu mengatakan bahwa kamu sangat sibuk dan banyak kegiatan, sesungguhnya kamu sedang mengatakan “Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting untuk aku prioritaskan”.

Perhatikan fenomena kerja di kantor. Seseorang bangun pagi-pagi, berkemas, berangkat dari rumah, berharap bisa tiba di tempat kerja tepat waktu. Berharap ia tidak pernah terlambat masuk kerja, apalagi sampai bolos. Mengapa dilakukan dengan demikian bersungguh-sungguh? Karena ia menganggap, kerja di kantornya adalah sangat penting. Apalagi ketika ia memiliki posisi di kantor tempat mengabdi, ia menganggp posisinya itu sangat berarti.

Maka ia sanggup mengalahkan segala kemalasan dan segala aral rintangan. Ia sanggup menyingkirkan berbagai alasan. Apapun yang terjadi, aku tetap harus berangkat kerja pagi-pagi. Mungkin di rumah tengah ada keributan, mungkin di rumah tengah ada yang sakit, namun ia tetap berangkat kerja dan tidak ingin terlambat barang sedetik pun. Begitu penting nilai kerja baginya, maka ia tak pernah absen, tak pernah melalaikan.

Perhatikan fenomena pertandingan sepakbola. Para pecandu sepakbola rela membayar mahal untuk membeli tiket pertandingan klub yang didukungnya. Sangat penting baginya untuk menyaksikan langsung, dan tidak terlambat datang. Sebagian lainnya, karena tidak punya uang, mereka menyaksikan siaran live di televisi, dan tak beranjak dari depan televisi sebelum pertandingan usai. Mereka bersorak sorai saat klub yang didukung berhasil memasukkan bola ke gawang lawan.

Kendati terdengar adzan, mereka rela menunda shalat demi menyaksikan klub kesayangan. Kendati harus mengantuk begadang, sementara besok harus masuk kerja, tetap setia menyaksikan pertandingan sampai akhir. Kopi, coklat, kacang, aneka camilan, menemani agar tetap bisa melek berkonsentrasi. Mengapa itu bisa terjadi? Sepak bola, begitu penting bagi dirinya. Membersamai dan memberi support klub kesayangan, sangat bermakna baginya.

Apa yang saya lakukan saat teman-teman asyik nonton bareng pertandingan sepak bola dunia? Saya temani mereka —sambil menulis di laptop. Saat mereka berteriak-teriak dan bertepuk tangan, saya ikut menemani mereka dalam tepuk tangan yang sangat meriah. Usai tepuk tangan, saya kembali menulis lagi. Saya bisa menghasilkan sangat banyak tulisan, sambil menemani teman-teman nonton bareng sepak bola. Nanti usai nonton bareng, semua pulang membawa kepuasan menyaksikan pertandingan, saya pulang membawa banyak tulisan.

Mengapa bisa terjadi pemandangan yang sangat berbeda seperti ini? Mengapa teman-teman memilih menyaksikan live pertandingan sepak bola, dan mengapa saya memilih menulis? Semua kembali kepada definisi, apa yang penting bagi hidup kita. Apa yang bermakna bagi hidup kita. Apa yang berarti bagi hidup kita. Ketika teman-teman menganggap menyaksikan pertandingan sepak bola dunia adalah penting —semua kendala akan mereka atasi. Semua konsekuensi akan mereka jalani.

Bagi saya, menyaksikan live pertandingan sepak bola tidak penting. Maka saya tidak akan mengalokasikan waktu untuk menyaksikannya. Bagi teman-teman saya, menulis itu tidak penting, maka mereka tidak akan mengalokasikan sedikit pun waktu untuk melakukannya.

Apakah saya salah ketika menganggap bahwa menyaksikan live pertandingan sepak bola itu tidak penting? Tentu saja tidak salah. Masing-masing memiliki definisi yang berbeda atas apa yang penting dan tidak penting dalam kehidupan kita. Demikian pula, apakah salah ketika teman-teman saya menganggap bahwa menulis itu tidak penting? Tentu saja tidak salah. Masing-masing kita memiliki definisi yang berbeda atas apa yang penting dan tidak penting dalam kehidupan.

Buku Wonderful Series

Jangan Salahkan Diri Kamu untuk Tidak Menulis

Maka jangan salahkan diri kamu untuk tidak pernah menulis, jika menulis itu tidak penting bagi kamu. Jangan salahkan diri kamu untuk tidak mengikuti komunitas penulis, jika menulis itu tidak penting bagi kamu. Jangan salahkan diri kamu untuk tidak pernah membuat buku, jika buku itu tidak penting bagi kamu.

“Are all these other tasks you’re completing, all of them, more important to you than writing? If so, then stop beating yourself up about not writing and put this book down”, ujar Victoria Lynn-Schmidt. Jika semua aktivitas lain yang kamu lakukan menurut kamu lebih penting daripada menulis, maka berhentilah menyalahkan diri sendiri tentang tidak menulis, dan berhentilah menyalahkan diri sendiri bahwa kamu tidak pernah membuat buku seumur hidupmu.

Maka menjadi sangat penting untuk selalu bertanya, seberapa penting menulis bagimu? Seberapa besar makna menulis dalam kehidupanmu? Apa arti menulis untuk mengisi hari-harimu? Saat kamu menetapkan menulis itu tidak penting, maka jangan berobsesi menjadi penulis, dan jangan berobsesi untuk bisa produktif menghasilkan karya tulis. Lakukan hal-hal lain, dan fokuslah pada hal-hal yang menurut kamu lebih penting.

Namun begitu kamu telah memberikan makna yang besar bagi aktivitas menulis, maka alokasikan waktu untuk melakukannya, dan jangan lagi menyebut daftar alasan berikut ini:

  1. Aku sangat sibuk
  2. Aku tak punya waktu
  3. Sangat banyak agendaku
  4. Pekerjaanku sangat padat dan berat
  5. Acaraku sambung bersambung
  6. Tugasku menumpuk
  7. Kucingku perlu kasih sayang
  8. Anggrek depan rumahku harus disiram selalu
  9. Chatting di grup alumni sangat mengasyikkan
  10. Aku bukan pengangguran

Teganya kamu menuduh penulis sebagai pengangguran. Teganya kamu menuduh penulis sebagai orang kurang kerjaan. Hehehe, bercanda. Maka pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu adalah, seberapa penting menulis bagimu?

Mengapa Menulis Harus Selalu Mengalah dalam Rutinitasmu?

Jika memang kamu menganggap menulis sebagai aktivitas yang penting, mengapa menulis harus selalu mengalah? Menulis harus mengalah saat ada chat di grup whatsapp lalu kamu tinggalkan menulismu. Menulis harus mengalah saat ada ajakan jalan-jalan ke mal, lalu kamu tinggalkan begitu saja laptopmu. Menulis harus mengalah saat ada drama di televisi lalu kamu sia-siakan naskahmu.

Andai menulis bisa menyanyikan kesedihan hatinya, ia akan melantunkan lagu lama Seventeen berikut ini.

Menulis : Harus Selalu Mengalah

By : Seventeen

Jelaskan padaku isi hatimu

Seberapa besar kau yakin padaku

Untuk tetap bisa bertahan denganku

Menjaga cinta ini

Pertengkaran yang terjadi

Seperti semua salahku

Mengapa selalu aku yang mengalah

Tak pernahkah kau berpikir

Sedikit tentang hatiku


Mengapa ‘ku yang harus selalu mengalah

Pantaskah hatiku

Masih bisa bersamamu

Jelaskan padaku isi hatimu

Seberapa besar kau yakin padaku

Untuk tetap bisa bertahan denganku

Menjaga cinta ini

Ooo ooh

Ooo ooh….

Simak lagi lagunya yuuukk…..

Coba jawab dulu pertanyaan dari menulis berikut ini, “Mengapa selalu aku yang mengalah, tak pernahkah kau berpikir, sedikit tentang hatiku?” Ya, mengapa bukan aktivitas lainnya yang mengalah? Mengapa selalu menulis yang harus mengalah?

Jelaskan padaku.

 8 kali dilihat

17 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *