Motivasi Menulis

Tulislah Kebaikan, Maka Amalmu Terabadikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Kasihani dirimu, jika menulis hanya untuk berbangga-bangga. “Menulis, kemudian mempublikasikannya secara massal, harus dengan sebuah idealisme. Bahwa tulisan itu membawa banyak perubahan bagi hidup orang lain. Harus ada kebaikan di dalamnya. Bukan hanya sekedar menjual kertas, tinta, dan lem, kemudian merasa bangga hanya karenanya.”  — Nadia Aghnia Fadhillah.

Maka menulislah, disertai kebaikan niat dan kebaikan isi tulisan. Menulislah, karena sangat banyak hal yang tak bisa diketahui orang lain kecuali dengan menuliskannya. “Aku menulis puisi: karena kesedihan tidak bisa menuliskan dirinya sendiri; karena petaka tidak bisa mengabarkan gaduhnya sendiri.” — Lenang Manggala.

Satu – Menulis untuk Menebar Manfaat

Menulis itu menciptakan kemanfaatan yang luas. Manfaat bagi diri sendiri, manfaat bagi orang-orang terdekat, dan manfaat bagi masyarakat, bahkan bagi dunia dan akhirat. Dengan semakin banyak manfaat, membuat kita menjadi manusia yang paling dicintai Allah.

“Manusia yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang banyak memberikan kemanfaatan bagi orang lain.” — HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir.

Dua – Menulis untuk Mengajak kepada Kebaikan

Menulislah untuk mengajak diri sendiri dan orang lain melakukan kebaikan. Jika ada satu orang saja melakukan kebaikan karena ajakan dalam tulisan kita, maka pahalanya sampai juga kepada kita. Bagaimana jika ada sepuluh, seratus, seribu orang yang terinspirasi kebaikan? Betapa banyak pahala kita.

“Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” — HR. Muslim.

Tiga – Menulis untuk Memperpanjang Amal Kebaikan

Semua manusia, umurnya terbatas. Namun kita bisa memperpanjang amal kebaikan dengan menulis hal-hal baik.

“Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak.” — Helvy Tiana Rosa.

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi” – Helvy Tiana Rosa.

Generasi saat ini tidak pernah bertemu Buya Hamka, seorang ulama kharismatik di Indonesia. Beliau wafat tahun 1981. Namun karena beliau menulis sangat banyak karya, maka nilai amal beliau tetap menjumpai generasi hari ini. Padahal beliau telah wafat 39 tahun silam,

“Tulisan kita tak akan mati, bahkan bila kita mati.”  — Helvy Tiana Rosa.

Empat – Menulis untuk Menciptakan Amal Jariyah

Amal jariyah adalah amal yang pahalanya tidak terputus, meskipun pelakunya sudah meninggal dunia. Maka menulislah untuk menciptakan amal jariyah. Selama tulisan itu masih bermanfaat, maka pahalanya terus mengalir meskipun penulisnya sudah meninggal dunia.

Bagi umat muslim, kita tidak pernah bertemu orang salih bernama Ibnu Katsir (wafat 1373 M). Namun karena beliau menulis kitab tafsir, maka amal beliau menemui umat muslim di seluruh dunia. Padahal beliau telah wafat 647 tahun lalu. Masyaallah, betapa banyak pahala terkirim terus menerus sepanjang 647 tahun itu ke catatan kebaikan  beliau.

“Menulis adalah jembatan yang paling mudah menjadikan suatu amal (perbuatan) menjadi amal jariyah.”  — Toni Al-Munawwar.

Lima – Menulis Kebaikan

Tulislah kebaikan. Tulislah yang baik-baik. Bahkan ketika Anda tengah melepaskan emosi negatif, tetaplah menulis kebaikan. Jangan izinkan emosi negative menguasai diri Anda saat menulis.

“Tulisan itu rekam jejak. Sekali dipublikasikan, tak akan bisa kau tarik. Tulislah hal-hal berarti yang tak akan pernah kau sesali kemudian.” – Helvy Tiana Rosa

“Berbicaralah dan menulislah hal yang baik-baik dan bermanfaat. Jangan sekali-kali kamu menyakiti perasaan orang lain.”  — Amiruddin Sani Lubis

Enam – Menulislah dengan Sepenuh Penghayatan

Jika ingin amal menulis Anda terabadikan, lakukan dengan penuh penghayatan. “Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.” — Seno  Gumira Ajidarma.

“Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan napas hidupnya”. – Stephen King.

Tujuh – Menulis Penuh Makna

Ciptakan makna di setiap tulisan Anda. Bagi diri sendiri, orang-orang terdekat, dan khalayak luas. “Harus ada kebaikan di dalamnya. Bukan hanya sekedar menjual kertas, tinta, dan lem, kemudian merasa bangga hanya karenanya.”  — Nadia Aghnia Fadhillah.

Bahan Bacaan

Good Reads, Menulis Quotes, www.goodreads.com

Ilustrasi : https://inspiremykids.com

 24 kali dilihat

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *